Ibu Menyusui Positif Covid-19 Wajib Beri ASI, Tetapi Tak Boleh Langsung

0
Dokter spesialis anak neonatalogi, Naomi Esthernita F. Dewanto. (Suarakarya.co.id/Tri Wahyuni)

JAKARTA (Suara Karya): Ibu yang terinfeksi corona virus disease (covid-19) tidak menjadi penghalang dalam pemberian ASI (Air Susu Ibu) eksklusif. Namun, sebaiknya ASI tidak diberikan langsung dari payudara ibu untuk mencegah penularan covid-19.

“Jika ASI diberikan langsung, bisa saja bayi terkena percikan cairan dari mulut atau hidung ibunya. Berikan ASI perah milik ibunya,” kata dokter spesialis anak neonatalogi, Naomi Esthernita F. Dewanto dalam diskusi memeriahkan ‘Pekan Menyusui Sedunia 2020’ di Rumah Sakit Siloam Kebon Jeruk, Jumat (7/8/20).

Naomi menjelaskan, penelitian badan kesehatan dunia WHO menyebut tidak ada covid-19 dalam ASI. Karena itu, pemberian ASI dari ibu positif covid-19 kepada bayinya diperbolehkan. Bahkan, ASI diperlukan untuk meningkatkan kekebalan tubuh bayi.

“Hingga kini belum ditemukan kasus penularan covid-19 dari ibu ke bayinya lewat ASI. Bayi butuh ASI. Karena salah satu manfaat dari menyusui adalah transfer imun secara natural dari ibu ke anak, sehingga badannya kebal terhadap serangan virus dan bakteri yang ada di sekeliling,” ujarnya.

Naomi menambahkan, proses pemberian ASI harus dibicarakan dengan ibu si bayi. Jika ia ingin memberi langsung, harus dihargai dengan catatan ibu mengerti atas semua konsekuensi jika kemungkinan bayi tertular covid-19.

“Selama ibunya masih positif covid-19, sebaiknya bayi diberikan ASI perah saja. Kecuali sudah dinyatakan bebas dari virus, maka ibu bisa menyusui secara langsung,” ucapnya.

Naomi menekankan pentingnya ASI sebagai nutrisi terbaik dari Tuhan. Karena ASI adalah modal utama untuk kekebalan alami dan diperoleh secara cuma. ASI juga praktis karena tidak butuh air panas seperti halnya susu formula, dan ramah lingkungan karena tidak perlu dikemas dengan kertas atau botol.

Penelitian menunjukkan pemberian ASI eksklusif (tanpa makanan tambahan) selama 6 bulan setelah kelahiran, akan menurunkan risiko infeksi saluran napas bawah pada anak sebesar 72 persen dan infeksi saluran cerna sebesar 64 persen. ASI juga meningkatkan skor intelegensia anak lebih tinggi dan perkembangan otak pada bayi prematur yang lebih baik.

Masalahnya, lanjut Naomi, pemberian ASI eksklusif di Indonesia masih rendah. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan rata rata di perkotaan sekitar 40,7 persen pemberian ASI eksklusif ternyata hanya sampai 5 bulan. Sedangkan di perdesaan sebesar 33,6 persen.

“Kondisi ini sungguh memprihatinkan. Karena di desa, tak banyak pilihan produk pengganti ASI eksklusif,” katanya.

Rendahnya pemberian ASI eksklusif, menurut Naomi, karena banyak ibu yang suka memberi susu formula kepada bayinya dengan berbagai alasan. Penting, bagi tenaga kesehatan untuk melindungi ibu melahirkan terkontaminasi susu formula, sehingga persentase pemberian ASI eksklusif bisa terus meningkat.

Naomi kembali mengingatkan pentingnya imunisasi anak di masa andemi covid-19. Meski ASI sudah memberi kekebalan alami, tetapi upaya pencegahan penyakit spesifik hanya bisa dilakukan lewat vaksin. Imunisasi tetap wajib bagi bayi, antara lain hepatitis B, polio dan difteri.

“Karena takut tertular covid-19, ibu jadi enggan membawa anak ke dokter untuk imunisasi. Padahal, anak yang tidak divaksi memiliki risiko yang besar untuk terkena penyakit lain,” kata Naomi menandaskan. (Tri Wahyuni)