IFD 2022 di Osaka Tampilkan Wayang Kulit Berbahasa Jepang

0

JAKARTA (Suara Karya): Pentas budaya tak hanya menarik minat khalayak, tetapi juga bisa memperkuat diplomasi antar negara, tak terkecuali Indonesia dan Jepang. Pada Indonesia Friendship Day (IFD) 2022 ditampilkan gelaran wayang kulit virtual berbahasa Jepang dengan lakon ‘Bimo Bumbu’ oleh Ki Dalang Rofit Ibrahim bersama Grup Hannajoss.

“Pementasan budaya secara daring merupakan strategi KBRI Tokyo untuk promosi dan diplomasi kebudayaan, yang diusung dengan semangat pemajuan,” kata Atase Pendidikan dan Kebudayaan, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo, Yusli Wardiatno di hadapan 350 peserta yang dihelat secara daring, Sabtu (26/2/22).

Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo, Tri Purnajaya secara resmi membuka IFD 2022. Ia menyatakan, pagelaran wayang kulit merupakan bagian dari kegiatan promosi dan pelayanan terpadu yang dipaketkan dalam satu kegiatan.

Acara IFD 2022 merupakan hasil kerja sama antara KBRI Tokyo dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Osaka.

“IFD 2022 merupakan kegiatan pertama yang diprogramkan KBRI Tokyo. Grup Hannajoss pimpinan Ki Dalang Rofit Ibrahim telah berkontribusi secara aktif untuk memajukan seni dan budaya Indonesia di Jepang,” kata KUAI Tri Purnajaya.

Ia yakin, pagelaran itu tidak hanya menunjukkan kekayaan dan keragaman seni budaya Indonesia, tetapi juga akan mempererat hubungan antara Indonesia dan Jepang.

Atdikbud Yusli bersama Koordinator Fungsi Penerangan Sosial Budaya (Pensosbud) Meinarti Fauzie dan KUAI Tri Purnajaya mengungkapkan, pagelaran wayang kulit banyak menyimpan filosofi kehidupan bangsa Indonesia yang strategis untuk dikenalkan ke masyarakat Jepang.

“Hal itu diharapkan dapat meningkatkan ketertarikan warga Jepang terhadap budaya Indonesia, selain diplomasi yang mengeratkan hubungan bilateral,” ujar Yusli.

Konsul Jenderal Republik Indonesia (Konjen RI) di Osaka, Diana ES Sutikno, mengungkapkan, hingga kini sudah ada 17 kelompok seni Indonesia di wilayah kerja KJRI Osaka yaitu Kansai, Shikoku dan Chugoku.

“Wayang kulit menjadi ruang kebebasan berekspresi dalam menjawab tantangan saat ini. KJRI Osaka berkolaborasi dengan Grup Hanajoss seperti halnya kelompok seni Indonesia lainnya di Jepang khususnya wilayah Osaka,” kata Diana.

Sebagian besar anggota kelompok itu adalah orang Jepang yang memiliki ketertarikan terhadap Indonesia. Hal itu bisa menjadi peluang bahwa bangsa Indonesia memiliki banyak kesamaan minat dengan masyarakat Jepang.

“Hanajoss serta kelompok lainnya menghidupkan pertunjukan budaya Indonesia di masa pandemi ini dengan protokol kesehatan yang ketat,” kata Diana ES Sutikno yang didampingi Konsul Penerangan Sosial Budaya (Pensosbud), Bambang Setyobudhi, dan Konsul Protokol dan Konsuler Sri Mulatsih.

Sebelum dimulainya Pagelaran Wayang Kulit, Grup Hannajoss menampilkan Tari Jathilan atau Kuda Lumping yang merupakan tarian tradisional asal wilayah Ponorogo, Provinsi Jawa Timur. Acara juga dimeriahkan penampilan Tari Topeng Kelana dari salah satu mahasiswa anggota Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Osaka.

Ki Dalang Rofit Ibrahim menguraikan Lakon Bimo Bumbu tentang upaya Bima, salah satu tokoh Pandawa Lima, yang mengalahkan raksasa Prabu Boko yang gemar memakan manusia. Demi memudahkan misinya, tubuh Bima dibaluri masakan tradisional bothok untuk mengecoh raksasa itu.

“Kisah Bimo Bumbu merupakan salah satu bagian dari kisah pewayangan Mahabarata,” ucap Rofit. Pagelaran Wayang Kulit Virtual berbahasa Jepang ini ditayangkan secara langsung melalui Zoom Meeting dan dapat disaksikan dalam kanal YouTube KJRI Osaka dan Instagram KBRI Tokyo. (Tri Wahyuni)