Jawab Tantangan Global, Kemkominfo Gelar G20 Digital Innovation Network

0

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) menggelar Digital Innovation Network (DIN) Presidensi G20 Indonesia bertema ‘The Rise of Digital Economy: Post-Pandemic Recovery and Beyond’ di Bali. Pertemuan itu mendorong terciptanya ruang bisnis antara industri dan pelaku teknologi digital dari negara anggota G20.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika, Semuel Abrijani Pangerapan dalam siaran pers, Rabu (14/9/22) menjelaskan, G20 DIN tahun ini mewadahi pencarian startup paling menjanjikan pada 5 sektor prioritas, yaitu kesehatan, energi bersih dan energi terbarukan, pendidikan dan teknologi, inklusifitas keuangan, dan rantai pasok barang (supply chain).

Hadir dalam pertemuan itu delegasi negara anggota G20 dan negara undangan, antara lain Argentina, Brazil, Australia, Jerman, India, Indonesia, Jepang, Republik Korea, Mexico, Rusia, Saudi Arabia, Afrika Selatan, Turkiye, Inggris, Amerika, Uni Eropa, Singapura dan Kamboja.

Masing-masing negara mengirimkan startup terbaik untuk setiap sektor yang diangkat dalam G20 DIN. Kegiatan itu melibatkan 400 peserta dari 42 perusahaan modal ventura, 55 startup, serta sejumlah policy makers (para pembuat kebijakan bidang digital), dan korporasi yang hadir baik secara fisik maupun virtual.

Dijelaskan, Digital Innovation Network (DIN) Presidensi G20 Indonesia adalah inisiatif Indonesia sebagai tindak lanjut dari pengembangan forum Digital Innovation League (DIL) di Presidensi G20 Italia tahun 2021 yang diikuti 100 startup dari 20 negara.

“Para startup melakukan presentasi di hadapan panelis hingga terpilihlah 10 startup terbaik, yaitu Nalagenetics dan Ruangguru dari Indonesia,” ujar Semuel.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate dalam sambutan pembukannya menyebut, upaya itu sejalan dengan laju inovasi digital, valuasi ekonomi digital yang mencapai 15,5 persen dari total produk domestik bruto global.

“Bahkan, jumlah meningkat 2,5 kali lebih cepat dibanding 15 tahun terakhir, merujuk pada data Bank Dunia pada 2022,” ujarnya.

Ia melanjutkan, pada 2030 diperkirakan 70 persen dari penciptaan nilai baru dalam perekonomian akan didasarkan pada model bisnis yang diaktifkan secara digital.

“Nilai ekonomi digital di Indonesia mencapai 70 miliar dolar Amerika dan terus berkembang hingga 315,5 miliar dolar pada 2030. Hal itu menunjukkan potensi luar biasa untuk perekonomian Indonesia di masa depan,” ucap Johnny.

Ia menilai pertemuan G20 akan menjadi katalis yang penting bagi pertumbuhan ekonomi digital melalui peningkatan kolaborasi antara startup, modal ventura, dan perusahaan skala nasional dan internasional,” ujar Menkominfo.

Hal senada dikemukakan Menteri Komunikasi dan Informasi Singapura Josephine Teo. Ia mengapresiasi penyelenggaraan G20 DIN sebagai wadah jejaring inovasi digital. Pemerintah Singapura mengirim 12 delegasi eksekutif bisnis yang berkaitan G20 DIN.

Perhelatan G20 DIN menghadirkan 2 pembicara utama dari perusahaan teknologi terkemuka, seperti Vice President, Engineering and Research dari Google, Yossi Matias dan Head of Corporate Strategy dari Zoom, Abhisht Arora. Keduanya mengangkat isu tentang pemanfaatan transformasi digital untuk menghadapi situasi masa depan yang tidak menentu.

Penyelenggaraan G20 DIN Tech Conference yang berlangsung dua hari diisi dengan 4 sesi diskusi panel, dan 5 sesi paralel Startup Pitching di 5 sektor prioritas yaitu kesehatan, energi bersih dan energi terbarukan, pendidikan dan teknologi, inklusifitas keuangan, dan rantai pasok barang.

Selanjutnya, para startup digital dan perusahaan modal ventura memiliki kesempatan untuk saling bertemu selama pelaksanaan G20 Digital Innovation Network dalam 1-on-1 Business Meeting.

Hari pertama pada sesi panel mendiskusikan masa depan industri teknologi dari sudut pandang para unicorn startup, dengan narasumber dari 2 unicorn startup Indonesia, yaitu Presiden BukaLapak, Teddy Oetomo dan Co-founder Traveloka, Albert serta panelis dari perusahaan konsultan global yaitu Senior Principal Kearney, Rohit Sethi.

Presiden BukaLapak mengemukakan pendapatnya tentang bagaimana bisnis online dan offline yang memiliki latar belakang berbeda dapat saling berkolaborasi. “Saya lihat saat ini makin banyak bisnis online dan offline bisa saling berkolaborasi dalam
kemitraan. Terlihat inovasi teknologi menjadi penting, tak sekadar lip service,” ujar Teddy.

Diskusi panel kedua membahas tentang pemajukan investasi berkelanjutan di era pascapandemi bersama perwakilan dari beberapa perusahaan modal ventura. Sesi diskusi panel juga mengisi hari ketiga G20 DIN dengan dua pembahasan berbeda, yaitu pandangan tentang investasi teknologi global dan cara menghadapi tantangan di masa pandemi dari para startup unicorn.

Setelah diskusi panel, delegasi startup dari negara-negara anggota G20 akan mempresentasikan inovasi digital mereka untuk menghadapi isu di 5 sektor prioritas di hadapan para pakar dunia dalam sesi startup pitching.

Indonesia ikut aktif dalam sesi itu dengan mengirim delegasi startup untuk setiap sektor, yaitu Nusantics (Healthcare), Xurya (Green and Renewable Energy), Cakap (Education and Technology), Komunal (Financial Inclusivity), dan Simbad (Supply Chain). (Tri Wahyuni)