Kampus di Lingkungan LLDikti Wilayah III Bertekad Raih ‘World Class University’

0

JAKARTA (Suara Karya): Sejumlah kampus di bawah kelola Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah III DKI Jakarta bertekad untuk terus meningkatkan kualitas, hingga tercapai status ‘World Class University’.

Hal itu terungkap dalam acara Focus Group Discussion (FGD) yang digelar LLDikti Wilayah III bersama 11 perguruan tinggi (kampus) dengan akreditasi A dan B, di Jakarta, Jumat (2/6/22).

Ke-11 perguruan tinggi itu adalah Unika Atma Jaya, Universitas Pelita Harapan, Universitas Nasional, Universitas Pancasila, Universitas Tarumanagara, Universitas Trisakti, Universitas Mercu Buana, Universitas Gunadarma, Universitas Bina Nusantara, Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka, dan Universitas Multimedia Nusantara.

Kepala LLDikti Wilayah III, Paristiyanti Nurwardani menuturkan, peningkatan kualitas pendidikan bisa ditempuh lewat kolaborasi dengan perguruan tinggi asing. Hal itu untuk mendorong semangat riset dan inovasi di kalangan dosen di kampus.

“Kerja sama dengan perguruan tinggi asing juga bukan asal ada saja. Pilih kampus asing yang mengembangkan budaya meneliti dan memiliki banyak jurnal terindeks scopus. Sehingga kerja sama itu bisa membawa kampus Indonesia di kancah internasional,” ujar Paris.

Upaya lainnya adalah meningkatkan dana kampus untuk penyelenggaraan dan riset, sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas pendidikan tinggi. “Kampus bisa ikut seleksi Kedaireka untuk mendapat dana penelitian dari pemerintah, baik melalui skema competitive fund maupun matching fund,” ucapnya.

Dijelaskan, competitive fund adalah program kompetisi bagi perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS) untuk mendapat dana penelitian yang sesuai dengan kriteria.

Sementara matching fund adalah hilirisasi penelitian hasil kerja sama perguruan tinggi dengan swasta, mitra baik kementerian/lembaga, nonkementerian, pemerintah daerah, dinas dan sebagainya.

“Transformasi dana pemerintah dalam penelitian dilakukan guna mendukung kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Hasil kerja dosen bisa digunakan masyarakat lewat rekognisi internasional,” tutur Paris.

Ditambahkan, kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat di perguruan tinggi dapat melibatkan dosen dan mahasiswa dari berbagai jenjang jenjang pendidikan, yaity S1, S2, dan S3 untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia.

Paris kembali menegaskan, target menjadi perguruan tinggi dengan peringkat dunia sebenarnya bukan tujuan utama. Namun, dampak atas capaian itu adalah perguruan tinggi Indonesia semakin diakui oleh dunia internasional.

“Indikator yang digunakan itu berbeda-beda, tetapi memiliki dimensi yang sangat luas. Yang penting, berbagai upaya dilakukan demi peningkatan kualitas dan relevansinya,” kata Paris.

Saat ini Kemdibudristek memiliki 8 Indikator Kinerja Utama (IKU) yang sejalan dengan beberapa indikator yang digunakan lembaga pemeringkatan kelas dunia atau World Class University (WCU). Jika kampus mampu meraih 8 IKU, maka perguruan tinggi itu selaras dengan peningkatan kualitas secara global.

Ditegaskan, transformasi 8 IKU memiliki dampak positif terhadap mahasiswa, dosen, maupun institusinya. Untuk mahasiswa, lulusan dapat pekerjaan yang layak (misalkan gaji diatas UMR karena kompetensi terasah selama berkuliah).

Selain itu, mahasiswa juga didorong memiliki skill kewirausahaan, melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi, mendapat pengalaman di luar kampus dari berbagai kegiatan seperti magang, proyek membangun desa, mengajar, dan sebagainya.

Bagi dosen, akan banyak pengalaman dari kegiatan yang dilaksanakan di luar kampus, seperti magang di industri dan kampus lain. Praktisi berpengalaman di industri dapat mengajar melalui Program Praktisi Mengajar. Hasil kerja dosen juga bisa mendapat direkognisi secara internasional melalui hasil riset yang bermanfaat.

Bagi institusi, IKU akan menciptakan kelas kolaboratif, memperoleh akreditasi internasional, jalinan kerja sama dengan mitra kelas dunia, terutama dalam kurikulum, magang dan penyerapan lulusan.

Diskusi juga membahas kendala yang dihadapi perguruan tinggi dalam mencapai kinerja serta solusi penyelesaiannya, seperti regulasi bagi mahasiswa asing yang dibuat lebih harmonis dengan peraturan di Kemdikbudristek, daya tarik mahasiswa asing untuk kuliah di Indonesia juga difasilitasi Kemdikbudristek.

Disebutkan program bagi mahasiswa asing lewat program-program seperti summer dan winter courses, darmasiswa, pendirian pusat kebudayaan, hingga konferensi ilmiah internasional.

Hasil diskusi bersama perguruan tinggi unggulan di lingkungan LLDikti Wilayah III akan menjadi terobosan dalam menjalankan fungsinya.

Kepala LLDikti Wilayah III juga terus menggelorakan program kampus merdeka agar perguruan tinggi Indonesia berhasil meraih status ‘World Class University’ dan kualitas lulusannya memiliki spektrum yang lebih luas dari sebelumnya. (Tri Wahyuni)