Jadi Pusat Keunggulan, SMK Model PGRI 1 Mejayan Raih Omset Rp3,8 Miliar

0

JAKARTA (Suara Karya): Bermula dari gagasan membuat mobil listrik untuk toko bagi kalangan usaha kecil, mikro dan menengah (UMKM), nama SMK Model PGRI 1 Mejayan Yogyakarta langsung melejit seantero Indonesia. Berkat inovasi yang tiada henti, sekolah tersebut berhasil meraih omset hingga Rp3,8 miliar pada 2021 lalu.

Usaha yang dikembangkan pusat bisnis SMK Model PGRI 1 Mejayan mulai dari bengkel sepeda motor, homestay, bis pariwisata, persewaan gedung, mini market, konter handphone dan pulsa, restoran hingga digital marketing.

Keberhasilan itu tak lepas dari ‘tangan emas’ Kepala Sekolah SMK Model PGRI 1 Menjayan, Sampun Hadam. Alumnus Universitas Neger Yogyakarta itu jeli dalam melihat peluang menjadi bisnis, yang tak hanya memberi ‘cuan’ bagi warga sekolah, tetapi juga masyarakat sekitar.

SMK Model PGRI 1 Menjayan saat ini tengah melakukan pemberdayaan tanaman porang dengan beragam inovasi engineering, seperti menciptakan alat pembersih, alat pencacah porang sampai pengolahan berbagai aneka makanan dari porang yang tidak saja enak, tetapi juga bergizi tinggi.

Karena itu, tak heran jika Sampun Hadam mendapat penghargaan ’10 Kepala Sekolah Hebat CEO (Chief Excutive Officer)’ versi Ditjen Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek). Sekolah tersebut juga terpilih menjadi SMK Pusat Keunggulan (Center of Excellent/COE).

Sampun Hadam dalam sebuah acara secara daring, Kamis (24/2/22) menuturkan, pihaknya senang sekolahnya terpilih menjadi SMK Pusat Keunggulan yang mendorong para guru maupun siswanya menjadi entrepreuner.

“Upaya ini akan meningkatkan ekonomi daerah sebagai sumber ekonomi nasional dan mencintai produk dalam negeri. Selain membentuk jiwa mandiri dan kuat untuk bertahan di tengah masa pandemi dan persaingan global yang semakin pesat,” tuturnya.

Hal itu, menurut Sampun, juga bagian dari implementasi Merdeka Belajar yang digagas Mendikbudristek, Nadiem Anwar Makarm. Karna belajar tak hanya didapat dari buku-buku, tetapi juga bisa dari pengalaman dan praktek di lapangan.

Ia menyebutkan pembelajaran ‘Project Based Learning’ yang dilakukan bersama Mitra DUDI (Dunia Usaha Dunia Industri) yang selama ini dilakukan SMK Model PGRI 1 Gejayan. Antara lain, pembuatan kursi kereta api dan pengecatan boks (pesanan PT INKA Madiun), pembuatan kanopi dan renovasi kantor kecamatan dari PT Java Madani Perkasa, pembuatan gear dan shaft dari CV Sumber Pangestu) dan pembuatan box alat dari PT Rekaindo Global Jasa.

“Alhamdulillah kami dipercaya juga untuk melakukan beberapa pekerjaan dari DUDI. Ini menjadi pengalaman yang luar biasa bagi guru dan siswa, membuat produk yang dibutuhkan DUDI,” ujarnya.

Menurut Sampung, Indonesia butuh generasi yang cepat, tanggap dan praktis di masa depan. Karena itu, perlu alur pemikiran literasi dimana siswa diberi suatu permasalahan, kemudian siswa melakukan penelitian/penemuan/ eksperimen yang didukung teori-teori yang ada.

“Konsepnya dari ‘problem’, siswa mencari tahu penyelesaiannya dengan membaca berbagai sumber ilmu. Bukan membaca dulu baru melakukan eksperimen,” ujarnya.

Dengan demikian, siswa menjadi lebih senang dalam belajar karena mereka tidak dituntut untuk memahami seluruh materi atau sekadar mengerjakan soal untuk menggugurkan tugas belajar.

“Siswa ‘dipaksa’ melahap seluruh materi pembelajaran, sebelum mereka memecahkan suatu masalah berupa soal atau eksperimen. Berbeda hasilnya jika langkah literasi diubah,” katanya.

Terobosan pembelajaran menggunakan skill pasport, menurut Sampun, merupakan metode pembelajaran yang tepat sebagai wujud implementasi merdeka belajar.

Skill pasport merupakan assesment yang dilakukan untuk peserta didik pada setiap mata pelajaran yang dikerjakan dalam waktu dan ruang yang tidak terbatas. Skill pasport ini menjadi dasar menghitung kemampuan peserta didik pada setiap mata pelajaran.

Skill pasport semula hanya dimaknai sebagai catatan kemampuan kompetensi dasar (basic competency performance record) yang diperoleh selama peserta didik belajar di SMK, kompetensi sikap, dan kompetensi kerja.

Namun, lanjut Sampun, skill pasport dimaknai luas oleh SMK Model PGRI 1 Mejayan sebagai sarana menuangkan potensi, bakat, dan minat peserta didik pada semua mata pelajaran baik normatif, adaptif dan produktif.

“Penggunaan skill pasport dapat memaksimalkan potensi, bakat dan minat sisiwa mulai dari jenjang SD, SMP, SMA, maupun SMK,” kata Sampun menandaskan. (Tri Wahyuni)