Indonesia Butuh Generasi Milenial Berjiwa Pemimpin dan Entrepreneur

0

JAKARTA (Suara Karya): Jiwa kepemimpinan dinilaj akan mempengaruhi jiwa kewirausahaan. Mengingat, kewirausahaan merupakan cikal bakal lahirnya seorang pemimpin. Terbukti, saat ini tidak sedikit pemimpin yang berasal dari wirausaha.

Demikian dikemukakan Staf Khusus Menteri Koperasi dan UKM, Agus Muharram, di sela Sekolah Pimpinan HMI,  yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam, di Bogor, Rabu (3/10/2018).

“Kewirausahaan adalah cikal bakal pemimpin, bahkan banyak pemimpin yang juga asalnya dari wirausaha. Contohnya pak Jusuf Kalla, yang seorang pemimpin dan juga seorang wirausaha,” katanya.

Dalam pandangannya, menjadi pemimpin akan melatih dirinya sendiri. Ke depan, ia sangat berharap para entrepreuner muda dapat memimpin masyarakat. Setidaknya, ia tidak merepotkan orang tua dan negara.

“Sekurang-kurangnya ia mandiri untuk dirinya sendiri. Seorang pemimpin yang juga seorang entrepreneur menjadi modal dan nilai plus dalam kontribusinya dalam membangun bangsa ini. Bangsa ini sangat membutuhkan generasi milenial yang berjiwa pemimpin yang juga berjiwa entreprenuer, ” ujar dia.

Agus yang menjadi narasumber dalam kegiatan yang dihadiri para pengurus HMI se-Indonesia, itu mengatakan, dalam kewirausahaan ada keputusan bagaimana pengambilan risiko untuk menjalankan usaha sendiri dengan memanfaatkan peluang-peluang.

“Peluang untuk menciptakan usaha baru atau dengan pendekatan yang inovatif, kreatif, unik, elegan sehingga usaha yang dikelola berkembang menjadi besar dan mandiri dalam menghadapi tantangan-tantangan persaingan,” katanya.

Kepemimpinan ini juga erat kaitannya ketika ia memimpin para karyawannya kelak. Wirausahawan yang sukaes yaitu yang juga berhasil memimpin karyawannya dengan baik.

Staf Khusus Menkop dan UKM ini pun memberikan tips bagaimana menjadi seorang pemimpin yang mandiri. Setidaknya berkaca pada pengalaman pribadinya selama berkarir birokrasi. Perjalanan karir birokrasinya sendiri begitu mulus melampui batas para senior.

“Rumusnya 5 plus 1. Pertama, knowledge yang didapat dari pendidikan formal. Kedua, skill, kemampuan, bakat,  pengalaman. Pendidikan saja tanpa dibarengi dengan skill, itu juga tidak akan berhasil. Skill ini harus digali,” kata dia.

Ketiga, networking yaitu jalinan silaturahim, yang bisa dibangun di mana saja. Keempat, menciptakan peluang di segala kesempatan. Kelima, sikap mental yang pantang menyerah, tidak berbohong, amanah, dan tidak ingkar.

“Keenam,  berdoa. Tanpa doa juga itu tidak mungkin. Dan harus diingat, yang baik belum tentu benar, yang benar belum tentu baik,” ujarnya menambahkan.

Agus menyakini dalam organisasi HMI akan banyak menghasilkan pemimpin masa depan sekaligus entrepreneur tangguh, sebagaimana yang sudah-sudah.

“Jadi tidak mungkin di antara anggota HMI ada yang mengganggur, umumnya menjadi manusia terkenal. Menjadi anggota DPR, pengusaha, pejabat publik. Siapa tahu kelak ada yang menjadi Presiden,” lanjutnya.

Ke depan, tantangan yang dihadapi generasi milenial yang pada 2020-2030 akan menjadi pemimpin masa depan yaitu bagaimana menghadapi era informasi 4.0 yang saat ini tengah bertransformasi.

“Karenanya, kuasai kemampuan berbahasa Inggris, Arab, dan Mandarin, juga teknologi informasi. Membangun karir bisa dari berbagai jalur. Sekarang bagaimana melatih mindset kita untuk dapat setidaknya memimpin diri sendiri,” ujarnya.

Agus menambahkan, anggota HMI yang masih mahasiswa ini untuk mengikuti program Wirausaha Pemula yang digulirkan Kementerian Koperasi dan UKM. Kalau ada yang sudah memiliki usaha bisa mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR)  yang bunganya hanya 7 persen.

“Dan, KUR ini tanpa agunan, tanpa jaminan. Jika ada bank yang meminta jaminan laporkan saja ke lantai 3 Kementerian Koperasi dan UKM,” tandasnya. (Gan)