Indonesia Dalam Ancaman Krisis Ekonomi dan Energi

0

JAKARTA (Suara Karya): Ketua Umum Purnomo Yusgiantoro Center (PYC) Filda C. Yusgiantoro, menyatakan Pandemi Covid-19 dan perang Rusia-Ukraina tentunya berdampak menjadi kepada semakin merosotnya perekonomian dan ketahanan energi dunia khususnya Indonesia.

“Kondisi ini, seharusnya bisa lebih memaksa kita untuk memanfaatkan energi baru terbarukan (EBT) dan Indonesia banyak sumber energi itu,” kata Filda dalam acara The Ensight, yang disiarkan langsung di chanel Youtube PYC, Sabtu (23/4/2022).

Pada kesempatan yang sama, Pendiri PYC, Purnomo Yusgiantoromenyatakan transisi energi masih in the making,yang masih terus dilakukan dari waktu ke waktu.

Selain itu, tidak ada teori yang dapat menjelaskan harga ekonomi energi, hal ini termasuk uncertaintydalam VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity). Purnomo juga menyebutkan bahwa ketahanan energi sangat berkaitan dengan geopolitik dan stabilitas keamanan global.

Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Andi Widjajanto, menyampaikan bahwa ada keterkaitan erat yang mendorong fluktuasi dan instabilitas harga energi dengan disrupsi global seperti Perang Teluk, keruntuhan Uni Soviet, dan juga konflik Rusia-Ukraina pada saat ini.

“Tidak ada satu aktor di dunia yang dapat mengontrol stabilitas harga energi global,” ujar Andi.

Menurutnya, hal ini terkait dengan dinamika pasar bebas dan dinamika geopolitik global. Perihal EBT, transisi energi ini masih menjadi PR panjang bagi Indonesia.

Oleh karena itu, mix energymenjadi satu konsep yang dapat dilakukan, yaitu dengan menggunakan energi fosil dan mengembangkan EBT.

Lebih lanjut, Andi mengungkapkan bahwa kerangka kerja ketahanan energi terbarukan sedang dikembangkan oleh Lemhannas untuk membantu pemerintah dalam transisi energi.

Komisaris Utama PT Perusahaan Gas Negara (PGN)Arcandra Tahar, menyampaikan bahwa disrupsi terdiri atas 3 masa, yaitu the old(masa teknologi hampir mendekati akhir hidup), the now(masa investasi inisiatif yang sukses dilakukan dan digunakan dalam kehidupan) dan masa the newyang juga disebut disruption.

Arcandra menyampaikan bahwa Indonesia harus memiliki strategi tersendiri dalam mewujudkan Net Zero Emission(NZE). Indonesia harus merumuskan strategi dengan melihat pembelajaran dari Eropa (yang menerapkan diversifikasi) dan Amerika Serikat (yang menerapkan dekarbonisasi).

Lebih lanjut, dia menyampaikan bahwa strategi ini juga harus memperhatikan faktor geografis Indonesia. Di akhir paparannya, Arcandra menyampaikan bahwa strategi ketahanan energi untuk Indonesia adalah domestic based supply(penggunaan suplai energi domestik). (Bayu)