Indonesia Raih Predikat Juara Umum pada Olimpiade Geografi di Hongkong

0

JAKARTA (Suara Karya): Indonesia berhasil meraih predikat juara umum dalam kompetisi kelas dunia, Olimpiade Geografi Internasional (IGeO) yang digelar pada 4 Juli hingga 5 Agustus 2019 lalu di Hongkong. Keberhasilan itu tercipta lewat perolehan 2 medali emas dan 2 medali perak.

“Untuk pertama kalinya, Indonesia setelah 8 kali ikut IGeO berhasil menduduki rangking pertama dari 44 negara peserta. Ini kado terindah jelang peringatan Hari Kemerdekaan kita,” kata Kasubdit Peserta Didik, Direktorat Pembinaan SMA, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Juandanilsyah di bandara Soekarno-Hatta, Tangerang Banten pada Selasa (6/8/2019).

Keempat siswa yang mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, yaitu Fernando dari SMA Sutomo 1 Medan (1 medali emas), Fayola dari SMA Methodist 3 Medan (1 medali emas), Hadyan F Anshori dari Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendimka Gorontalo (1 perak) dan Agista Kumala Dewi dari SMA Semesta BBS Semarang (1 perak).

“Prestasi siswa kita memang luar biasa. Baru kali ini Indonesia berhasil meraih top country dari seluruh negara partisipan. Jumlah peserta secara keseluruhan mencapai 176 orang,” ujarnya.

Koordinator Tim Olimpiade Geografi Indonesia (TOGI), Samsul Bachri menjelaskan, kompetisi berlangsung dalam 3 babak tes yaitu written response test (WRT/tes tertulis), fieldwork test (FWT/tes lapangan), dan multimedia test (MMT/tes multimedia).

“Hasil laporan dari Steering Committee IGeO 2019, siswa Indonesia unggul dalam WRT atau tes tertulis. Hal itu dibuktikan dari nilai keseluruhan untuk WRT yang mencapai peringkat 3 dari 44 negara. Untuk test lapangan, Indonesia berada di peringkat 7 dari 44 negara,” katanya.

Secara akumulatif, lanjut Samsul, TOGI berhasil mencapai nilai paling tinggi yaitu 262.91, disusul Amerika sebesar 254.62 dan Inggris 252.19. Atas dasar perolehan nilai itu, Indonesia kemudian dikukuhkan sebagai juara umum dalam IGeO.

“Berkat keberhasilan ini pula, IGeO Task Force Meeting Board mengusulkan agar Indonesia menjadi tuan rumah IGeO ke-18 pada tahun 2021. Indonesia dinilai memenuhi syarat untuk itu,” ujar Samsul Bachri menegaskan.

Menurut staf pengajar Institut Teknologi Bandung (ITB), keberhasilan para siswa tak lepas dari hasil kerja keras para asisten dan dosen yang memberi banyak praktik dan latihan soal tertulis lewat cara pembelajaran jarak jauh dalam jaringan (online).

“Sebelum menjalani pelatihan terpusat selama 1 bulan, para siswa yang akan berangkat ke Hongkong kami beri banyak latihan tertulis secara online. Mengingat lokasi sekolah tersebar di Medan, Gorontalo dan Semarang. Hasilnya tak mengecewakan,” ujarnya.

Belajar dari pengalaman ini, lanjut Samsul Bachri, TOGI bertekad untuk terus meningkatkan metode pembinaan terutama pada tes lapangan dan tes multimedia. Karena tantangan kedepan jauh lebih berat baik dari jumlah partisipan maupun kualitas soal dan keragaman penilaian,” tuturnya.

Peraih medali emas, Fayola mengaku tak pasang target dalam IGeO. Namun, ia berlatih serius sejak namanya ditetapkan sebagai peserta IGeO pada tahun lalu.

“Puji Tuhan, saya senang sekali dapat emas. Terbayar sudah kerja keras selama 1 tahun terakhir ini,” kata Fayola yang memilih kuliah di Nanyang Technological University/NTU) Singapura untuk studi tentang Earth System Science. (Tri Wahyuni)