Ispikani Sebut Perikanan Budidaya Indonesia Miliki Peran Strategis

0

JAKARTA (Suara Karya): Sekretaris Jenderal Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia (Ispikani) Kusdiantoro, menyatakan perikanan budidaya di Indonesia memiliki peran strategis terhadap ketahanan pangan nasional pertumbuhan ekonomi, penyiapan tenaga kerja, pengentasan kemiskinan dan kelestarian lingkungan.

” Jadi bukan tidak mungkin beberapa tahun kedepan Indonesia menjadi negara dengan produksi sektor perikanan terbesar di dunia, khususnya perikanan budidaya,” kata Kusdiantoro saat membuka webinar bertajuk ‘Pengelolaan Sub Sektor Perikanan Budidaya, Menjadi Produsen Budidaya Terbesar di Dunia’, Senin (19/9).Senin (19/9/2022).

Dikatakan Kusdiantoro, perikanan budidaya kini sudah tidak bisa lagi dianggap sebelah mata. Berbeda dengan masa lampau, yang mana perikanan tangkap berada di “atas angin”, kini perikanan budidaya menunjukkan peningkatan yang signifikan dari tahun ke tahun, sementara ikan di laut jumlahnya terbatas.

Kusdiantoro mengungkapkan bahwa menjadi negara produsen budidaya ikan terbesar di dunia bukanlah impian semata. Terbukti China pada tahun 1978 produksi perikanan budidaya hanya sebesar 1,2 jutaan, tetapi dalam kurun waktu kurang dari 4 dekade produksi perikanan budidaya di negara komunis itu menjadi sebesar 45,5 juta ton pada tahun 2014.

“Produksi perikanan budidaya di China terus meningkat dan saat ini negara tersebut menjadi produsen ikan terbesar di dunia,” kata Kusdiantoro, saat membuka webinar bertajuk ‘Pengelolaan Sub Sektor Perikanan Budidaya, Menjadi Produsen Budidaya Terbesar di Dunia’, Senin (19/9).Senin (19/9/2022).

Dikatakan Kusdiantoro, sebagian besar produksi perikanan China bersumber dari kegiatan budidaya. Hal ini membuktikan kegiatan budidaya ikan menjadi solusi dalam peningkatan produksi perikanan sebagai sumber pangan, penyedia protein hewani, mengingat produksi penangkapan memiliki faktor pembatas.

Menurutnya, pergeseran peran kontribusi perikanan budidaya tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga produksi perikanan dunia. Pada 2020, produksi ikan dunia mencapai 214 juta ton, dimana sebesar 123,5 juta ton (57,7%) di antaranya dari kegiatan budidaya, termasuk 36 juta ton diantaranya produksi rumput laut.

Selain itu, pertumbuhan produksi perikanan dari kegiatan budidaya cenderung mengalami kenaikan, sebaliknya pertumbuhan dari kegiatan penangkapan mengalami penurunan. Padahal sebelum 2010, produksi perikanan tangkap mendominasi produksi perikanan dunia. Ini menunjukkan bahwa terjadi shifiting produksi perikanan, dari tangkap menjadi budidaya.

Namun demikian lanjut dia, kegiatan budidaya ikan di Indonesia masih dihadapkan beberapa permasalahan, antara lain ketergantungan bahan baku pakan yang sebagian besar berasal dari impor dan harga pakan tidak kompetitif sehingga margin keuntungan pembudidaya sangat minim.

Selain itu terdapat keterbatasan ketersediaan dan distribusi induk dan benih ikan unggul sehingga mengganggu peningkatan produktivitas dan kontinuitas produksi. Ada pula masalah inovasi teknologi digital mendukung efisiensi dan efektifitas kegiatan budidaya ikan serta masih terbatasnya dukungan lembaga keuangan untuk pengembangan usaha budidaya.

“Terakhir adalah kurangnya ketersediaan dan kesiapan SDM yang terampil dalam menguasai budidaya ikan,” ujarnya.

Dengan demikian kata Kusdiantoro, dibutuhkan langkah terobosan untuk meningkatakan efisiensi pakan agar dapat menurunkan kontribusi pakan yang mencapai rata-rata 60-80% dari komponen biaya produksi.

Kedua, mengembangkan ekosistem pakan mandiri sehingga dapat menurunkan ketergantungan pada pakan komersial dan memanfaatkan potensi bahan baku lokal. Ketiga, terus melakukan penyediaan dan pengembangan induk dan benih ikan unggul yang cepat tumbuh dan tahan penyakit.

Keempat pengembangan dan penerapan teknologi digital dalam mendukung efisiensi budidaya (SMART Aquaculture). Kelima, meningkatkan akses pembiayaan, suku bunga yang kompetitif dan memperhatian grace period dalam pembiayaan sesuai jenis ikan yang dibudidayakan.

Keenam, meningkatkan kompetensi dan keterampilan lapangan SDM dengan terus pengembangan prodi dan kurikulum budidaya, serta modul-modul pelatihan sesuai SKKNI secara lebih spesifik melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan, sehingga tersedia SDM yang siap kerja.

“Peningkatan produksi budidaya dapat dilakukan melalui kebijakan ekstensifikasi dan intensifikasi, maupun kombinasi dari keduanya. Teknologi budidaya, ketersediaan induk dan bibit unggul serta pakan dengan harga kompetitif menjadi faktor pengungkit utama dalam mencapaian target tersebut,” ujarnya.

Sementara itu Keynote Speaker webinar Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan, TB. Haeru Rahayu mengatakan pihaknya memiliki strategi peningkatan produksi perikanan budidaya melalui program terobosan.

Hal ini dilakukan dengan pemenuhan target 2022, yaitu ikan sebesar 7,35 juta ton, udang sebesar 1,34 juta ton, ikan hias sebanyak 2,1 milyar ekor, rumput laut sebesar 11,85 juta ton, dengan pendapatan 3,55 juta per bulan dan Nilai Tukar Pembudidaya Ikan mencapai 103. (Bayu)