INOVASI Beberkan Hasil Studi Kesenjangan Pembelajaran di Indonesia

0

JAKARTA (Suara Karya): Program kemitraan Indonesia dan Australia dalam bidang pendidikan, INOVASI membeberkan hasil studi kesenjangan pembelajaran yang dilalukan sejak 2020 lalu di 612 sekolah yang tersebar di 11 kabupaten di Indonesia.

Hasil studi yang dilakukan bersama Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan, Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), Kemdikbudristek tersebut akan menjadi dasar transformasi pembelajaran di Indonesia.

Kepala BSKAP Kemdikbudristek Anindito Aditomo dalam acara Temu Inovasi ke-14 yang digelar di Jakarta, Selasa (6/12/22) menjelaskan, tujuan studi agar semua anak di Indonesia memiliki kesempatan untuk belajar, serta membangun kapasitas dan keterampilan dasar untuk menjadi manusia mandiri di masa depan.

“Kecakapan adalah dasar kelulusan dan tujuan pembelajaran. Sedangkan konten adalah sarana. Yang penting, semua anak belajar dan menjadi mandiri,” kata Anindito.

Direktur Program INOVASI, Mark Heyward memaparkan hasil Studi Kesenjangan Pembelajaran yang menyasar 18.370 siswa kelas 1-3 sekolah dasar (SD) dengan proporsi gender setara, dari 612 sekolah yang dipilih secara acak untuk berpartisipasi dalam studi itu.

Siswa tersebut berasal dari 11 kabupaten yang menjadi target Program INOVASI di 4 provinsi, yaitu Jawa Timur, Kalimantan Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Untuk memberi cakupan dan keseimbangan dalam seluruh aspek sistem pendidikan Indonesia, ditambahkan 8 kabupaten non-mitra INOVASI dari dari 4 provinsi yaitu Jambi, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Selatan dan Maluku Utara.

Temuan studi tersebut dilaporkan dalam tiga seri. Seri pertama berjudul Studi Kesenjangan Pembelajaran 1, Tak Sekedar Huruf dan Angka: Pengaruh Pandemi Covid-19 dan Fondasi Dasar Literasi dan Numerasi di Indonesia.

Salah satu temuan adalah banyak siswa di Indonesia yang belum menguasai keterampilan dasar literasi dan numerasi. Padahal, siswa yang belum menguasai kemampuan dasar di jenjang tertentu akan semakin tertinggal di jenjang-jenjang berikutnya.

Seri kedua berjudul Studi Kesenjangan Pembelajaran 2, Mereformasi Kurikulum Indonesia: Bagaimana Kurikulum Merdeka Mengatasi Learning Loss dan Meningkatkan Hasil Belajar dalam Literasi dan Numerasi.

Remuan terkait standar kurikulum nasional yang lebih tinggi dari laju kemampuan belajar siswa dan standar global. Untuk itu, perlu reformasi kurikulum karena kurikulum yang fokus terhadap kemampuan esensial berpotensi menekan kehilangan hasil belajar (learning loss) selama pandemi.

Seri ketiga berjudul Studi Kesenjangan Pembelajaran 3, Kesenjangan yang Kian Melebar: Dampak Pandemi COVID-19 pada Siswa dari Kelompok Paling Rentan di Indonesia.

Terungkap, meski covid-19 berdampak untuk semua siswa, namun siswa dari kelompok rentan cenderung paling terdampak. Siswa dengan multi kerentanan berpotensi memiliki hasil belajar lebih rendah.

Siswa di pedesaan dan daerah terpencil lebih banyak yang memiliki performa literasi dan numerasi tingkat 1, sehingga tidak memenuhi tingkat keterampilan minimum dibanding siswa di perkotaan.

Bagi kelompok siswa penyandang disabilitas, sebanyak 91 persen siswa laki-laki penyandang disabilitas di pedesaan tidak memenuhi tingkat keterampilan minimum. Sementara jumlah siswa laki-laki penyandang disabilitas di perkotaan yang tidak memenuhi keterampilan minimum mencapai 82 persen.

Faktor lain adalah guru dan keluarga. Sebanyak 56 persen guru di pedesaan dan daerah terpencil merasa kurang percaya diri untuk menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh (PJJ), sementara guru di perkotaan yang kurang percaya diri untuk melakukan PJJ hanya 37 persen.

Dari sisi orangtua siswa, di perkotaan lebih terlibat dalam studi anak-anak mereka dibanding orangtua di pedesaan dan daerah terpencil.

Studi menyimpulkan kurikulum yang berfokus pada kemampuan esensial (literasi dan numerasi) berpotensi mengurangi learning loss.

Selain itu, kurikulum yang berfokus pada materi esensial juga berpotensi untuk mengurangi ketimpangan hasil belajar bagi kelompok rentan.

“Karakter kurikulum yang berpotensi meningkatkan hasil belajar siswa adalah kurikulum yang berfokus pada materi esensial dan memberi ruang fleksibilitas bagi guru untuk melakukan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan anak,” ujar Mark

Berikut rekomendasi dari hasil studi kesenjangan pembelajaran, di level sistem dan kebijakan, perlu ada transformasi kurikulum. Selain pengembangan kapasitas guru, serta perbaikan akses dan kualitas sumber daya pembelajaran dan infrastruktur.

Di level sekolah, perlu ada penggunaan asesmen formatif, adaptasi pembelajaran sesuai dengan kemampuan siswa, serta memaksimalkan penggunaan sumber belajar seperti Platform Merdeka Mengajar (PMM) dan platform lokal yang tersedia.

Lalu di level komunitas, perlu ada upaya untuk mengaktifkan komunitas praktisi seperti Kelompok Kerja Guru (KKG) untuk peningkatan kapasitas guru, serta memperkuat kolaborasi dengan masyarakat seperti orangtua, swasmitra pembangunan, Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), perangkat desa, dan pihak relevan lainnya seperti Balai Penjamin Mutu Pendidikan (BPMP) dan Balai Guru Penggerak (BGP).

Temu Inovasi ke-14 yang dihadiri berbagai pemangku kepentingan pendidikan dari sejumlah daerah juga menjadi ruang berbagi kisah praktik inspiratif untuk memulihkan pembelajaran siswa.

Kepala Madrasah Ibtidaiyah I Muhammadiyah (MIM) 16 Paciran Lamongan, Jawa Timur, Niayah bercerita tentang transformasi pembelajaran melalui penyebarluasan literasi dalam komunitas belajar untuk mendukung Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM).

Sebagai Koordinator Daerah (Korda) pelaksanaan program INOVASI-Literasi di daerahnya, Niayah harus melaksanakan program literasi di 10 lembaga SD/MI di tengah pandemi. Ia pun bekerja sama dengan Pengurus Wilayah Muhammadiyah Jatim pada 2020.

Ia mengembangkan program literasi di MIM 16, berupa literasi Al-Quran dan literasi membaca yang menyeluruh bagi para siswa. Bersama guru, ia juga melakukan bedah kelas, membuat jam khusus membaca, merenovasi perpustakaan, membuat pojok baca di kelas dan lorong sekolah, program tahfidz Quran dan kompetisi literasi di madrasahnya.

Upaya itu berhasil sehingga diadopsi oleh hampir seluruh SD dan MIM di Kabupaten Lamongan.

“Seluruh kegiatan diseminasi dilakukan dengan pendanaan mandiri yang didasarkan pada kesadaran untuk melakuan perubahan terutama untuk MIM. Karena jarang ada program pelatihan dan pendampingan yang ditujukan untuk madrasah,” tuturnya.

Kisah inspiratif lainnya disampaikan Kepala Sekolah Dasar Masehi Mbatakapidu, Sumba Timur, NTT Yunitha May Atanumba. Transformasi pembelajaran yang dulu berpusat pada guru sekarang sudah berpusat pada siswa.

“Melalui KKG kami berkolaborasi untuk menyusun modul ajar, membuat media bersama, melakukan simulasi dan refleksi,” katanya.

Jika sebelumnya guru belum melakukan asesmen pembelajaran, sekarang guru wajib melakukan asesmen awal pembelajaran dan memetakan kemampuan siswa.

Vamelia Ibrahim selaku Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Tana Tidung, Kalimantan Utara, juga berbagi pengalaman terkait upaya percepatan pemulihan pembelajaran di wilayah tersebut. Proses pemulihan pembelajaran dilakukan melalui dua jalur, yakni sekolah dan masyarakat.

Khusus untuk pemulihan pembelajaran melalui jalur masyarakat, pengoptimalan fungsi TBM menjadi pilihan. Dalam waktu satu tahun, Vamelia berhasil mendorong berdirinya 38 TBM di seluruh desa di Tana Tidung. (Tri Wahyuni)