Implementasi Kurikulum Merdeka Berpotensi Tingkatkan Skor PISA

0

JAKARTA (Suara Karya): Implementasi Kurikulum Merdeka akan meningkatkan capaian pembelajaran siswa dalam aspek-aspek yang paling esensial, antara lain numerasi dan literasi. Kedua aspek itu nantinya akan terlihat pada skor Programme for International Student Assessment (PISA) siswa.

“Kita mengejar nilai PISA yang lebih baik pada 2024, terutama nilai literasi dan numerasi,” kata Direktur Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek), Wardani Sugiyanto saat berkunjung ke Dinas Pendidikan Surakarta dan sejumlah sekolah di Surakarta, Jawa Tengah, Selasa (26/7/22).

Sebagai informasi, PISA adalah asesmen (penilaian) yang dilakukan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) kepada anak-anak usia 15 tahun di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Penilaian itu untuk mengetahui kemampuan siswa dalam membaca, matematika dan sains.

Wardani optimis hasil PISA siswa Indonesia pada 2024 akan lebih baik dibanding tahun-tahun sebelum, setelah satu tahun implementasi Kurikulum Merdeka dan didukung Platform Merdeka Mengajar.

“Kolaborasi dalam implementasi Kurikulum Merdeka, selain untuk pemulihan pembelajaran juga untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia,” ucapnya.

Dijelaskan, Merdeka Mengajar adalah platform yang dirancang guna membantu guru dan satuan pendidikan mengakses berbagai materi pembelajaran untuk mendukung implementasi Kurikulum Merdeka. Guru dapat referensi dan pemahaman untuk penerapan Kurikulum Merdeka.

“Sejak Kurikulum Merdeka diluncurkan, Kemdikbudristek memberi kebebasan kepada satuan pendidikan untuk menerapkan kurikulum tersebut secara utuh, atau sekolah tetap menggunakan Kurikulum Darurat atau Kurikulum 2013,” ujarnya.

Wardani menyampaikan banyaknya miskonsepsi yang terjadi dalam implementasi Kurikulum Merdeka menjadi tantangan dalam optimalisasi pemanfaatan Platform Merdeka Mengajar.

“Sesungguhnya implementasi Kurikulum Merdeka secara mandiri saat ini bukan merupakan keharusan atau kewajiban, tetapi sebuah pilihan yang dapat disesuaikan dengan kondisi kesiapan satuan pendidikan,” tuturnya.

Wali kota Surakarta, Gibran Rakabuming Raka, menyampaikan dukungannya dalam implementasi Kurikulum Merdeka secara mandiri yang dilakukan satuan pendidikan di wilayahnya. Gibran juga mengajak para satuan pendidikan terutama guru untuk dapat bersama belajar dan berbagi.

Dukungan senada juga disampaikan Sekretaris Daerah Kota Surakarta, Ahyani. Ia berharap tenaga pendidik terus meningkatkan pemahaman atas Kurikulum Merdeka dengan mendorong pemanfaatan Platform Merdeka Mengajar, serta memberdayakan dan mengaktivasi komunitas belajar.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala SMKN 5 Surakarta Ties Setyaningsih memberi informasi, meski sekolahnya belum menjadi SMK Pusat Keunggulan, tetapi sudah menerapkan Implementasi Kurikulum Merdeka secara mandiri.

Kepala SD Negeri 1 Kleco, Tri Atmoko, mengungkapkan, Kurikulum Merdeka lebih simpel dan membuat peserta didik lebih leluasa dalam mengembangkan potensinya. “Daya dukung tidak hanya dari siswa tapi dari orang tua juga, stakeholder saling mendukung,” ujarnya.

Tri berharap kurikulum itu bisa menjembatani dari era pandemi untuk meningkatkan daya belajar siswa yang selama ini sudah mengalami learning loss serta berpihak pada siswa, yakni terdiferensiasi di mana siswa bukan hanya objek tetapi subjek. SD Negeri 1 Kleco merupakan salah satu sekolah yang sudah mengakses Platform Merdeka Mengajar 100 persen.

Saat ini data yang sudah di akses di dashboard Implementasi Kurikulum Merdeka di Kota Surakarta, jumlah sekolah yang terdaftar IKM ada 346, tetapi jumlah sekolah yang login ke PMM baru 341. Jumlah guru terdaftar di IKM ada 7.713 dan yang baru mengakses ke PMM sejumlah 3.766. (Tri Wahyuni)