Jelang Pilpres, Peredaran Berita Hoaks Meningkat Ribuan Persen

0
Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara. (suarakarya.co.id/istimewa)

PADANG (Suara Karya): Berita bohong atau hoaks semakin ramai jelang pemilihan presiden (pilpres) pada 17 April mendatang. Peningkatan berita hoaks di masyarakat meningkat tajam, bahkan mencapai ribuan persen dibanding 7 bulan lalu.

“Jika Agustus tahun lalu ada 25 hoaks yang terverifikasi, maka pada Maret 2019 ini jumlahnya meningkat tajam menjadi 453 hoaks,” kata Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara dalam kuliah umum di Universitas Negeri Padang, di Padang, Sumatera Barat, Kamis (11/4/2019).

Rudiantara mengaku prihatin atas meningkatnya berita hoaks di masyarakat yang disebarluaskan baik melalui grup whatsapp (WA) maupun media sosial. Hasil identifikasi, validasi dan verifikasi pada Agustus 2018 menunjukkan berita hoaks yang beredar mencapai 25 buah.

“Kami harus melakukan validasi dan verifikasi untuk membuktikan berita itu memang hoaks. Jadi bukan asal sebut. Nanti dikira saya bikin hoaks,” tuturnya.

Ditambahkan, peredaran berita hoaks meningkat menjadi 75 buah pada Desember 2018. Lalu, jumlahnya meningkat hingga 3 kali lipat dibanding sebelumnya menjadi 175 buah. Pada Februari 2019 jumlahnya sudah mencapai 353 buah dan Maret 2019 menjadi 453 buah. “Meningkatnya capai ribuan persen,” ucap Rudi menegaskan.

Disebutkan, berita hoaks terbesar tentang politik terutama pemilihan presiden. Jumlahnya mencapai 23 persen dari total berita hoaks yang terverifikasi. “Masing-masing pasangan calon (paslon) baik 01 maupun 02 melaporkan berita-berita hoaksnya,” ucapnya.

Rudi berharap di masa tenang nanti, tidak ada lagi peredaran hoaks baik di masyarakat maupun media sosial. “Jangan sebar hoaks. Karena yang ghibbah (bergunjing) saja tidak dapat pahala, apalagi menyebar fitnah dengan tujuan untuk mengadu domba,” katanya.

Ia juga berharap pada anak muda generasi milenial untuk tidak terlibat dalam penyebaran berita hoaks. Karena hal itu akan menanamkan kebencian di kalangan muda terhadap paslon yang akan memimpin Indonesia.

“Saya liat tak semua anak muda menyebar hoaks. Ada yang hobinya eksis di media sosial. Seluruh aktivitasnya ditampilkan di media sosial,” katanya.

Rudi meminta pada kalangan muda untuk ikut dalam pemilihan presiden. Karena paslon yang dipilih akan berdampak pada wajah Indonesia di masa depan. “Jadi bagi kalangan milenial datanglah ke tempat pemungutan suara pada 17 April. Hanya 5 menit waktu yang dibutuhkan untuk mencoblos kertas suara. Pilihanmu akan menentukan masa depan Indonesia,” kata Rudi menegaskan. (Tri Wahyuni)