Kadiskes Pd-Pariaman tak Tahu Kematian di Kursi Roda, Keluarga Pertanyakan Pelayanan Puskesmas Batu Basa

0
Puskesmas Batu Basa. (Foto: Ist)

JAKARTA (Suara Karya): Peristiwa meninggalnya Amril Tanjung yang tengah duduk di kursi roda Puskesmas Batu Basa, Kecamatan Aur Malintang, Padang Pariaman, Sumatera Barat menyisakan pertanyaan oleh pihak keluarga terkait pelayanan di Puskesmas tersebut. Apalagi, Kepala Puskesmas Batubara tidak mau membuka Cloused Circuit Television (CCTV) Puskesmas tersebut dan mengatakan CCTV disambar petir.

Kepala Dinas Kesehatan Padang Pariaman Yutiardy Rivai, juga tidak mengetahui peristiwa kematian di kursi roda Puskesmas Batu Basa pagi hari pada 23 Oktober 2021 tersebut. Kadis berjanji akan menguhubungi langsung pihak Puskesmas kenapa kejadian itu tidak bisa dilihat dari CCTV yang tersedia untuk pelayanan.

“Belum ada informasinya, apa penyebabnya, Batu Basa kan ada piket,” kata Yutiardy Rivai kepada suarakarya.co.id, Minggu (14/11/2021).

Malahan Kadis, lengkapnya Drs. Yutiardy Rivai Apt, balik bertanya, “Kejadiannya kapan, kalau ada kronologisnya kita bisa minta informasi dari kawan-kawan Puskesmas Batu Basa.”

Ditanya kenapa Kepala Puskesmas Batu Basa Elida tidak mau membuka CCTV, Kadis mengatakan semestinya CCTV bisa dibuka agar dapat memberikan informasi yang sesungguhnya. “Kita minta klarifikasi dulu, kejadiannya kapan,” ujarnya.

Menurut Yutiardy, peristiwa kematian mendadak bisa dialami seseorang bila terserang penyakit jantung sesaat atau kondisinya darurat dia tahan dan, yang bersangkutan pergi sendiri ke Puskesmas.

“Yang meninggal sendiri mengendarai motor, mungkin karena kondisinya darurat, jantung sesaat, atau penyakit lain yang mengarah tidak sadar lebih dalam. Kalau pergi sendiri itu, kadang-kadang petugas di dalam tidak tahu, di kendaraan mungkin sudah terkulai (lemas) juga. Kalau (kedatangannya ke Puskesmas) di CCTV kita bisa cigok (monitor). CCTV bagian dari kontrol,” katanya.

Bupati Padang Pariaman Suhatribur yang juga diminta konfirmasinya melalui handphone dan WhatsApp (WA), belum memberikan respon pada Minggu (14/11/2021).

Dari rekaman jantung (alm) Amril Tanjung, meninggal di kursi roda Puskesmas Batu Basa, yang diperoleh keluarga bersangkutan, diketahui rekaman itu waktunya pagi hari, pukul 08:14:54, tanggal 23 Oktober 2021.

Keluarga besar (alm) Amril Tanjung masih bertanya-tanya kenapa mereka tidak diizinkan oleh Kepala Puskesmas Elida melihat CCTV Puskesmas tersebut.

Rudi Hartono, adik kandung (alm) Amril Tanjung mengungkapkan, dengan tidak dibukanya CCTV Puskesmas maka pihaknya melihat ada unsur kelalaian dalam pelayanan kepada masyarakat dari pihak Puskesmas tersebut. Karena, kakak kandungnya tidak mendapat pelayanan sejak kadatangannya hingga meninggal dalam posisi duduk di kursi roda milik Puskesmas Batu Basa, Kecamatan Aur Malintang. Bahkan ada dugaan ada yang ditutup-tutupi di Puskesmas tersebut.

“Saya tidak tahu bagaimana bentuk pelayanan dari Puskesmas Batubasa karena, sejak kakak saya datang pagi-pagi tidak mendapat pelayanan begitu sampai di Puskesemas. Kakak saya berangkat dari rumah selesai shalat subuh hendak memeriksa kesehatannya tetapi tidak ada pelayanan sampai akhirnya meninggal dalam posisi duduk di kursi roda. Sungguh lama sekali dia di kursi roda tidak ada pihak Puskesmas yang mengetahuinya, sampai para petugas tidak mengetahui orang masuk. Jelas, hal ini berbahaya bila orang masuk pihak Puskesmas tidak tahu,” kata Rudi Hartono kepada suarakarya.co.id di Jakarta, Sabtu (13/11/21).

Aneh kakak saya lama sekali duduk sendiri di kursi roda di Puskesmas tanpa ada petugas yang memperhatikan dan memberikan pertolongan. Padahal, ada CCTV tetapi Kepala Puskesmas mengatakan CCTV itu mati. Namun, saya dapat informasi, CCTV hidup,” kata Rudi Hartono di Jakarta, Sabtu (13/11/21).

Rudi Hartono yang tinggal di Kota Bekasi mengatakan baru beberapa hari kembali dari kampungnya Balaik Baiak, Kecamatan Aur Malintang, masih belum puas dengan pernyataan kepala Puskesmas Batu Basa Elida yang menyatakan CCTV disambar petir. Menurut Rudi, keluarga besarnya ingin mengetahui informasi yang jelas mengenai informasi kematian saudara mereka apalagi CCTV dikatakan disambar petir namun menurut pihak di lingkungan Puskesmas alat monitor itu masih aktif dan tidak disambar petir.

“Masa Bu Kepala Puskesmas katakan CCTV ditembak ‘patuih’ padahal ada informasi yang dapat dipercaya bahwa CCTV hidup. Sekarang kami diselimuti pertanyaan kenapa kepala Puskesmas tidak mau CCTV dibuka agar jelas semuanya, ada informasi yang nyata secara visual dari CCTV tersebut,” pinta Rudi.

Rudi menjelaskan, orang pertama yang mengetahui kakaknya (alm) Amril Tanjung meninggal di kursi roda adalah Len, seorang petugas K3 atau cleaning servise. Len menjelaskan, melihat orang duduk di kursi roda dan memberi petugas.

“Saya melihat bapak itu duduk di kursi roda.” Saya tanya ke uni, apa sudah ada dari tadi, dijawab ada,” jelas Len.

Kemudian, tambahnya Bapak itu dibawa ke dalam ruangan. “Yang membawa ke dalam ruangan (Puskesmas) adalah dDa Er (sopir Puskesmas). Yang mengangkat jam 07.00 pagi itu, Da Er. Kata orang yang melihat, dia (kordan) datang masuk pagar, dia parkir motornya, tidak mengetok pintu, hanya duduk di kursi roda,” ujar Len.

Menurut penjelasan Sopir Puskesmas, dirinya dipanggil Len dan melihat ada orang duduk di kursi roda dan bersama memindahkannya ke dalam ruangan Puskesmas.

“Waktu si Len memanggil, Pak Am (alm Amril Tanjung) itu di kursi roda, kami dorong kursi roda kami pindahkan ke tempat tidur, diikuti yang lain, petugas malam berdua membantu mengangkat kakinya. Setelah itu saya mengisi Oksigen, berangkat ke Lubuk Alung. Itu yang saya tahu,” jelas Sang Sopir.

Ditanya siapa piket malam itu, Len mengatakan, ada tiga orang bidan, yaitu Imah, Ipti, Ulfa. Salah seorang diantaranya, Bidan Imah yang mengaku dirinya baru setahun bertugas di Puskesmas Batu Basa mengatakan, setelah pasien dibawa masuk (ke ruangan) langsung dilakukannya pemeriksaan.

“Sesudah masuk, lapor dokter cek EKG (cek jantung), pupil, nadi, tidak ada lagi (sudah meninggal). Saya kirim hasilnya ke dokter, sudah los, dan kemudian datang keluarga,” jelas Imah.

Rudi menanyakan, apakah kakaknya diperiksa setiba di Puskesmas, Kepala Puskesmas Elida yang sudah delapan tahun bertugas di Batubasa, tidak secara tegas menjelaskan. Dia hanya menyebutkan bahwa setiap malam selalu ada tiga orang piket atau jaga malam, tetapi jarang sekali ada pasien masuk malam hari.

“Di sini pasien jarang, maka biasanya petugas istirahat. Selalu dilayani (jika ada orang datang berobat), tiap malam ada tiga orang (piket) dan biasanya tidak ada masalah. Dokter ada, tinggalnya di sebelah Puskesmas. Dulu ada bel, bisa dihubungi tapi (sekarang) rusak ketika merehab Puskesmas,” paparnya.

“CCTV ditembak patuih (mati),” kata Elida ditirukan Rudi. (dra)