Jateng Dominasi Juara Festival Sains dan Budaya 2019

0

JAKARTA (Suara Karya): Provinsi Jawa Tengah mendominasi perolehan juara dalam Festival Sains dan Budaya (FSB) 2019 yang digelar Sekolah Kharisma Bangsa. Kemenangan itu terutama pada ajang Olimpiade Seni dan Budaya Indonesia (Osebi).

“Untuk ajang Indonesian Science Project Olympiad (ISPO), tak ada daerah yang mendominasi. Kemenangan siswa hampir rata di semua wilayah,” kata Presiden Osebi, Liliana Muliastuti dalam acara pengumuman pemenang sekaligus penutupan FSB 2019 di Tangerang Selatan, Banten, Minggu (24/2/2019).

Liliana dalam kesempatan itu didampingi Presiden OSPI, Riri Fitri Sari dan Kepala Sekolah Kharisma Bangsa, Imam Husnan Nugroho.

Sebagai informasi, FSB 2019 adalah perhelatan akbar yang mengabungkan dua ajang kompetisi pelajar bergengsi yaitu Osebi dan ISPO. Kegiatan yang berlangsung pada 22-24 Februari itu diikuti sekitar 1.200 pelajar dari seluruh Indonesia.

Liliana menyebutkan, finalis Osebi tahun ini ada 67 orang dari 20 provinsi. Enam cabang keahlian yang dilombakan, yaitu menyanyi solo usia 8-13 tahun dan usia 14-18 tahun, penampilan puisi untuk sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA), serta Tari Kreasi Nusantara tingkat sekolah dasar (SD), SMP dan SMA.

“Selain itu masih ada lomba menulis cerita pendek (cerpen), menulis puisi dan menulis esai. Lomba semacam ini sudah terbilang jarang digelar. Karena itu, saya senang cukup banyak siswa yang ikut lomba. Terutama pada penulisan puisi,” ujarnya.

Liliana mengusulkan agar karya seni siswa baik jenjang SMP maupun SMA didaftarkan untuk mendapat sertifikat Hak Karya Intelektual (HaKI). Apalagi pendaftaran HaKI terbilang mudah dan murah, cukup login ke situs milik Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham).

Pendaftaran karya siswa, menurut Liliana, hal itu akan memberi pengalaman yang luar biasa. Karena meski masih berusia muda, mereka memiliki karya seni yang dilindungi oleh HaKI.

“Sungguh disayangkan jika ada orang yang mendewa-dewakan sains, lalu merendahkan seni. Karena dua bidang itu harus dipelajari. Jika siswa hanya belajar sains, maka ia akan kaku. Seni akan menyeimbangkan keduanya,” ucapnya.

Liliana berharap makin banyak siswa Indonesia yang mempelajari budaya Indonesia sendiri, dibanding budaya asing. Karena saat ini kecenderungan di kalangan muda Indonesia yang tergila-gila dengan budaya pop Korea.

“Para perempuan Indonesia banyak tergila-gila dengan drama Korea, milenialnya senang dengan K-Pop dan kulinernya. Ini sungguh memprihatinkan,” ucap Liliana menandaskan. (Tri Wahyuni)