Kalangan Muda di Flores Timur dan Sikka Dapat Pelatihan Literasi Digital

0

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi (GNLD) menggelar pelatihan literasi digital bagi 400 kalangan muda di Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dalam siaran pers yang diterima, Senin (3/10/22) disebutkan, kegiatan di Larantuka dibuka Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Flores Timur, Heronimus Lamawuran.

Dalam sambutannya, Heronimus mengajak masyarakat Larantuka untuk menjaga privasinya di media sosial maupun platform digital lain. “Coba buat konten yang berguna di media sosial, bukan sekadar joget-joget tidak jelas,” ujarnya.

Berbagi konten positif, menurut Heronimus, dapat memberi kebahagiaan dan menambah pengetahuan kepada teman atau keluarga yang menonton tayangan tersebut.

Tema workshop literasi digital di Kabupaten Flores Timur adalah ‘Produktif di Media Sosial dengan Aman, Beretika, dan Berbudaya’. Sebagai narasumber konten kreator dan musisi Fransiskus Padji Tukan, tokoh pendidikan dari kalangan muda Maksimus Masan Kian, dan penggiat literasi digital, Khemal Andrias.

Fransiskus Padji Tukan mengatakan, hidup di era digital harus pandai-pandai memilah informasi. Karena informasi bisa berbahaya jika tidak digunakan dengan baik.

“Realitas sekarang ini sedang tergantikan dengan siber. Media sosial terasa lebih nyata dibanding orang di depan kita. Hal itu bisa berbahaya, jika kita tidak cek fakta lebih dulu  saat mendapat informasi,” ucapnya.

Maksimus Masan Kian menyampaikan, media sosial dapat bermanfaat bagi diri sendiri maupun banyak orang jika digunakan secara baik dan beretika.

“Kecakapan digital yg bagus tidak terletak pada bagaimana keterampilan seseorang mengoperasikan perangkat digital, tetapi bagaimana perilaku atau etika dalam menggunakan media secara bertanggung jawab, bermanfaat, dan memberi makna bagi banyak orang,” katanya.

Literasi digital menjadi penting karena hazil Survei Indeks Literasi Digital Nasional Indonesia yang diselenggarakan Kemkominfo dan Katadata Insight Center pada 2021 disebutkan, Indonesia masih berada dalam kategori ‘sedang’ dengan skor 3.49 dari 5.00.

Materi literasi digital didasarkan pada 4 pilar utama, yaitu kecakapan digital, etika digital, budaya digital, dan keamanan digital.

Sesi terakhir, Khemal Andrias menampilkan video ilustrasi mengenai kerentanan data pribadi untuk dibobol saat pengguna lalai dalam membagikan kegiatannya di media sosial.

“Sebenarnya yang paling mungkin melanggar data pribadi adalah diri kita sendiri. Karena itu kita harus berhati-hati sebelum memposting kegiatan di media sosial,” tuturnya.

Khemal mengajak peserta menggunakan tools untuk memeriksa data pribadi mereka apakah pernah digunakan orang lain atau tidak, serta membagikan tautan agar peserta dapat mengakses materi-materi mengenai keamanan digital.

Di Kabupaten Sikka, workshop dibuka Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo. Katanya, di era keterbukaan informasi seperti saat ini berkaitan dengan produk.

“Semua sudah tersedia mulai dari cara pembuatan dan pemasaran, tinggal kemauan masyarakat untuk menghasilkannya atau tidak,” ucapnya.

Dengan tema yang sama, kegiatan workshop di Kabupaten Sikka diisi narasumber lokal dan nasional seperti influencer Handrianus Yovin Karwayu, tokoh pendidikan Gerry Gobang penggiat literasi digital Khemal Andrias.

Handrianus mengingatkan, media sosial bisa digunakan bukan hanya untuk bergaya atau membagikan hal-hal yang tidak baik, tetapi juga bisa digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat.

“Kita menggunakan medsos jangan sampai menyebarkan hoaks, itu sama saja seperti tukang tipu. Medsos kita pakai untuk mem-branding apa saja, seperti personal branding, produk bahkan daerah kita,” katanya.

Gerry Gobang menyampaikan, batasan antara yang terang dan gelap di media sosial itu sangat tipis. Diperlukan etika dalam penggunaannya agar tidak terjebak dalam sisi gelapnya.

“Etika dalam bermedia sosial itu diperlukan agar kita dapat lebih bijak dalam memanfaatkan media sosial,” ucapnya. (Tri Wahyuni)