Jika Diet Selalu Gagal, Kenapa Tidak Coba Cara Medis Ini!

0

JAKARTA (Suara Karya): Ternyata bukan persoalan mudah mengurangi nafsu makan, demi menjaga berat badan tubuh yang ideal. Apalagi para ‘stress eater’, yang menjadikan makanan sebagai penghilang stress, biasanya rencana diet akan berakhir gagal.

Jika kondisinya demikian, tidak ada salahnya mencoba cara yang dilakukan dokter spesialis bedah Siloam Hospitals Kebon Jeruk, Wifanto Saditya Jeo untuk penurunan berat badan. Biayanya memang tak murah, tetapi semua itu tidak sia-sia jika melihat hasilnya!

“Bedah bariatrik dan metabolik baru boleh dilakukan jika penerapan pola makan, obat-obatan, latihan fisik dan cara lainnya tidak pernah berhasil,” kata Wifanto Saditya Jeo dalam diskusi media, di Jakarta, Kamis (30/1/20).

Dalam kesempatan itu, ia didampingi dokter spesialis gizi klinik, Siloam Hospitals Kebon Jeruk, Marya Warascesaria Haryono.

Wifanto sempat menyayangkan, obesitas belum dianggap sesuatu yang serius oleh para pengelola kesehatan di Indonesia. Karena operasi bariatrik dan metabolil (pengukuran ukuran lambung) masih dianggap sebagai tindakan “komestik” untuk penampilan, bukan masalah kesehatan serius.

“Operasi bariatrik tak masuk dalam daftar yang ditanggung oleh program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), karena dianggap tindakan kosmestik. Padahal upaya ini bisa menjadi solusi bagi penderita obesitas yang jumlahnya terus meningkat setiap tahun,” tuturnya.

Di Indonesia, Wifanto mengutip data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang menunjukkan prevalensi penderita obesitas usia dewasa sebesar 21,8 persen. Angka itu meningkat signifikan dibandingkan Riskesdas 2013 yang menunjukkan angka 14,8 persen.

“Padahal komplikasi yang terjadi pada penderita obesitas tak sedikit, yaitu penyakit paru-paru, kolesterol tinggi, stroke, diabetes tipe 2, varises, hipertensi, sesak napas, aterosklerosis, asma, penyakit asam lambung, apnea tidur, batu empedu, disfungsi ereksi, gangguan ereksi, gangguan menstruasi, ginjal, gangguan hati, sakita sendi, kanker usus, kanker rahim, kanker payudara hingga serangan jantung,” ujarnya.

Ditanya metode baru yang dilakukan Siloam Hospitals dalam penurunan berat badan, Wifanto menyebutkan, pihaknya tak hanya melakukan tindakan bariatrik (membatasi jumlah asupan makanan), tetapi juga malabsorpsi (membatasi penyerapan makanan dalam saluran usus).

“Operasi bariatrik yang kami lakukan adalah memotong 2/3 dari ukuran lambung. Pasien akan merasa cepat kenyang, sehingga tak makan berlebihan,” katanya.

Selain itu, Wifanto menambahkan, pihaknya juga “memotong” sebagian usus untuk memperpendek proses penyerapan makanan. Semakin sedikit zat yang diserap tubuh, maka tubuh akan semakin kurus. “Sebenarnya usus halusnya tak benar-benar dipotong. Jalur baru dibuat pada usus halus yang lebih dekat ke colon. Jadi makanan yang diserap tubuh tak banyak,” katanya.

Ditanya alasan tak adanya pemotongan sisa usus yang tak terpakai seperti halnya lambung, Wifanto mengatakan, pihaknya tidak punya alasan khusus. Sisa usus masih ada dalam organ perut karena keberadaannya dianggap tidak mengganggu proses. “Buat aksesoris saja. Siapa tahu dibutuhkan di masa depan,” ujarnya.

Soal risiko yang terjadi pascaoperasi, Wifanto mengatakan, risikonya sangat kecil yaitu 1-5 persen. Karena pihaknya memakai metode bedah minimal invasif dengan teknik laparoskopi. Proses operasi hanya berlangsung selama 1-2 jam, dengan luka sayatan kecil di perut sekitar 1 cm.

“Pasien hanya perlu istirahat 1 hari, setelah itu boleh pulang. Selama 2 minggu, pasien tidak boleh makan padat. Proses penyembuhannya melibatkan dokter spesialis gizi klinik agar hasilnya optimal,” katanya.

Ditanya ukuran lambung bisa kembali membesar, Wifanto mengatakan, kemungkinan itu bisa terjadi jika pasien tidak bisa menjaga makanan. Namun, pembesaran tak banyak hanya sekitar 30 persen. Itupun prosesnya terjadi beberapa tahun setelah operasi.

Soal biaya, Wifanto menyebut, angkanya bervariasi tergantung pada pelayanan dan kelas perawatan yang dipilih. Biayanya mulai dari Rp50 juta hingga 120 juta per tindakan. “Kalau operasinya murah, yang mahal itu alat yang digunakan untuk memotong. Karena operasi ini tergolong minimal invasif dengan sayatan kecil,” ucap Wifanto menandaskan. (Tri Wahyuni)