Indonesia Kini Peringkat Tiga Kasus TB Terbanyak di Dunia

0

JAKARTA (Suara Karya): Indonesia kini berada di peringkat tiga dalam kasus tuberkulosis (TB) terbanyak di dunia, setelah India dan China. Meski turun satu peringkat, Indonesia masih memiliki tiga kendala (triple burden) dalam insiden TB.

“Tiga kendala itu terkait insiden TB, inside TB Resisten Obat (RO) dan insiden TB HIV,” kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2ML), Kementerian Kesehatan (Kemkes), Wiendra Wowuruntu dalam jumpa pers, di Jakarta (19/3/2019).

Hadir dalam kesempatan itu Direktur Kesehatan, Ditjen Kekuatan Pertahanan Kementerian Pertahanan dan survivor TB, Uli Uliyah.

Wiendra menjelaskan, penyakit TB seharusnya mendapat perhatian serius dari semua pihak karena hingga kini masih menjadi penyebab kematian tertinggi penyakit infeksi di Indonesia. Prevalensi kasusnya mencapai 44 per 100 ribu penduduk per tahun.

“TB harus mendapat perhatian serius, karena kuman TB dengan mudah menulari orang dengan daya tahan tubuh yang lemah. Karena itu, kami akan melakukan lebih banyak skrining TB pada penderita HIV dan kanker agar kondisi penyakitnya tak makin parah,” ujarnya.

Wiendra menyebut estimasi jumlah kasus TB di Indonesia saat ini mencapai 842 ribu kasus. Dari jumlah itu, ada sekitar 514.773 penderita yang ternotifikasi. “Ada 39 persen kasus yang belum terlaporkan. Dan 89 persen kasus yang telah menjalani pengobatan,” katanya.

Ditambahkan, hasil skrining yang dilakukan tercatat ada 4.400 pasien TB RO, 52.929 TB anak dan 7.729 TB dengan HIV. “Kasus TB RO di Indonesia menjadi perbincangan dunia internasional. Karena jika tidak ditangani dengan baik, TB RO maupun MDR (multiple drug ressistant) dapat menyebabkan kematian,” tuturnya.

Upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengeliminasi kasus TB di Indonesia, Wiendra memaparkan, pihaknya akan memperbanyak skrining lewat pemeriksaan dahak dan TCM minimal 10 kali dari estimasi kasus. Ditargetkan, skrining akan dilakukan terhadap 1 juta orang yang memiliki risiko tertular TB seperti di lapas atau pesantren.

“Semoga target ini bisa tercapai. Upaya eliminasi kasus TB tak akan berhasil jika hanya dilakukan pemerintah. Upaya ini harus dilakukan bersama. Karena itu, dalam tagline kampanye ditegaskan kata “mulai dari saya.” Semua orang bisa mulai periksa dari diri sendiri,” ucapnya.

Wiendra menambahkan, pihaknya juga akan melakukan pendekatan spesifik pada keluarga penderita, rekan kerja dan institusi yang rawan penularan TB karena banyak orang yang berkumpul seperti lembaga permasyarakatan (lapas) dan pesantren. (Tri Wahyuni)