Indonesia Peringkat 30 Negara yang Tak Efisiensi Waktu

0

JAKARTA (Suara Karya): Pada sebuah studi  tentang  penggunaan  waktu di  31 negara, Indonesia berada pada peringkat ke 30 yang tidak menggunakannya secara efisien. Sementara negara Swiss, Irlandia, Jerman dan Jepang termasuk dalam urutan teratas sebagai  negara  dengan masyarakat yang sangat menghargai waktu.

Dalam studi  ini mengukur 3 hal, yaitu:

1. Kecepatan berjalan sekitar 60 langkah/menit di jalan datar.

2.  Akurasi jam, bagaimana masyarakat di suatu negara menilai waktunya ( on time atau tidak)

3. Kecepatan pos atau kecepatan pengiriman logistic ke suatu tempat.

Mengacu pada hasil studi diatas, tentunya pepatah kuno ‘time is money’ masih relevan untuk dijadikan pegangan. Sebab, orang-orang yang sangat menghargai waktulah yang memenangkan ‘pertarungan’ di dunia bisnis.

Di sisi lain, pandemi yang memaksa pekerjaan dilakukan dari rumah WFH dan di kantor, meningkatkan penggunaan internet secara signifikan, namun ternyata tidak selalu sejalan dengan peningkatan produktifitas.

Produktifitas tidak bisa diukur hanya dengan peningkatan penggunaan internet. Hal itu  karena menurut pakar,  produktivitas sendiri dapat diartikan bagaimana kita mencapai tujuan dengan sumber daya dan usaha yang seminim mungkin.

“Sebelum 2 tahun lalu nggak banyak orang berpikir tentang produktivitas. Dulu Kerja itu segala sesuatu yang tampak, selama prosesnya bekerja, itu namanya bekerja. Tapi pandemi ini mengajarkan kita mengubah cara kita beraktivitas,” kata kata Ivandhana, seorang Personal Productivity Coach melalui siaran persnya, Senin (17/1/2022).

Dikatakan Ivanda, sebelum pandemi kita  hanya fokus pada 1 pekerjaan. Ketika pandemi, banyak peran  di satu tempat. Apalagi sejak ada penggabungan antara pekerjaan di rumah dan di kantor, maka orang mulai berpikir bahwa kita tidak produktif, bagaimana  supaya saya  dapat produktif.

Menurut Ivan, sibuk tidak sama dengan produktif. Sebab, seseorang yang berkutat  dengan smartphone  juga terlihat sibuk.

Tapi apakah sibuk  terkait  pekerjaan karena harus   berinteraksi dengan banyak orang  di kantornya atau sekadar berselancar di internet , membuka-buka laman social medianya untuk update status?

“Kalau  bicara  hal ini, setiap orang punya pandangan berbeda terhadap produktivitas. Produktif itu apa? Ternyata nggak banyak orang yang tahu konsep dari produktivitas itu seperti apa. Istilah produktivitas  dari serapan bahasa inggris , terdiri dari dua kata: product dan activity. Diartikan dalam bahasa Indonesia, produktivitas adalah kegiatan untuk menghasilkan barang atau jasa,” papar Ivan.

Sayangnya masih banyak yang beranggapan bahwa meningkatkan produktivitas diri adalah tentang membuat diri kita bekerja dan beraktivitas lebih lama. Padahal tidak seperti itu, produktivitas bukan tentang bekerja lebih lama, melainkan bagaimana kita bekerja lebih sedikit dengan waktu yang makin minim namun dengan hasil yang luar biasa

“Contohnya begini , kalau dulu  bikin kue, 2 jam jadi 1 kue. Tapi kemudian bisa bikin 2 kue, dalam 1 jam. Itu Namanya produktif. Indikasinya dari inputnya sama, hasilnya lebih banyak,” ujar Ivan.

Di masa kini, produktivitas sangat dibutuhkan karena dengan cara tersebut kesenjangan ekonomi dapat teratasi.

Dikatakan Ivan, setiap orang di dunia ini memiliki kesempatan yang sama sehari  dalam 24 jam untuk melakukan aktivitas kerja.

Tapi mengapa hasilnya berbeda?  Sebab orang-orang yang mengerti  nilai pada dirinya, setiap menit itu tidak mereka sia-siakan.

“Sebenarnya setiap orang punya nilai dalam dirinya. Salah satu contohnya, Jeff Bezos  dalam  1 menit bisa menghasilkan  2 Milyar, Neymar 889 juta dollar, Bill Gate menghasilkan ½ juta dollar dalam 1 detik. Kenapa  Jeff Bezos  mahal? Karena value dari setiap aktivitas dia saat membangun Amazon, itu yang membuat dia mahal. Begitu pula dengan Neymar, Bill Gate atau yang lainnya,”  papar Ivan, lagi.

Ivan pun memberikan cara bagaimana agar waktu tidak terbuang percuma, salah satunya tentukan apa yang menjadi tujuan dan kemudian segera lakukan  apa yang mau dilakukan (action).

Sementara itu, Desainer Nina Nugroho sebagai pencetus gerakan #akuberdaya mengatakan para wanita kerap dihadapkan pada kesulitan dalam mengatur waktu.

“Kadang kala kita sebagai wanita tidak bisa selalu berada di satu tempat. Tapi sering kali antara satu kepentingan dengan kepentingan yang  lain saling bertabrakan. Misalnya terkait urusan kita di kantor dan kapasitas kita sebagai ibu, istri atau anak. Terkadang harus menemani anak yang sedang sakit, misalnya. Tapi di satu sisi kita tetap harus bisa menjalankan kewajiban di kantor,” ucap Nina Nugroho.

Oleh sebab itu, dalam rangkaian kegiatan setahun penuh kampanye #akuberdaya, Nina Nugroho berinisiatif menghadirkan banyak pakar untuk menjawab setiap persoalan yang dihadapi para wanita multi peran.

Dijelaskan Nina Nugroho, terdapat 4 tema besar yang menjadi tantangan wanita multi peran di masa kini, antara lain;  karier, profesi, family dan social.

“Itu yang butuh jawaban atau solusi  dari yang para coach atau yang  menguasai di bidangnya. Bagaimana kita dapat  bekerja lebih sedikit, bagaimana kita bisa membantu diri sendiri dan lingkungan kita. Dengan demikian, para wanita akan semakin mudah terlejitkan keberdayaannya. Tema hari ini luar biasa sekali, yaitu bagaimana kita dapat produktif dimana saja,” pungkas Nina Nugroho. (Warso)