JKN-KIS Jadi Barometer Jaminan Sosial Bidang Kesehatan Tingkat Dunia

0

JAKARTA (Suara Karya): Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) menjadi salah satu barometer dalam jaminan sosial bidang kesehatan tingkat nasional. Karena dalam kurun waktu 6 tahun, program tersebut mampu mengcover 84,1 persen dari total penduduk Indonesia.

Berkat keberhasilan itu, Direktur Utama Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, Fachmi Idris menjadi salah satu pembicara dalam acara General Assembly World Social Security Forum (WSSF) ke-33 yang digelar di Brussels, Belgia pada 14-18 Oktober 2019.

Fachmi dalam kesempatan itu bahkan menyampaikan usulan strategis dan tantangan dalam jaminan sosial bidang kesehatan, sekaligus memaparkan implementasi Program JKN-KIS kepada negara-negara lain.

Forum WSSF sendiri merupakan forum tertinggi dan terpenting dalam organisasi ISSA (International Social Security Association) yang melibatkan lebih dari 1.000 peserta dari sekitar 150 negara anggota. Jumlah itu termasuk di dalamnya para menteri, presiden organisasi dunia, serta para pemimpin senior dalam dunia jaminan sosial.

Fachmi Idris dalam paparannya menjelaskan, tantangan dunia berupa angka usia harapan hidup yang meningkat. Karena itu, perlu langkah antisipasi dengan makin bertambahnya populasi kelompok usia tua di dunia. Upaya itu butuh komitmen politik yang tinggi, selain strategi nasional yang jelas terkait jaminan kesehatan di semua negara.

Fachmi mendorong pentingnya melahirkan konsep Health in All Social Security Policy (HiASSP) sebagai upaya kunci. Secretary General ISSA Marcelo Abi-Ramia Caetano yang hadir sebagai panelis terkesan dan mengapresisasi usulan yang disampaikan tersebut.

Fachmi Idris yang juga menjabat sebagai Chairperson of a Technical Commission on Medical Care and Sickness Insurance of ISSA dalam kesempatan itu mendapat penghargaan khusus dalam ISSA Award for Outstanding Achievement in Social Security. Ia dinilai berhasil dalam mengangkat isu seputar jaminan sosial dan langkah antisipasinya.

“Menjadi lembaga pengelola program jaminan kesehatan terbesar di dunia bukan berarti tak memiliki tantangan. Penghargaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus mengembangkan inovasi dalam program JKN-KIS di Indonesia,” kata Fachmi dalam siaran pers yang diterima Suara Karya pada Selasa (15/10/2019).

Di tengah dinamika yang ada, prestasi BPJS Kesehatan di dunia internasional tak diragukan lagi. Tahun lalu, BPJS Kesehatan menjadi satu-satunya negara anggota ISSA yang panen penghargaan dalam ajang ISSA Good Practice Award 2018 Kategori Kawasan Asia Pasifik. Sembilan penghargaan berhasil disabet BPJS Kesehatan, bahkan 3 di antaranya dapat gelar special mention dari ISSA.

Dalam pertemuan ISSA di Panama pada 2016 lalu dikeluarkan laporan tentang 10 tantangan yang dihadapi dunia dalam penyelenggaraan jaminan sosial. Ke-10 tantangan itu meliputi kesehatan dan long term care, kesenjangan cakupan kepesertaan program di sektor non formal, penuaan populasi, transisi teknologi, ekspektasi publik yang makin tinggi, pengangguran usia muda, lapangan kerja dan ekonomi digital, ketidaksetaraan dalam kehidupan, risiko dan kejadian ekstrim, serta proteksi terhadap buruh migran.

“Pertemuan World Social Security Forum kali ini juha membahas kemajuan setiap negara di dunia dalam menjawab sepuluh tantangan lewat sejumlah inovasi yang dilakukan anggota ISSA,” ujarnya.

Dalam laporan ISSA ada pilot project BPJS Kesehatan yang disebut sebagai inovasi menarik, yaitu layanan home care bagi pasien JKN-KIS lansia penyandang stroke. Berdasarkan pilot project itu, layanan home care hasilnya lebih efektif dan efisien dibanding perawatan di rumah sakit.

“Layanan home care bagi penyandang stroke ini kemudian diangkat ISSA sebagai best practice sharing dalam laporan ISSA pada 2019,” kata Fachmi menandaskan. (Tri Wahyuni)