Jelang SEA Games XXX, KOI Ganggu Mental Atlet

0
Pesilat Pelatnas pukul sansak hilangkan rasa kesal. (suarakarya.co.id/ist)

JAKARTA (Suara Karya): “Aneh tapi nyata” itulah yang dilakukan Komite Olahraga Indonesia (KOI) menjelang atlet berangkat menuju SEA Games ke 30 di Manila, Filipina yang akan digelar mulai 30 November hingga 11 Desember 2019. Hal itu terjadi ketika KOI “Mengkebiri” keleluasaan atlet untuk meraih prestasi puncak.

“Betapa tidak, para pendukung seperti masur, asisten pelatih, psikolog, dokter tim, dan keuangan tim yang sangat berperanan bagi atlet dan sudah mendapat SK dari Kemenpora dicoret oleh KOI tidak terdaftar menuju SEA Games XXX Filipina,” jelas Sekum PB IPSI, Erizal Chaniago di Jakarta, Selasa (19/11/2019).

Padahal, para atlet sudah tiap hari mendapat dukungan dari dokter, psikolog, asisten pelatih, tukang urut saat otot-ototnya menegang dan bidang keuangan yang mengurus tiket dan segala keperluan selama di Pelatnas. Namun tiba-tiba diputus dan dinyatakan tidak terdaftar dalam kontingen yang berangkat ke Filipina.

Bahkan yang lebih parahnya kata manajer tim SEA Games XXX Sunarno, lima peran pendukung dicoret dengan pertimbangan efisiensi. Padahal disatu sisi KOI membentuk tim medis sendiri mengangkat tim manajer cluster yang tidak ada hubungannya dengan peningkatan prestasi atlet, baik saat sebelum maupun setelah pertandingan untuk menghasilkan prestasi maksimal.

Sunarno yang akrab dipanggil Nano sempat tanda tanya, kenapa KOI kepemimpinan Raja Sapta Oktohari tidak belajar banyak dengan kejadian SEA Games sebelumnya, baik di Malaysia maupun di Singapura dimana banyak personil yang diberangkatkan dari KOI kerjanya tidak jelas selama SEA Games berlangsung.

Lebih jauh Nano mengatakan, atlet Pelatnas SEA Games setelah mendapat tekanan dari KOI yang tidak memberangkatkan faktor pendukung, honor atlet per Oktober terlambat hingga pertengahan November 2019. “Semua laporan dan persyaratan administrasi sudah diserahkan ke Deputi Bidang Prestasi Kemenpora, namun kenapa hingga kini kekurangan dana 30 persen yang dijanjikan belum cair,” tegas Nano lagi.

Padahal 12 hari lagi ke 12 atlet silat akan berjuang tampil dalam pertandingan. “Kondisi itu yang menjadi tanda tanya kenapa faktor mental atlet mendapat tekanan untuk mengejar prestasi puncak. Padahal menjelang pertandingan yang paling utama ditingkatkan adalah faktor mental. Kejadian seperti itu sering terjadi saat atlet akan tampil dalam pertandingan di SEA Games,” tegas Nano seraya berharap honor atlet secepatnya cair sebelum berangkat ke Filipina agar tidak mengganggu mental atlet saat tampil dalam pertandingan. (Warso)