Indonesia Gandeng Inggris Kembangkan Riset seputar Banjir

0
Foto: (Suara Karya.co.id/Tri Wahyuni)

JAKARTA (Suara Karya): Indonesia bersama Inggris sepakat kembangkan riset kebencanaan yang menitikberatkan pada hidrometeorologi (hujan lebat dan dampaknya). Dana yang dialokasikan mencapai Rp31 miliar untuk jangka kerja 3 tahun.

“Semoga hasil riset ini bisa membawa perubahan besar bagi Indonesia dan Inggris,” kata Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir usai penandatanganan kerja sama dengan Duta Besar Kerajaan Inggris untuk Indonesia, ASEAN dan Timor Leste, Moazzam Malik di Jakarta, Kamis (7/2/2019).

Nasir menjelaskan, pilihan riset pada bencana karena Indonesia merupakan salah satu negara yang sering dilanda bencana alam. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan, terjadi lebih dari 2.564 bencana alam di Indonesia selama 2018. Bencana alam tak hanya menimbulkan kerugian materil, tetapi juga korban jiwa.

“Untuk itu, kami ingin memetakan sekaligus mencari solusi atas masalah bencana yang terjadi di negeri tercinta ini. Diharapkan bencana alam yang terjadi tak lagi menelan korban jiwa,” ujarnya.

Nasir menambahkan, kerja sama nantinya dilakukan bersama Departemen Bisnis, Energi dan Strategi Industri Inggris melalui Newton Fund. Penelitian akan fokus bidang hidrometeorologi. Tiga penelitian terbaik bidang kebencanaan hidrometeorologi akan dapat pendanaan hingga Rp31 miliar untuk tiga tahun.

“Selain dengan Inggris, peneliti Indonesia sebenarnya telah menginisiasi kerja sama riset kebencanaan gempa bumi, tsunami, asap dan bencana lainnya dengan Jepang, Amerika Serikat dan Perancis,” katanya.

Dubes Inggris Malik berharap, kerja sama dengan Indonesia akan menghasilkan penelitian yang berdampak besar pada penanggulangan bencana banjir. Karena bencana banjir dan longsor tidak hanya mengancam keberlangsungan hidup masyarakat, namun juga perkembangan ekonomi Indonesia.

“Kami bangga bisa berkolaborasi dengan peneliti Indonesia. Kami jadi bisa belajar soal bencana dari Indonesia,” ucap Malik yang fasih berbahasa Indonesia itu.

Disebutkan, Inggris menempati posisi kedua di dunia dalam bidang sains dan riset. Hasil riset Inggris dikutip lebih banyak negara, jika dibandingkan dengan hasil riset negara lainnya. Sekitar 38 persen peraih Nobel memilih untuk kuliah di Inggris.

Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan, Kemristekdikti, Muhammad Dimyati menambahkan, negara lain juga bisa berkolaborasi dalam bidang riset selama mendukung Prioritas Riset Nasional 2020 – 2024. Hal itu merujuk pada Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2018 tentang Rencana Induk Riset Nasional Tahun 2017-2045.

“Kolaborasi riset terutama pada manajemen bencana. Kami harap tiga riset terpilih akan membangun kekayaan ilmu pengetahuan bidang kebencanaan di Indonesia,” ujarnya.

Selama kurun waktu 2019, Newton Fund di Indonesia lewat kerja sama ini akan mendanai 3 judul yang dipilih dari sekitar 20 proposal penelitian. Disebutkan, proposal berjudul “Mitigating Hydrometeorological Hazard Impacts Through Transboundary River Management in The Ciliwung River Basin”. Penelitian dilakukan Harkunti Rahayu (ITB) dan Richard Haigh (University of Huddersfield).

Penelitian kedua berjudul Java Flood One karya Agus Mochamad Ramdhan (ITB) dan Simon Mathias (Durham University). Hasil riset akan meningkatkan prediksi banjir di beberapa kota di Jawa, termasuk Jakarta, Bandung dan Surakarta.

Dan penelitian ketiga berjudul Extreme Rainfall and Its Effects on Flood Risk in Indonesia oleh Suroso (Universitas Jenderal Soedirman) dan Chris Kilsby (Newcastle University). Riset untuk mengidentifikasi penyebab utama banjir di Indonesia dan strategi utama dalam mitigasi risiko bencana. (Tri Wahyuni)