Johansyah Lubis : Sosialisasi LTAD Cabang Pencak Silat, Mengacu pada IPTEK

0

JAKARTA (Suara Karya) : Dunia olahraga mengalami perkembangan cukup cepat, baik dalam segi kualitas atlet maupun event yang diikutinya. Upaya menjawab semua itu, PB IPSI bekerja sama dengan Deputi IV Bidang pembinaan prestasi Kemenpora memberikan sosialisasi pembinaan cabang olahraga pencak silat yang mengacu model Long-Term Athlete Development (LTAD).

“Saya berharap sosialisasi LTAD dalam pembinaan cabang pencak silat yang diikuti 64 pelatih dari Jabodetabek itu mampu menjawab tantangan pembinaan atlet yang mengacu pada pendekatan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) olahraga, ” tegas Dekan Fakultas Ilmu Olahraga UNJ, Johansyah Lubis di GOR UNJ Jakarta, kemarin.

Sosialisasi LTAD cabang pencak silat dibuka langsung Asisten Deputi IV Bidang Pembibitan dan IPTEK Kemenpora, Bayu Rahadian, dan dihadiri pembicara Wakil Ketua Umum PB IPSI, Tunas Dwidharto, dan Agung Robianto, Dosen FIK UNJ.

Sebagai pembicara Johansyah yang juga mantan pesilat dunia menegaskan, berbagai upaya yang dilakukan untuk meningkatkan prestasi pencak silat, diantaranya, meningkatkan intensitas penyelenggaraan kejuaraan pencak silat, baik ditingkat nasional maupun internasional.

Begitu juga dengan menyelenggarakan pelatihan bagi pelatih pencak silat dan
menyelenggarakan pelatihan bagi wasit-juri dan menyelenggarakan pusat pendidikan dan pelatihan pencak silat bagi pelajar serta mahasiswa.

Secara umum, pembinaan olahraga dapat diklasifikasikan dalam dua kategori, yaitu, spesialisasi Dini (Early Specialization Model) dan Spesialisasi Akhir (Late Specialization Model). Olahraga spesialisasi dini (early specialization model) memerlukan model empat fase, yaitu: Training to Train stage, Training to Compete, Training to Win, dan Retirement
/Retainment.

Berdasarkan tinjauan karakteristik, katanya, cabang olahraga pencak silat termasuk dalam cabang olahraga spesialisasi akhir. Untuk itu, pembinaan cabang olahraga pencak silat perlu mengacu model Long-Term Athlete Development (LTAD) yang disosialisasikan pada para pelatih pencak silat tersebut.

Menurutnya, model LTAD Balyi telah digunakan sebagai patokan di berbagai negara dalam melakukan pembinaan atlet jangka panjang. Oleh karena penerapan model tersebut akan mempermudah pembagian tanggung jawab segenap unsur yang terlibat dalam proses pembinaan.

Dengan demikian jenjang karir atlet dapat diarahkan dan dipantau mulai dari awal sampai dengan puncak prestasi dan bahkan setelah pensiun sebagai atlet. Selain itu, jenjang kompetisi juga dapat ditata lebih baik sesuai tahapan tumbuh kembang atlet (anak).

Menurutnya, tahap-tahap LTAD dalam. cabang pencak silat memiliki klasifikasi seperti halnya Kategori Tunggal, kategori tanding, kategori ganda,  dan kategori  regu. Namun semua pembinaannya tetap mengacu pada IPTK, dengan harapan kesehatan dan keselamatan atlet tetap terjaga hingga mencapai prestasi puncak era keemasan. (Warso)