Iluni FKUI Kembali Gelar Khitanan Massal bagi Dhuafa

0

JAKARTA (Suara Karya): Ikatan Alumni (Iluni) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) menggelar acara khinatan massal bagi anak yatim dan dhuafa se-Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi). Kegiatan itu merupakan rangkaian acara peringatan Dies Natalis FKUI ke-69.

“Selain khitanan massal, ada beberapa acara lagi yang akan kami gelar jelang peringatan Dies Natalis FKUI pada Februari 2019 mendatang,” kata Ketua Panitia Peringatan Dies Natalis FKUI ke-69, Ari Djatikusumo disela acara di bilangan Jatinegara, Jakarta Timur, Minggu (23/12).

Acara dibuka oleh Ketua Iluni FKUI yang juga dokter ahli forensik, Prof Budi Sampurna. Hadir dalam kesempatan itu tokoh masyarakat Jatinegara, Bambang Wiyono.

Ari menyebutkan, kegiatan puncak Dies Natalis adalah dilakukannya sarasehan dengan tema kesehatan masyarakat seperti Program Nusantara Sehat yang digagas pemerintah dan kemelut keuangan yang dialami BPJS Kesehatan.

“Melalui sarasehan, semoga ada solusi mengatasi defisit anggaran di BPJS Kesehatan serta Program Nusantara Sehat yang diperluas untuk mengisi kebutuhan dokter di daerah terpencil,” katanya.

Ditanya soal khitanan massal, Ari Djatikusumo menjelaskan, krlegiatan itu dipilih karena khitan tidak masuk dalam daftar manfaat yang ditanggung program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Selain itu, biaya berkhitan pun terbilang tak murah sekitar Rp650 ribu per tindakan.

“Lewat kegiatan ini, kami harap makin banyak anak laki-laki dari keluarga dhuafa bisa dikhitankan. Karena hal itu salah satu sunnah rasul dalam Islam,” ujar dokter spesialis mata tersebut.

Ketua panitia Khitanan Massal Iluni FKUI dr Jack Pradono menambahkan, kegiatan khitanan terselenggara berkat bantuan dari tim medis Iluni FKUI angkatan 1988 dan tim klinik 123. “Sesama alumni FKUI kami saling bantu demi keberhasilan acara ini,” ucapnya.

Ditambahkan, khitanan sangat penting bagi laki-laki untuk menjaga kebersihan dan kesehatan alat kelamin. Manfaatnya antara lain, menjaga kelamin dari infeksi dan radang saluran kencing. Infeksi bisa terjadi akibat tertahannya kencing akibat sempitnya kulup pada penis.

“Jika kondisi itu dibiarkan, maka akan timbul berbagai macam penyakit di masa depan seperti infeksi saluran kencing. Dan yang paling parah adalah penyakit kanker penis,” ujarnya.

Jack mengemukakan, sekitar 95 persen anak yang terkena infeksi saluran kencing ternyata belum dikhitan. Sementara anak yang telah berkhitan, tidak lebih dari 5 persen yang terkena infeksi. Infeksi saluran kencing pada anak berbahaya jika tidak diatasi.

Dalam riset Wizwil diketahui, dari 88 anak yang terkena luka saluran kencing, 36 persen diantaranya memiliki bakteri patogen dalam darah. Tiga orang dari mereka pun mengeluh radang selaput, dua diantaranya menderita gagal ginjal.

“Di Amerika Serikat, prosentase anak yang terkena kanker penis pada anak yang telah berkhitan adalah nol. Di negara yang tak berkhitan seperti China, kasus kanker penis mencapai 12-22 persen dari kasus kanker yang menimpa laki-laki,” kata Jack menandaskan. (Tri Wahyuni)