ISPIKANI: Pengolahan Perikanan Indonesia Perlu Ditingkatkan

0

JAKARTA (Suara Karya): Sekretaris Jenderal Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia (ISPIKANI) Kusdiantoro mengatakan, pengolahan merupakan suatu sub sektor yang sangat strategis dalam pembangunan perikanan. Sebab, perikanan Indonesia saat ini dari sisi produksi sudah cukup baik, namun perlu adanya peningkatan dan determinasi dari sisi pengolahan dan pemasaran.

“Kita ambil hilirnya karena ini merupakan suatu sub sektor yang sangat strategis dalam pembangunan perikanan, yaitu pengolahan dan pemasaran, di mana kita melihat bawasanya kita masih menduduki peringkat delapan sampai dengan sepuluh untuk ekspor perikanan Indonesia. Padahal kita produksinya sudah di posisi kedua untuk penangkapan dan kelima untuk budidaya. Artinya sisi produksinya sudah cukup baik, tetapi bagaimana kita meningkatkan sub sektor pengolahan dan pemasaran,” ujarnya di Jakarta, Sabtu (30/7/2022).

Kusdiantoro mengungkapkan, saat ini telah terjadi peningkatan ekspor, namun produksi perikanan Indonesia untuk ekspor masih untuk pasar tradisional (pasar lama). Dengan demikian, menurutnya perlu dibuat terobosan untuk pasar baru produk perikanan melalui penyelesaian pembahasan masalah tarif dan non tarif ekspor produk perikanan di tingkat bilateral, regional dan internasional.

“Kita melihat selama dua tahun terakhir ada peningkatan ekspor yang sudah cukup baik dilakukan, namun demikian kita juga melihat bawasanya produksi kita untuk ekspor masih untuk pasar-pasar tradisional. Amerika masih menguasai 40 persen, kedua Tiongkok, ketiga Jepang, baru ASEAN dan UE. Artinya kita perlu membuat trobosan baru untuk pasar-pasar baru produk perikanan, di samping produk kita masih berorientasi pada udang yang menguasai hampir 40 persen dari ekspor yang kita hasilkan, disusul oleh tuna, tongkol, cakalang, dan komoditas lainya. Ini suatu gambaran posisi perikanan saat ini dengan adanya kegiatan ini kita membuat suatu desain yaitu Perikanan Emas 2045,” tuturnya.

Menurutnya, ISPIKANI mencoba meramu semua pikiran stakeholder di bidang perikanan, baik itu pemerintah, swasta, akademisi, NGO, komunitas perikanan, dan sebagainya, untuk membuat suatu pemikiran dalam merancang suatu cetak biru (blue print) pembangunan perikanan di Tahun 2045. Hal ini merupakan bagian dari upaya ISPIKANI untuk membuat suatu solusi bagaimana dengan adanya perikanan emas 2045, Indonesia bisa menguasai pasar ikan dunia, disamping tetap menjadikan perikanan sebagai tuan rumah sendiri yang dapat dimanfaatkan masyarakat indonesia sebagai sumber protein hewani melalui kegiatan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan. Dengan demikian, diharapkan sektor perikanan dapat berjaya di dalam dan luar negeri.

Dia berharap melalui diskusi ini bisa menghasilkan suatu rumusan yg menjadi bahan di dalam proses penyiapan buku Perikanan Emas Tahun 2045 dan menjadi suatu upaya dalam berkontribusi terhadap pembangunan nasional di sektor perikanan. Diskusi ini diharapkan menghasilkan masukan-masukan yang menguatkan sehingga menjadi suatu momentum dalam mencetakan blue print tahun 2045. Rumusan diskusi selanjutnya disampaikan kepada pihak terkait sebagai bagian dari suatu pemikiran dalam proses perencanaan jangka panjang nasional hingga tahun 2045.

Hadir sebagai keynote speaker pada dikusi ini Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP Artati Widiarti yang berbicara mengenai Kebijakan Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Menuju Indonesia Emas 2045. Menurutnya, intervensi kunci untuk mewujudkan Visi 2045 antara lain perikanan tangkap berkelanjutan berbasis kuota, ekspor berbasis komoditas akuakultur, budidaya perikanan untuk pemberdayaan masyarakat, serta dukungan hilirisasi yang kuat secara bertanggung jawab.

Bertindak sebagai narasumber adalah Dewan Pakar Bidang Pasca Panen Pengolahan Ikan ISPIKANI Prof. Joko Santoso sebagai Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) yang berbicara mengenai Trend Produk Olahan dan Pasar Perikanan Tahun 2045. (Bayu)