Indonesia Unjuk Gigi Pengelolaan Gambut kepada Dunia

0

PEKANBARU (Suara Karya): Capaian Indonesia dalam pengelolaan ekosistem gambut telah diakui dunia. Komitmen Indonesia yaitu dengan penerapan kebijakan pengelolaan ekosistem gambut yang holistik dapat mengintegrasikan kebijakan dengan seluruh pemangku kepentingan pemerintah, pemerintah daerah, perusahaan, dan masyarakat.

Langkah yang telah dilaksanakan meliputi pengarusutamaan kebijakan konservasi, perlindungan, restorasi, dan pemanfaatan berkelanjutan ekosistem gambut untuk mendapatkan manfaat ganda bagi lingkungan, iklim, dan sosial ekonomi masyarakat.

Untuk itu, Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai tuan rumah dari International Tropical Peatland Center (ITPC) berdasarkan resolusi UNEA 4 pada tahun 2019 tentang Konservasi dan Pengelolaan Gambut berkelanjutan, berbagi pengalaman dan pembelajaran praktik baik perlindungan dan pengelolaan ekosistem gambut melalui penyelenggaraan kegiatan “Workshop on Protection and Management of Peatland Ecosystem: Sharing Experiences and Lesson Learnt from Indonesia”. Kegiatan Workshop berlangsung selama 3 (tiga) hari yaitu 13 – 15 Desember 2022 di The Premier Hotel Pekanbaru, Riau.

Workshop internasional ini dilaksanakan secara hybrid dan dihadiri oleh 63 orang, terdiri dari 36 peserta internasional dan 27 peserta lokal yaitu negara anggota ASEAN, Republic of Congo, Democratic Republic of Congo, Fiji, Peru, negara Anggota G20 (Perancis, Turki, dan EU), organisasi internasional (ITPC, GEF, dan IFAD), Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi, serta kementerian/lembaga terkait.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya hadir secara daring memberikan pidato kunci tentang keberhasilan Indonesia memulihkan serta mengelola ekosistem gambut secara berkelanjutan. Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, Sigit Reliantoro turut hadir secara langsung di lokasi.

Selain itu, Menteri untuk Wilayah Luar Negeri, Persemakmuran, Energi, Iklim dan Lingkungan, Inggris Raya, Rt. Hon Lord Goldsmith of Richmond Park, memberikan sambutan secara daring tentang Kerja Sama Indonesia – Inggris dalam restorasi ekosistem gambut dan implementasi FOLU Net Sink 2030.

Menteri Siti Nurbaya menegaskan, melindungi dan mengelola ekosistem lahan gambut, tidak dapat dicapai oleh satu individu, negara, organisasi atau lembaga.

“Kita perlu bahu-membahu berkolaborasi, dengan mengedepankan aksi global dalam strategi yang komprehensif, termasuk menginventarisasi dan memetakan karakteristik lahan gambut, mekanisme monitoring dan evaluasi, memberlakukan moratorium dan regulasi terkait lainnya, seperti pemberian insentif sebagai bentuk dukungan aksi lapangan di pelaksanaan konservasi, perlindungan, pemulihan, dan pemanfaatan ekosistem lahan gambut secara lestari,” jelas Siti Nurbaya, Selasa (13/12/2022).

Dikemukakan Menteri Siti, selama tahun 2019 hingga 2022, Indonesia terus melakukan perbaikan restorasi gambut seluas 300 ribu hektar di pemegang konsesi. Selain itu, 230 desa dengan luas 50 ribu hektar telah dilaksanakan restorasi dengan melibatkan masyarakat setempat.

Karena itu, berbagai pengalaman ini juga menjadi isu penting yang disepakati para pemimpin dunia saat Presidensi G20 Indonesia, di bawah kelompok kerja lingkungan dan iklim. Para pemimpin G20 mengakui bahwa ekosistem gambut penting untuk mendukung upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

“Indonesia siap berbagi pengalaman dan bertukar pembelajaran. Saya berharap lokakarya hari ini akan mengumpulkan dan menyatukan dukungan kita bersama terhadap perlindungan dan pengelolaan ekosistem lahan gambut,” tegas Menteri Siti.

Direktur Pengendalian Kerusakan Ekosistem Gambut Ditjen PPKL KLHK, SPM Budisusanti dalam sambutan pembukaan mengatakan, acara ini dapat memberi kita kesempatan untuk meningkatkan pertukaran pengetahuan global dan platform jaringan tentang pengembangan Kebijakan dan implementasi terpadu ekosistem gambut, seperti inventarisasi dan pemetaan karakteristik lahan gambut, dan sistem pemantauan untuk restorasi ekosistem gambut.

“Workshop ini juga memberikan kesempatan untuk meningkatkan dan mengoptimalkan peran International Tropical Peatland Center (ITPC) sebagai pusat keunggulan untuk pengembangan dan pertukaran pengetahuan tentang konservasi dan pengelolaan ekosistem lahan gambut secara berkelanjutan,” kata Budisusanti.

Budisusanti menegaskan, ekosistem lahan gambut memiliki keanekaragaman hayati yang unik, dan sangat penting dalam penyediaan banyak jasa ekosistem serta dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Lahan gambut memberikan fungsi ekologis yang kompleks bagi keanekaragaman hayati, menyediakan habitat bagi flora dan fauna.

Ekosistem gambut juga telah mengambil peran penting untuk dukungan langsung dan tidak langsung untuk keperluan pertanian dan pasokan pangan, serta pembangunan ekonomi terkait lainnya.

RI Telah Lakukan Pekerjaan Luar Biasa

Sementara itu, Menteri Negara bidang Wilayah Luar Negeri, Persemakmuran, Energi, Iklim dan Lingkungan, Inggris Raya, Lord Goldsmith mengatakan Indonesia telah melakukan pekerjaan yang luar biasa dalam pengelolaan lahan gambut.

“Kepemimpinan Menteri LHK Siti Nurbaya luar biasa. Saat mengunjungi Indonesia dan melihat langsung kerjanya, saya yakin Indonesia sedang memimpin dunia sekarang dalam perlindungan dan restorasi lahan gambut. Menteri Siti Nurbaya menekankan pada saya kebutuhan untuk memperbaiki dan melindungi lahan gambut untuk dapat mengurangi emisi,” kata Goldsmit dalam sambutan virtualnya.

Workshop ini bertujuan untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman Indonesia dalam pengembangan kebijakan serta implementasi terpadu dalam perlindungan dan pengelolaan ekosistem gambut, seperti inventarisasi dan pemetaan karakteristik ekosistem gambut, pembangunan sistem pemantauan restorasi ekosistem gambut, dan pengembangan kerjasama para pihak dalam mendukung pewujudan ekosistem gambut berkelanjutan.

Selain itu, Workshop ini diharapkan dapat mengoptimalkan peran International Tropical Peatland Center (ITPC) sebagai center of excellence untuk pengembangan dan pertukaran pengetahuan tentang konservasi dan pengelolaan ekosistem lahan gambut secara berkelanjutan.

Pembelajaran melalui lokakarya dilakukan dengan mengkombinasikan peningkatan kapasitas dari pakar ekosistem gambut yang berasal dari Indonesia maupun internasional. Selain diskusi dan pembahasan seluruh peserta pada hari kedua dan ketiga juga akan melaihat secara langsung implementasi restorasi ekosistem gambut di lapangan.

Pemerintah Indonesia berharap lokakarya ini menjadi kesempatan untuk untuk berbagi pengalaman dan bertukar praktik terbaik dari negara, organisasi, sektor swasta, dan universitas. Faktor kunci untuk mencapai keberhasilan implementasi restorasi gambut adalah kolaborasi sistem pemantauan yang inovatif dengan sektor swasta, aksi lahan gambut berbasis masyarakat dengan kemitraan multi pemangku kepentingan, dan terakhir, komitmen pemerintah terhadap pengembangan dan implementasi kebijakan. (Pramuji)