Kali Item Sunter Dipenuhi Limbah Deterjen

0
Istimewa

JAKARTA (Suara Karya): Ada yang berbeda dari Kali Item Sunter, Jakarta Utara, pagi ini. Kali Item tiba-tiba dipenuhi busa seperti tumpukan salju. Pemandangan ini membuat heboh warga sekitar.

Kejadian ini viral di media sosial, salah satunya di instagram. Video Kali Item ‘bersalju’ ini diposting oleh netizen melalui akun @jktinfo.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Isnawa Adji mengatakan tumpukan busa itu berasal dari limbah deterjen.

“Iya pasti itu limbah, tapi kita belum ngecek kan baru mikirin sampah-sampah tahun baru. Tapi yang pasti kan itu pencemaran, bagaimana pun kan dari rumah tangga itu suka banyak limbah-limbah deterjen, kayak cucian piring, ya kan. Cucian baju itu kan semuanya deterjen-deterjen yang masuk saluran-saluran kita,” kata Isnawa , Selasa (01/01/2019).

Menurutnya, hujan dan faktor lainnya menyebabkan limbah buih deterjen tersebut semakin membesar.

“Pernah lihat enggak di rumah ada keran air kita taruh di bawahnya ember, taruh deterjen sedikit saja satu sendok itu akan menghasilkan buih-buih atau busa-busa, jelasnya.

Selain itu, Isnawa mengatakan, masyarakat Indonesia cenderung menyukai deterjen keras (hard detergent). Hal ini berbeda dengan masyarakat di Jepang. Mereka justru lebih menyukai deterjen lembut (soft detergent) yang minim busa.

“Orang Jepang senengnya soft detergent. Jadi kita gosok baju kayak apa juga enggak akan keluar busanya. Orang Indonesia percaya kalau itu deterjen kalau busa gitu,” papar Isnawa.

Dinas LHK akan segera memeriksa langsung ke lokasi akan kebenaran video tersebut. Isnawa menekankan warga Jakarta untuk mengurangi limbah yang berdampak pada tercemarnya sungai.

“Yang terpenting adalah bagaimana mengurangi sumber pencemaran, ya kan. Kembali misalnya gini, di Jakarta banyak tempat cucian-cucian motor, mobil, oke, tu kan pakai deterjen kan, deterjennya masuk ke saluran, saluran ujung-ujungnya masuk ke sungai. Nah itu sudah pencemaran,” tuturnya.

Belum lagi, lanjut Isnawa, dengan limbah cucian dari industri rumahan yang menggunakan berbagai macam zat pewarana yang mencemari lingkungan.

“Jadi bagaimana kita mau sungai kali kita bebas pencemaran kalau di kiri-kanannya masih ada pabrik, rumah tinggal, hunian-hunian tempat usaha yang menghasilkan pencemaran,” tandas Isnawa. (Rizal Cahyono)