Hilangkan Kebiasaan Meng’kretek’kan Leher, Bahaya bagi Kesehatan

0

JAKARTA (Suara Karya): Kebiasaan meng”kretek” leher agar rasa pegel di leher hilang, ternyata berbahaya bagi kesehatan. Tindakan itu bisa membuat bantalan tulang dalam leher bisa bocor, lalu menjepit saraf di sekitar. Efeknya bisa berupa nyeri, kesemutan dan rasa lemah sepanjang lengan dan tangan.

“Meng-kretek-kan leher itu memang enak. Tapi hal itu tak boleh jadi kebiasaan, apalagi pada orang berusia diatas 30 tahun yang mana bantalan tulang di lehernya sudah mulai aus,” kata dokter spesialis tulang, Rumah Sakit Siloam Kebon Jeruk, Phedy dalam diskusi seputar gangguan nyeri leher, di Jakarta, Jumat (26/10/2018).

Ia mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan leher. Jangan bebani leher secara berlebihan. Misalkan, aktivitas menunduk terus menerus saat bermain gadget atau komputer. Bagi kaum muda, hal itu tak berdampak, karena bantalan tulang masih bagus. Tetapi pada mereka yang berusia diatas 30 tahun bisa berbahaya.

“Akibat tindakan yang berulang, bantalan tulang bisa aus. Karena itu penting bagi mereka yang berusia diatas 30 tahun untuk mengurangi beban kerja leher. Jangan menunduk terlalu lama, hindari gerakan yang bisa menimbulkan trauma seperti mengkretek-kan leher atau mengangkat sesuatu yang membebani leher,” ujarnya.

Menurut Phedy, rasa tidak nyaman akibat jepitan saraf leher atau cervical disc herniation ini biasanya ditanggapi santai. Dalihnya, cukup diurut nanti juga hilang. Padahal itu merupajan ‘alarm’ dari tubuh bahwa ada yang tidak beres. Begitu mulai nyeri berkepanjangan, baru berobat ke dokter.

Dokter Phedy menambahkan, pihaknya sering menangani pasien yang awalnya diduga terkena stroke ringan. Namun, setelah menjalani pemeriksaan dengan MRI (Magneting Resonance Imaging), ternyata ada penjepitan pada saraf lehernya.

“Ada beberapa gejalanya mirip stroke, seperti kesemutan atau rasa lemah pada tangan dan lengan. Jika penjepitan terjadi di tengah saraf leher, pasien bahkan bisa hilang keseimbangan, kaku saat berjalan, rasa lemah pada tungkai hingga lumpuh,” ujarnya.

Ditanya apakah memijat di leher juga berbahaya, Phedy menegaskan, hal itu tidak bermasalah. Karena pijatan hanya terjadi di permukaan, sedangkan bantalan tersimpan dalam tulang. Namun, pemijat kadang suka meng’kretek’an leher agar proses pemijatannya menjadi paripurna.

“Tindakan menghentak itu bisa menimbulkan trauma pada leher. Jika leher pegal, bisa dilakukan sendiri dengan memutar-mutarkan leher dengan lembut dan perlahan. Bukan macam dipelintir seperti itu,” ucap Phedy menegaskan.

Upaya yang bisa dilakukan untuk kesehatan leher, menurut Phedy, hindari tindakan atau kegiatan yang membebani leher secara terus menerus. Biasakan menggerakan leher sedikit saja setiap 30 menit.

“Jangan terus menerus mengetik. Setelah 30 menit, coba menengok ke kiri pelan, lalu kembali kerja. Setelah 30 menit menengok ke kanan. Jangan berlaku terus menerus,” ujarnya.

Pengobatan yang bisa dilakukan untuk mengatasi jepitan saraf leher, disebutkan bervariasi mulai dari obat-obatan, fisioterapi hingga operasi, tergantung pada tingkat keparahan penyakitnya.

Berkat teknologi kedokteran yang makin canggih, lanjut Phedy, masalah jepitan saraf leher bisa ditangani dengan cepat. Bahkan cukup dengan sayatan kecil. Pasien hanya perlu pemulihan di rumah sakit selama 1 hari, setelah itu boleh pulang.

“Operasi dengan teknik percutaneous endoscopic cervical discectomy (PECD) telah banyak dilakukan pasien jepitan saraf leher di rumah sakit Siloam Kebon Jeruk. Operasi ringan, dengan luka sayatan hanya 0,5 cm,” katanya.

Ditambahkan, bantalan yang menekan saraf diambil lalu digantikan dengan tulang atau bantalan sintetik. Leher tidak kehilangan fungsi geraknya. Pasien akan merasa kembali sehat seperti semula.

“Risiko kegagalan operasi sangat rendah. Pendarahan selama operasi umumnya kurang dari 50 cc dan lama operasi sekitar 45-90 menit. Setelah masa pemulihan 1 hari, pasien sudah boleh pulang,” kata Phedy menandaskan. (Tri Wahyuni)