IPB Rebut Posisi Pertama Klasterisasi Perguruan Tinggi Indonesia 2020

0
Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Nizam. (Suarakarya.co.id/Tri Wahyuni)

JAKARTA (Suara Karya): Institut Pertanian Bogor (IPB) berhasil merebut posisi pertama dalam klasterisasi atau penilaian kinerja perguruan tinggi Indonesia tahun 2020. Posisi kedua diraih Universitas Indonesia (UI) dan ketiga Universitas Gadjah Mada (UGM).

“Lewat klasterisasi perguruan tinggi ini, kami ingin berbagi informasi tentang kualitas kinerja perguruan tinggi kita sepanjang tahun 2020,” kata Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Nizam dalam keterangan pers secara virtual, Senin (17/8/20).

Hadir dalam kesempatan itu, Direktur Kelembagaan, Ditjen Dikti, Kemdikbud, Ridwan.

Nizam menyebut, klasterisasi perguruan tinggi dibagi dalam 5 klaster. Untuk klaster 1 ada 15 perguruan tinggi (PT), klaster 2 sebanyak 34 PT, klaster 3 sebanyak 97 PT, klaster 4 sebanyak 400 PT dan klaster 5 sebanyak 1.590 PT. Total perguruan tinggi yang dianalisa data-datanya dari Pangkalan Data (PD) Dikti sebanyak 2.136 PT.

“Penting bagi perguruan tinggi baik negeri maupum swasta untuk memperbaharui dan mengisi secara benar data-data di PD Dikti. Karena penilaian kinerja perguruan tinggi setiap tahunnya diambil dari data yang ada di PD Dikti,” tuturnya.

Nizam meminta agar klasterisasi tidak dimaknai sebagai pemeringkatan, tetapi pengelompokan perguruan tinggi sesuai dengan tingkat perkembangannya. “Klasterisasi ini, cenderung ke arah pemetaan atas kinerja perguruan tinggi dalam 1 tahun terakhir, bukan ajang pemeringkatan. Karena ini kan bukan kompetisi,” katanya menegaskan.

Nizam menyebut 15 perguruan tinggi secara lengkap yang masuk klaster 1 mulai dari posisi tertinggi yaitu IPB, UI, UGM, Universitas Airlangga (Unair), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Hasanuddin (Unhas), Universitas Brawijaya (UB), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Padjajaran (Unpad), Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Andalas, Universitas Sumatera Utara (USU) dan Universitas Negeri Malang (UM).

“Tahun ini ada tambahan 2 perguruan yang nilainya memenuhi syarat untuk masuk dalam klaster 1. Hal itu menjadi bukti kinerja perguruan tinggi itu bisa naik atau turun. Karena itu, penting bagi perguruan tinggi untuk tidak boleh merasa cepat puas dengan pencapaian itu,” ucapnya.

Disinggung tak ada satu pun perguruan tinggi swasta masuk dalam klaster 1, Nizam menegaskan, tidak ada dikotomi antara PTN maupun PTS dalam klasterisasi perguruan tinggi.

“Tidak ada perbedaan antara perguruan tinggi negeri dan swasta dalam hal penilaian. Kuncinya adalah leadership dan sinergi. Selama rektor perguruan tinggi bisa membangun sinergi, maka ia bisa membawa seluruh civitas akademika untuk meningkatkan kualitas,” katanya.

Soal tidak diumumkannya daftar nama perguruan tinggi pada klaster 2 hingga klaster 5, Nizam berdalih hal itu demi ‘privacy’ perguruan tinggi. Karena, upaya klasterisasi bukan kompetisi, sehingga nama perguruan tinggi di klaster 2 hingga 5 tak perlu diumumkan secara luas. (Tri Wahyuni)