Positif Pascavaksinasi Bisa Saja Terjadi, Ini Penjelasan Ilmiahnya!

0
Ketua Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), Prof Hindra Irawan Satari. (suarakarya.co.id/Tri Wahyuni)

JAKARTA (Suara Karya): Seseorang bisa saja menjadi positif pascavaksinasi covid-19 jika terpapar virus, di saat tubuh tengah membentuk antibodi dengan tenggang waktu 28 hari. Karena itu, pentingnya menjaga protokol kesehatan hingga penyuntikan vaksin kedua.

“Dua minggu pascavaksinasi adalah waktu yang rawan terpapar covid-19. Karena sudah divaksinasi, jadi merasa terlindungi. Padahal, antibodi belum terbentuk,” kata Ketua Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), Prof Hindra Irawan Satari dalam keterangan pers secara virtual, Senin (22/2/2021).

Hadir dalam kesempatan yang sama, Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan yang juga Direktur Pencegahan Penyakit Menular Langsung, Siti Nadia Tarmizi.

Prof Hindra menjelaskan, kekebalan tubuh tidak langsung tercipta pascavaksinasi pertama, kalaupun ada sangatlah rendah. Kekebalan baru akan tercipta sepenuhnya dalam kurun waktu 28 hari setelah penyuntikan kedua.

“Dibutuhkan 56 hari untuk membentuk kekebalan dalam tubuh, yakni 28 hari pascavaksinasi pertama dan 28 hari lagi pascavaksinasi kedua,” tuturnya.

Ia berharap masyarakat, termasuk tenaga kesehatan memahami kerja vaksin dalam pembentukan antibodi. Sehingga setiap orang melakukan perlindungan diri dari covid-19 dengan menerapkan protokol kesehatan ketat, meski sudah divaksinasi.

“Kami turut berduka atas meninggalnya dua tenaga kesehatan pascapenyuntikan vaksin covid-19. Pemerintah menyampaikan duka cita mendalam atas kejadian tersebut. Diharap, kejadian serupa tidak terulang lagi di masa depan,” tuturnya.

Ditambahkan, vaksinasi covid-19 diberikan dalam dua kali dosis penyuntikan. Suntikan pertama untuk memicu respons kekebalan awal. Sedangkan suntikan kedua untuk menguatkan respons imun yang terbentuk.

“Karena itu, setelah vaksinasi tetap harus menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan pakai sabun dan menjauhi kerumunan. Sebab kondisinya masih rawan. Kalau kita lengah bisa saja terjadi hal yang tidak diinginkan,” ucapnya.

Vaksin Sinovac yang digunakan pemerintah dalam program vaksinasi covid-19 dipastikan aman dan berkhasiat. Sebab, dalam proses pengujiannya telah sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh WHO.

“Dengan hasil pengujian di fase 1, fase 2 dan fase 3, efek samping dari vaksin tersebut sangat ringan,” ujarnya.

Merujuk pada uji klinis yang dilakukan Tim Riset Uji Klinik Vaksin Covid-19 Universitas Padjajaran, disebutkan efek samping yang ditimbulkan bersifat ringan dan mudah diatasi seperti reaksi lokal berupa nyeri, kemerahan atau gatal-gatal.

Untuk mengantisipasi timbulnya KIPI, pemerintah telah menyiapkan langkah penanganan termasuk menyediakan nama orang yang bisa dihubungi bila terjadi efek samping pascavaksinasi, di setiap pos pelayanan vaksinasi.

Prof Hindra mengungkapkan, di Indonesia, proporsi efek samping serius yakni 42 per 1.000.000 sedangkan non serius 5 per 10.000.

Prof Hindra menegaskan, vaksinasi merupakan upaya tambahan untuk melindungi seseorang dari potensi penularan Covid-19. Untuk perlindungan optimal, tetap dibutuhkan penerapan protokol kesehatan secara ketat.

“Vaksinasi itu tidak menjamin 100 persen tidak tertular, namun hal itu bisa menjadi upaya tambahan untuk mengurangi risiko terpapar/terinfeksi,” katanya. (Tri Wahyuni)