Indonesia Raih 38 Medali di Kompetisi WSC Barcelona

0

JAKARTA (Suara Karya): Nama Indonesia kembali bergema dalam kompetisi internasional World Scholar’s Cup (WSC) di Barcelona, Spanyol. Kompetisi yang diikuti siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) National High Jakarta School itu berhasil menyabet 30 medali emas dan 8 medali perak.

Berkat prestasinya itu, tiga “srikandi” yang beranggotakan Putri Aimee Srijaya, Nadya Annabelle Lumy dan Erin Michelle itu memborong 3 piala sebagai tim debat terbaik nomor 9, tim kesepuluh terbaik secara keseluruhan dan nomor empat terbaik di Asia Tenggara pada putaran global.

“Atas prestasinya itu, mereka berhak maju lagi ke putaran dunia di Yale University, Amerika. Tetapi kemungkinan mereka tidak ikut, karena harus mempersiapkan ujian kelulusan SMP,” kata ibunda Putri, Aimee Dawis disela acara syukuran di Jakarta, Minggu (5/8).

Aimee mengaku bangga atas tekad Putri dalam mempersiapkan diri setelah dinyatakan menang pada kompetisi WSC tingkat nasional di Jakarta pada awal Februari 2018 lalu. “Selama 6 bulan, Putri giat berlatih bagaimana berdebat, penulisan kolaboratif dan hal lain yang terkait kompetisi,” ujarnya.

Karena itu, lanjut Aimee, ia tak terlalu terkejut atas prestasi yang diraih putri bersama kedua temannya. Karena ia melihat kesungguhan dalam setiap usaha yang dilakukannya. “Bahkan sampai di Barcelona pun, mereka tetap fokus pada lomba. Tidak buang waktu buat keliling kota,” tuturnya.

Kompetisi WSC merupakan kompetisi tahunan yang cukup bergengsi karena diikuti lebih dari 50 negara. Kompetisi digelar mulai dari tingkat nasional di Jakarta, lalu pemenang bisa ikut putaran global di Barcelona dan Hanoi. Setelah itu, pemenang bisa ikut putaran dunia di Yale University, Amerika.

Putri Aimee Srijaya menjelaskan, ada 4 kategori yang dilombakan yaitu debat, penulisan kolaboratif, tantangan (challenge) ide dan pilihan ganda (scholar bowl) dengan tema-tema yang tidak biasa. Misalkan, tahun ini topiknya tentang invasi alien dalam menguasai dunia.

“Kami diberi waktu 1 jam untuk riset dari berbagai bahan di internet, sebelum memulai debat. Tetapi karena topiknya tak biasanya, ya susah juga. Karena kita harus bisa mempertahankan argumen itu,” ujar Putri yang pada putaran nasional di Jakarta meraih 14 medali.

Hal senada disampaikan Nadya A Lumy. Pesaing terberat dalam kompetisi itu adalah siswa dari Israel dan Vietnam. Prestasi saling berkejar-kejaran baik pada kelompok individu maupun kelompok.

“Selain Israel dan Vietnam, nama Indonesia juga sering disebut karena kita dapat 30 medali emas,” tutur perempuan kelahiran 2004 itu.

Ia berharap bisa melaju ke kompetisi tertinggi WSC tingkat dunia di Amerika. “Semoga jadwal ujian nasional tidak bentrok dengan jadwal kompetisi. Karena bagaimanapun, kami harus pilih ikut ujian nasional,” kata siswa kelas IX itu menandaskan.

Pakar pendidikan Mien Uno yang hadir dalam kesempatan itu memberi sambutan luar biasa pada ketiga siswa pemenang. Karena tidak banyak anak Indonesia yang memiliki kemampuan debat dalam bahasa Inggris, tetapi juga berpikir lugas.

“Orang sekarang kan kalo debat ujung-ujungnya bikin emosi. Ini bisa ya siswa berdebat, tapi bisa juga berpikir lugas, bicara tenang dan tetap santun. Mereka harusnya mendapat apresiasi dari pemerintah,” ucap Mien. (Tri Wahyuni)