Jokowi: Imlek Harus Jadi Momentum Kerukunan Beragama

0
Foto: (Suarakarya.co.id/Tri Wahyuni)

JAKARTA (Suara Karya): Perayaan Imlek seharusnya jadi momentum untuk terus memelihara kesatuan, persaudaraan dan kerukunan dalam beragama. Karena Indonesia terdiri atas beragaman suku, budaya dan adat, bahasa serta agama.

“Termasuk perayaan Imlek tahun ini, yang dirayakan bersama lewat pembentukan panitia nasional,” kata Presiden Joko Widodo dalam perayaan Imlek Nasional di Jakarta International Expo Kemayoran Jakarta, Kamis (7/2/2019).

Hadir dalam kesempatan itu Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, Wakil Presiden ke-6 Try Sutrisno, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Ketua DPR Bambang Soesatyo dan Ketua DPD Oesman Sapta Odang.

Selain itu hadir pula Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj serta mantan Ketua Umum Muhammadiyah Syafii Maarif.

Perayaan Imlek tahun ini terbilang istimewa, karena dihadiri lebih dari 12 ribu orang dari berbagai daerah di Indonesia. Begitupun desain panggung yang dibuat sesuai tema perayaan “Merajut Kebhinekaan Memperkokoh Persatuan”. Permainan warna merah dan putih terlihat ciamik karena dipadu padan dengan motif mega mendung khas Cirebon.

Perayaan Imlek Nasional ini terasa istimewa karena pilihan desain, susunan acara dan pesertanya dirangkai sedemikian rupa sehingga sesuai dengan temanya. Warna dasar yang menjadi latar belakang acara ini adalah merah putih (dimensi kebangsaan) yang dirangkai dengan motif batik mega mendung (dimensi akulturasi budaya).

Ketua Panitia Imlek Nasional 2019, Sudhamek Agoeng Waspodo Soenjoto meminta komunitas Indonesia-Tionghoa untuk ikut aktif meneruskan perjuangan pendahulu dalam memajukan Indonesia sebagai bangsa besar yang disegani, mandiri secara ekonomi, berdaulat secara politik, berkepribadian dan berbudaya luhur serta berkeadilan sosial.

“Mari mengakhiri semua prasangka dan mulai menumbuhkan spirit kebaikan serta perdamaian dalam keberagaman atau Bhinneka Tunggal Ika,” ucap Sudhamek yang pada kesempatan itu didampingi Teddy Sugianto dan David Herman Jaya sebagai Wakil Ketua, Sekretaris Eddy Hussy dan Ulung Rusman, serta Pui Sudarto, Husin Widjajakusuma, Ferry Salman sebagai Bendahara.

Ditambahkan, rangkaian acara juga dibuat unik dengan mengkombinasikan alat musik Indonesia dan Tiongkok. Misalkan, alat musik klasik Guzheng digunakan untuk mengiringi lagu kebangsaan Indonesia. Sebaliknya Kolintang digunakan untuk mengiringi lagu-lagu daerah Indonesia maupun lagu Mandarin.

Atraksi khas Tionghoa Barongsai juga ditampilkan bersama dengan Reog dan Ondel-ondel. Panitia juga mengundang total 29 raja dari seluruh nusantara serta tokoh-tokoh nasional yang mewakili bidangnya masing-masing.

Tahun Baru Imlek merupakan hari penting dalam tradisi masyarakat Tionghoa dan telah menjadi ekspresi tradisi yang dirayakan di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Penetapan Hari Raya Imlek sebagai hari libur Nasional merupakan salah satu bentuk pengakuan negara terhadap suku Indonesia-Tionghoa, yang tak lepas dari pasang surut sejarah Indonesia.

Salah satunya terekam dalam Harian Merdeka edisi 17 Februari 1946 yang meneguhkan komitmen suku Indonesia-Tionghoa dalam menegakkan kedaulatan Indonesia. Perayaan Imlek ditetapkan secara libur nasional pada 2013 lalu. (Tri Wahyuni)