Himpaudi: Anak Harus Dikenalkan Antikorupsi Sejak Dini

0

JAKARTA (Suara Karya): Upaya pencegahan korupsi pada anak seharusnya dilakukan sejak usia dini. Karena setiap anak lahir dengan potensi jujur, namun apa yang didengar, dilihat dan dialami akan tersimpan di memori otaknya.

Pernyataan tersebut disampaikan Netti disela peluncuran buku ’30 Praktik Baik Pencegahan Korupsi di Jenjang PAUD’ dan seminar bertajuk PAUD Fondasi Pencegahan Korupsi di Indonesia.

Acara tersebut dihadiri 30 finalis Apresiasi Pendidik Pejuang PAUD Manjur dari berbagai wilayah di Indonesia, serta 250 peserta ketua Himpaudi provinsi, kabupaten/kota, kecamatan dari wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Sulawesi Tenggara, Yogyakarta, dan Lampung.

Netti menambahkan, tingginya korupsi dan budaya ketidakjujuran tergantung pada pendidikan yang memberi ‘learning’ dan pembiasaan. Semua itu menjadi memori yang mendasari perilaku korupsi atau tidak saat tumbuh dewasa.

“Orang dewasa tumbuh dan berkembang lewat learning dan memori sejak usia dini, sehingga kami yakin PAUD bisa menjadi fondasi pencegahan antikorupsi,” ucap Netti.

Dengan demikian, lanjut Netti, peran guru sangat vital dalam tahap tersebut. Menurutnya, PAUD berkualitas harus memiliki guru yang profesional untuk mengembangkan nilai kejujuran.

“Ada banyak tugas guru PAUD, mengembangkan semua nilai karakter di antaranya nilai jujur. Tak hanya itu, guru PAUD juga diamanahkan mewujudkan anak bergizi baik dan sehat,” ujarnya.

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim dalam sambutannya mengatakan, salah satu dasar pendidikan karakter adalah kejujuran.

Karena itu, Kurikulum Merdeka memasukkan karakter sebagai hal yang tidak terpisahkan dari pembelajaran di kelas.

“Semakin dini kita melakukan pendidikan antikorupsi, semakin baik bagi Indonesia. Pendidikan karakter harus berbasis project sehingga nilai jujur itu dapat dikembangkan secara nyata,” ucap Nadiem.

Dengan kejujuran, lanjut Nadiem, peserta didik akan tumbuh menjadi Pelajar Pancasila yang cerdas serta berkarakter. Mereka juga akan menerapkan nilai jujur untuk kehidupan sehari-hari.

“Upaya itu tak akan berhasil jika dilakukan hanya guru di PAUD, harus didukung bersama orangtua di rumah,” kata Nadiem menegaskan.

Hadir pula dalam acara itu, Ketua Dewan Pembina Himpaudi Pusat Fasli Jalal, Kepala Perpustakaan Nasional yang diwakili Kepala Pusat Jasa Informasi, dan Ketua KPK diwakili Direktur Jejaring Pendidikan KPK.

Di akhir acara, Ketua Umum Himpaudi memberi penghargaan kepada Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim atas dedikasinya dalam memahami diskriminasi terhadap tenaga pendidik PAUD selama 17 tahun, yang diperbaiki melalui RUU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). (Tri Wahyuni)