Jokowi: Gunakan Pola Lama dalam Kampanye, Itu Namanya Politik ‘Sontoloyo’

0

TANGERANG (Suara Karya): Presiden Joko Widodo meminta elite politik menggunakan cara-cara sehat dalam upaya menarik simpatik rakyat menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Hal itu perlu dilakukan agar tidak mengganggu keutuhan bangsa serta tidak menimbulkan kebencian antar-anak bangsa.

Dia mengatakan hal itu, menanggapi maraknya kampanye yang cenderung mengarah pada praktik adu domba, memecah belah, dan mengundang kebencian dalam mencari simpati rakyat.

Pola kampanye seperti itu, kata Presiden, selain berpotensi memecah belah keutuhan bangsa, juga dinilai sudah usang.

“Ini bukan zamannya lagi menggunakan politik adu domba, pecah belah, kebencian. Sudah bukan zamannya,” kata Presiden Jokowi, usai meresmikan pembukaan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-33 Tahun 2018, di Indonesia Convention Exhibition (ICE), Tangerang, Rabu (24/10/2018).

Dia mengatakan, menjelang Pemilihan Umum (Pemilu), berbagai cara yang tidak sehat digunakan para politisi untuk menarik dukungan rakyat. Bahkan, cara yang ditempuh tidak menggunakan tata krama.

“Menjelang Pemilu banyak cara yang tidak sehat digunakan politisi. Segala jurus dipakai untuk menarik simpati rakyat. Tapi banyak yang tidak baik yang sering dipakai lawan politik. Tidak ada tata kramanya,” katanya menambahkan.

Seharusnya, menurut Presiden, para politisi bertarung dengan cara adu program, gagasan, ide, prestasi, dan rekam jejak. “Kalau masih memakai cara lama, politik kebencian, SARA, adu domba itu namanya politik sontoloyo,” kata Presiden Jokowi. (Gan)