HUT Ke-56 Yayasan Trisakti, Targetkan Penyelesaian Konflik Usakti

0

JAKARTA (Suara Karya): Ketua Pengurus Yayasan Trisakti, Mayjen (Purn) Dr Bimo Prakoso menargetkan penyelesaian konflik di Universitas Trisakti pada 2022. Upaya itu akan dilakukan dengan mengedepankan komunikasi, tak lagi menggunakan pendekatan kekerasan seperti di masa lalu.

“Konflik Usakti sudah berlangsung 20 tahun lebih, mari kita sudahi. Kita gunakan pendekatan komunikasi, agar konflik bisa selesai pada 2022 ini,” kata Bimo dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-56 Yayasan Trisakti, di Kampus Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Trisakti, Tanah Kusir Jakarta, Kamis (3/2/22).

Hadir dalam kesempatan itu, Ketua Dewan Pembina Yayasan Trisakti, Harry Tjan Silalahi, Ketua Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah III DKI Jakarta, Paristiyanti Nurwardani, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Agum Gumelar, serta 6 pimpinan perguruan tinggi dibawah Yayasan Trisakti.

Hadir secara daring, Pelaksana tugas (Plt) Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Ditjen Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi (Diktiristek), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek), Kiki Yuliati.

Bimo menyebut, Yayasan Trisakti telah mengeluarkan dana miliaran rupiah untuk penyelesaian konflik Usakti dalam 8 tahun. Dana tersebut akan bermanfaat jika digunakan untuk hal positif seperti beasiswa kuliah S2 dan S3 bagi dosen untuk memperkuat kompetensi SDM di Usakti.

“Masa lalu biarlah berlalu. Karena kekerasan tidak bisa menyelesaikan masalah, mari kita gunakan pendekatan komunikasi. Kini saatnya Usakti meningkatkan lagi kualitas yang sempat turun, lantaran konflik yang berlarut-larut. Mari kita rebut kembali prestasi itu, agar bisa bersaing secara nasional, maupun internasional,” ucapnya.

Hal senada juga dikemukakan pendiri yang juga Ketua Dewan Pembina Yayasan Trisakti, Harry Tjan Silalahi. Ia mengurai sejarah terciptanya Yayasan Trisakti yang mendapat dukungan dana pemerintah dalam membangun Universitas Trisakti untuk mencerdaskan anak bangsa.

“Yayasan Trisakti membangun Usakti sejak awal berdiri, hingga kini berhasil mengembangkan 6 perguruan tinggi lainnya. Semua itu dilakukan dengan kerja keras, bukan diberi. Karena itu, kami minta agar perguruan tinggi dibawah Yayasan Trisakti bisa bersatu membangun negeri,” kata Tjan menegaskan.

Dukungan terhadap Yayasan Trisakti juga disampaikan Anggota Wantimpres, Jendral (Purn) Agum Gumelar. Katanya, tidak semua konflik harus diselesaikan lewat kekerasan. Ia menceritakan dua
pengalaman menarik saat menjabat sebagai Menteri Pertahanan pada periode Presiden Abdurrahman Wahid.

Sementara itu, Kepala LLDikti Wilayah III Paristiyanti Nurwardani juga berharap konflik di Usakti bisa diselesaikan dengan segera. Sehingga Yayasan Trisakti punya energi untuk mengembangkan 6 perguruan tinggi dibawahnya menjadi lebih baik dalam persiapan sumber daya manusia (SDM) untuk Indonesia maju.

“Saya lihat di Pangkalan Data Dikti, ada 32.822 mahasiswa di 6 kampus dibawah kelola Yayasan Trisakti. Mereka akan menjadi SDM yang akan membantu pemerintah dalam meningkatkan perekonomian nasional pascapandemi,” ucap Paris.

Ia mengaku kagum atas upaya yang dilakukan salah satu perguruan tinggi milik Yayasan Trisakti, dimana 93 persen lulusannya terserap di dunia kerja dan dunia industri. Hal itu diharapkan dapat menjadi inspirator bagi perguruan tinggi lain untuk melakukan penyesuaian pada kurikulum dengan industri dan dunia kerja.

“Saya berharap Yayasan Trisakti bisa menjadi pelopor dalam pengembangan perguruan tinggi bermutu di Indonesia. Sehingga usia Yayasan Trisakti tak hanya puluhan tahun, tetapi mencapai usia ratusan tahun,” kata Paris.

Plt Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Ditjen Diktiristek, Kiki Yuliati memaparkan Profil Pelajar Pancasila yang diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan sumber daya manusia di perguruan tinggi.

Profil Pelajar Pancasila memiliki enam ciri utama, yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif. Perguruan tinggi diharapkan mengadopsi Profil Pelajar Pancasila sebagai landasan model pembelajaran dan evaluasi.

Penetapan pendidikan Pancasila sebagai landasan pembelajaran di perguruan tinggi, menurut Kiki, sangat kontekstual dengan adat istiadat dan berbagai kebiasaan, kepercayaan agama yang di anut masyarakat. Sehingga lulusan perguruan tinggi tidak tercerabut akarnya dari budaya yang ada di daerahnya. (Tri Wahyuni)