Indonesia Kembali Raih Medali Emas Olimpiade Matematika di Inggris

0

JAKARTA (Suara Karya): Siswa Indonesia kembali mengharumkan nama bangsa lewat perolehan 1 medali emas, 4 perak dan 1 perunggu di kompetisi bergengsi International Mathematical Olympiad (IMO) ke-60 yang digelar di Bath, Inggris pada 11-22 Juli 2019.

“IMO merupakan kompetisi paling bergengsi untuk matematika. Tak mudah mendapatkan medali emas. Dan saya bangga karena ada siswa Indonesia yang meraih emas, meski hanya 1 medali,” kata Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Atas (SMA) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Purwanto Sutanto saat menyambut kedatangan para juara di bandara Soekarno-Hatta, Selasa (23/7/2019).

Disebutkan, satu medali emas berhasil diraih Kinantan Arya Bagaspati dari SMA Taruna Nusantara. Empat medali perak diperoleh Jonathan Christian Nitisastro dari SMAK Petra 2 Surabaya, Alfian Edgar Tjandra dari SMA Kharisma Bangsa, Tangerang Selatan.

Selain itu masih ada Aaron Alvarado Kristanto dari SMAK Petra 1 Surabaya dan Valentino Dante Tjowasi dari SMAK Petra 2 Surabaya. Sedangkan 1 medali perunggu diraih Farrel Dwireswara Salim dari SMA Kharisma Bangsa Tangerang Selatan.

Dengan perolehan total 6 medali itu, lanjut Purwanto, tim Indonesia secara membanggakan berada di urutan ke-14 dari 110 negara peserta. Tim Olimpiade Matematika Indonesia mendapatkan prestasi yang lebih baik dibanding negara seperti Australia, Inggris, Kanada, Jerman dan Belanda.

Perolehan medali emas pada IMO 2019 merupakan medali emas ketiga yang pernah didapatkan Indonesia. Dua medali emas sebelumnya didapat pafa 2013 dan 2018. Dengan prestasi mendapatkan emas selama 2 tahun berturut-turut diharapkan Indonesia bisa konsisten dalam prestasi.

“Keberhasilan ini tak lepas dari kerja keras para pelatih dan pembina Tim Olimpiade Matematika Indonesia. Ke-6 siswa menjalani masa training penuh selama 2 minggu sebelum berangkat ke Inggris,” ujarnya.

Ditambahkan, di ajang IMO ini peserta diminta mengerjakan 6 soal matematika yang masing-masing terdiri dari 3 soal per hari. Waktu pengerjaaan soal selama 4,5 jam. Soal meliputi aljabar, kombinatorika, geometri dan teori bilangan.

“Soal-soal yang diberikan merupakan soal orisinal dengan tipe soal yang belum pernah dikerjakan oleh siswa sebelumnya. Untuk itu, siswa dituntut untuk berpikir cepat dengan ketenangan mental dan kreatifitas tinggi. Tidak jarang para matematikawan profesional kesulitan dalam mengerjakan soal-soal IMO dalam rentang waktu 4,5 jam,” ucap Purwanto.

Peraih medali emas Kinantan Arya Bagaspati mengaku bangga akhirnya bisa meraih medali emas, setelah tiga kali ikut kompetisi yang sama sejak 2017 lalu. “Waktu ikut pertama kali dapat perunggu, yang kedua dapat perak, dan sekarang dapat emas,” ujar pria yang lolos seleksi masuk ITB itu.

Ia mengaku pada kompetisi ketiganya ini lebih rileks dan sudah memahami situasi kompetisi. Meski soal yang diberikan setiap tahun sama sekali berbeda, namun ia sudah bisa menangkap esensi dari materi soal yang dibahas. “Mungkin karena lebih rileks dalam mengerjakan soal, jadi tingkat keberhasilan lebih tinggi,” ujarnya.

Ditanya apakah soal yang diberikan setiap tahun mirip, Kinantan mengatakan, soal yang diberikan sama sekali berbeda setiap tahun. Namun, ketenangan dalam menjawab soal memainkan peran penting dalam tingkat keberhasilan. “Kompetisi setiap tahunnya berlangsung seru dan menantang. Tidak sama,” kata Kinantan menandaskan. (Tri Wahyuni)