Investasi Sektor Hulu Migas Nasional Masih Miliki Potensi Ekonomi Tinggi

0

JAKARTA (Suara Karya): Investasi sektor hulu minyak dan gas (migas) dinilai masih memiliki potensi perekonomian yang sangat tinggi, mengingat Indonesia belum sepenuhnya beralih kepada energi baru terbarukan. Demikian dikatakan Direktur Executive Energy Watch Mamit Setiawan, dalam webinar bertema Peran Perbankan Nasional di Industri Hulu Migas, Kamis (19/8/2021).

Menurut Mamit, dengan potensi perekonomian yang masih sangat tinggi, sektor ini masih sangat potensial untuk didanai oleh perbankan nasional. Bahkan kebutuhan investasi untuk sektor hulu migas masih tetap besar ke depannya.

“Target realisasi investasi sektor hulu migas yang ditetapkan pemerintah tahun 2021 adalah sebesar USD12,38 miliar. Sementara hingga semester I 2021 lalu baru terealisasi USD4,92 miliar. Realisasi investasi ini belum termasuk pada industri jasa penunjangnya,” kata Mamit.

Dengan demikian, lanjut dia, jika digabung nilai kebutuhan investasi sangat besar. Hal ini menjadi peluang bagi industri perbankan nasional untuk terlibat dalam pembiayaan investasi pada proyek-proyek strategis hulu migas.

Dari angka itu sebenarnya industri hulu migas sampai saat ini masih sangat menjanjikan. Maka SKK Migas dan pemerintah terus berupaya agar bagaimana iklim investasi terus membaik khususnya di sektor hulu migas.

Dia mencontohkan beberapa proyek penting hulu migas yang bisa menjadi peluang industri perbankan masuk dan terlibat dalam pembiayaan yaitu di Region I (Sumatra dan Kepulauan Natuna) ada 63 working area. Kemudian di Region II (Jawa, Madura, Kalimantan) ada 46 working area yang bisa dimasuki industri perbankan nasional. Kemudian di Region III (Indonesia Timur) terdapat 22 working area.

“Jadi masih banyak peluang investasi pada industri hulu migas dan industri jasa penunjangnya. Sebab biar bagaimanapun industri hulu migas tanpa industri penunjang ini tidak akan bergerak signifikan. Nah ini peluang bagi industri perbankan untuk meningkatkan investasinya di hulu migas,” ujarnya.

PT Pertamina (Persero) menyatakan bahwa rencana investasi hingga tahun 2024 mendatang nilainya mencapai USD92 miliar. Dari jumlah itu sekitar 69 persen adalah untuk sektor hulu migas. Dari total rencana investasi itu rencananya akan dipenuhi dari pendanaan eksternal termasuk dari sektor perbankan.

Oleh sebab itu bank-bank anggota bank Himbara berpeluang besar untuk ikut serta menanamkan investasinya di proyek-proyek strategis yang dilakukan Pertamina termasuk pada anak-anak usahanya.

Direktur Keuangan dan Administrasi PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI), Desiantien, mengatakan bahwa sebagai anak usaha yang fokus pada jasa pengeboran dan solusi terpadu di hulu migas, PDSI akan terus mendukung upaya pemerintah dalam mencapai target produksi minyak 1 juta barel dan 12 miliar kaki kubik per hari untuk jenis gas di tahun 2030.

Meski dalam roadmap kebutuhan energi fosil akan diturunkan dan dikonversi ke sumber energi terbarukan, namun tetap saja industri hulu migas akan tetap dibutuhkan.

“Total kebutuhan energi dari 2015 hingga 2050 mendatang akan naik 6 kali lipat, kebutuhan energi kita masih akan terus meningkat sekitar 2,7 persen per tahun jadi kebutuhan investasi juga akan terus meningkat” ucap Desi dalam diskusi virtual, Kamis (19/8/2021).

Khusus untuk proyek-proyek yang ditangani oleh PDSI, Desi menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan penjajakan pada industri perbankan nasional baik itu swasta ataupun BUMN.

Dari sejumlah penawaran yang dilakukan untuk kebutuhan investasi proyek pengeboran, saat ini sudah ada lima kandidat bank lokal yang akan terlibat dalam pendanaan. Dari lima bank itu tiga diantaranya merupakan bank BUMN anggota Bank Himbara.

“Jadi makasih sekali kepada bank himbara sebab dari lima bank besar yang masuk tiga diantaranya adalah bank himbara. Mereka bisa memberikan penawaran yang lebih kompetitif dibanding bank – bank lain,” ujarnya. (Bobby MZ)