Indonesia-Inggris Pererat Kerja Sama Bidang Pendidikan Tinggi

0

JAKARTA (Suara Karya): Pemerintah Indonesia dan Inggris melakukan penjajakan untuk mempererat kerja sama di bidang pendidikan tinggi. Pertemuan delegasi kedua negara itu dihadiri 15 perguruan tinggi dari Indonesia dan 13 dari Inggris.

Kedua belah pihak berencana memperkuat kolaborasi dan kemitraan antar institusi pendidikan tinggi di Indonesia dan Inggris melalui berbagai program seperti pertukaran mahasiswa dan dosen, penelitian bersama, dan program kolaborasi lainnya.

Dalam acara UK-Indonesia Higher Education Roundtable Discussion, yang digelar Kamis (1/12/22), Pelaksana tugas (Plt) Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi (Diktiristek), Nizam menyampaikan beberapa kerja sama telah dilakukan Indonesia dan Inggris.

Disebutkan, program tersebut antara lain Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA) dan IISMA for Vocational (IISMAVO).

Inggris menjadi mitra penting sebagai negara tujuan mahasiswa untuk belajar selama satu semester di beberapa universitas seperti Cardiff and Vale College, City of Glasgow Collage, Coventry University, dan Oxford EMI.

“Saya harap pihak Inggris juga melakukan hal yang sama dengan program pertukaran pelajar Inggris ke Indonesia untuk belajar beragam kebudayaan, ekonomi, dan melihat keindahan Indonesia,” ucap Nizam.

Dalam hal penelitian, Indonesia membuka peluang kerja sama melalui program Matching Fund yang digagas Ditjen Diktiristek. Nizam berharap program itu dapat mempercepat kolaborasi di bidang penelitian.

Selain untuk mendukung program Kampus Merdeka yang memberi kesempatan kepada mahasiswa mengembangkan minatnya pada mata kuliah pilihan terbuka lebar untuk pendidikan transnasional.

“Dengan demikian, mungkin tercipta joint courses, joint degree, dan kerja sama akademik lainnya,” ucap Nizam.

Hal senada dikemukakan Sekretaris Ditjen Diktiristek Tjitjik Srie Tjahjandarie. Indonesia dan Inggris kedepan dapat membangun dan memperkuat kemitraan pada beberapa bidang seperti joint provision. Karena banyak mahasiswa Indonesia yang melanjutkan studi ke Inggris lewat beasiswa LPDP.

“Semoga kerja sama ini dapat dilakukan melalui joint supervision dengan profesor di Indonesia. Ke depannya, kita bisa buat gelar gabungan (joint degree) atau gelar ganda (double degree),” harap Tjitjik.

Saat ini Kemdikbudristek memiliki kebijakan ‘emancipated learning’ atau Kampus Merdeka. Kebijakan itu mendorong beberapa mitra perguruan tinggi Inggris untuk berkolaborasi mengembangkan program, seperti mobilitas internasional melalui IISMA atau pradoktoral seperti talent scouting, peningkatan kemahiran bahasa Inggris, bridging courses, maupun sandwich program.

Di tingkat post-doctoral, ada program kolaborasi penelitian, world class professor dengan mengundang profesor kelas dunia untuk mengajar dan meneliti di Indonesia selama 3 bulan, dan program Steam of Academic Mobility and Exchange (SAME).

Terkait program Kampus Merdeka bagi mahasiswa vokasi, IISMAVO, Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Kemdikbudristek, Kiki Yuliati menyampaikan apresiasinya kepada Inggris. Karena berkat kerja sama itu, pelajar Indonesia mempunyai pengalaman langsung dengan industri dan perusahaan top di inggris seperti Jaguar, Mercedes Benz, dan Roll Royce.

“Pengalaman itu akan berdampak kepada mahasiswa. Semoga kemitraan ini bisa terus berlanjut serta lebih baik dari sebelumnya,” ucap Kiki.

International Education Champion, Steve Smith perwakilan dari pemerintah Inggris mengatakan, jumlah mahasiswa internasional yang menempuh pendidikan di Inggris sebanyak 605.000 orang, namun hanya 3.445 mahasiswa dari Indonesia.

Untuk mahasiswa dari seluruh dunia yang menjalankan program TNE (Transnasional Education) Inggris berjumlah 510.000 dan hanya 925 mahasiswa dari Indonesia.

Untuk itu, Steve Smith berharap pertemuan itu dapat menguatkan hubungan pendidikan bilateral dan menguatkan kerjasama di bidang pendidikan tinggi dan pendidikan transnasional. (Tri Wahyuni)