ICW Tabuh Genderang Perang Terhadap Pelaku Pelecehan Seksual

0
Vice President International Council of Women Giwo Rubiyanto Wiyogo

JAKARTA (Suara Karya): Vice President International Council of Women (ICW) Giwo Rubianto Wiyogo, menyatakan komitmennya melakukan perlindungan anak dan perempuan dari kejahatan seksual sekaligus menabuh genderang perang terhadap para pelakunya. Dengan demikian, dia mengajak seluruh kalangan baik pemerintah maupun penegak hukum bersama melakukan sosialisasi serta pencegahan dan penegakan hukum terhadap kasus tersebut.

“Kami akan terus menyuarakan hal ini, baik di forum resmi yang diselenggarakan ICW, maupun organisasi perempuan yang berafiliasi dengan Kongres Wanita Indonesia (Kowani),” kata Giwo di Jakarta, Jumat (27/5/2022).

Menurut Giwo, dewasa ini banyak sekali kasus pelecehan seksual terhadap anak dan itu dilakukan oleh orang yang baru mereka kenal. “Kasus seperti ini biasanya bermula dari media sosial. Pertama mereka berkenalan, dan berlanjut untuk bertemu yang kemudian terjadilah hal yang tidak diinginkan (pelecehan seksual),” katanya.

Ketua Umum Kowani ini juga mengungkapkan, modus pelecehan seksual terhadap anak dengan iming-iming pendekatan (grooming) dapat terjadi secara langsung maupun melalui media sosial. Praktik kejahatan tersebut menyulitkan orang tua dalam mengawasi dan mengantisipasinya.

Dengan demikian lanjut Giwo, hendaknya orang tua bisa mengawasi dan membatasi anak-anak dalam penggunaan perangkat elektronik atau gawai. Selain itu, orang tua juga harus mendampingi, mengetahui, dan mengenal orang  yang dekat dengan anak-anaknya, untuk menghindari modus grooming.

“Orang tua bagaimanapun harus mengawal, mendampingi, dan mengawasi. Anak-anak jangan dibebaskan menggunakan internet. Sekarang banyak orang tua yang tidak ingin terganggu dan ingin tenang dalam bekerja. Jadi anaknya langsung dipegangin hp atau gadget, Itu salah. Kemudian, siapa yang dekat dengan anak-anak, kita juga harus dekat dengan mereka. Misalnya guru, teman, dan pendamping anak. Orang tua harus mengetahui apa yang dibicarakan dan apa yang dikomunikasikan,” kata Giwo, di Jakarta, Jumat (27/5/2022).

Lebih jauh Dia mengatakan, kejahatan seksual dengan modus grooming sulit dikenali oleh orang tua maupun masyarakat, dikarenakan pelaku menyembunyikan kejahatannya dengan sikap yang sangat ramah kepada anak yang menjadi calon korban.

“Pelaku membangun kedekatan dengan anak-anak tidak hanya dalam satu atau dua hari, bisa berminggu- minggu, berbulan-bulan bahkan hitungan tahun. Apalagi kini menggunakan media sosial. Tentu ini akan jauh lebih sulit bagi orang tua untuk mendeteksinya sejak awal,” ujarnya.

Lebih lanjut Giwo menyebut, dampak kejahatan grooming ini amat serius. Dimana anak korban kejahatan grooming dapat menunjukkan gejala psikologis yang memburuk, emosi yang tidak terkontrol dan juga gangguan secara fisik. Dimana anak menjadi lebih sensitive, dan suka menyendiri.

“Jangan mudah percaya pada orang asing yang memiliki hubungan baik dengan anak. Jika ada orang asing yang gemar memberikan hadiah pada anak, mengajak anak jalan atau hal-hal lain diluar

kewajaran, sebaiknya hati-hati. Cek media sosial anak, cari tahu siapa kawan atau orang yang dekat

dengan anak,” katanya. (Bayu)