Kampus Diminta Kembangkan Gugus Tugas Tanggap Bencana

0

JAKARTA (Suara Karya): Perguruan tinggi diminta untuk mengembangkan gugus tugas tanggap bencana di kampus masing-masing. Hal itu sebagai langkah antisipatif dalam menghadapi bencana alam besar yang terjadi di Tanah Air.

“Indonesia rentan terhadap bencana alam, karena ada di kawasan cincin api Pasifik dan tiga lempeng tektonik besar yaitu Indo-Australia, Samudera Pasifik dan Eurasia yang terus bergerak,” kata Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), Ismunandar di Jakarta, Kamis (18/4/2019).

Dalam acara sosialisasi program Kampus Tangguh Bencana, Ismunandar kembali meminta agar program itu tidak dilakukan mulai dari nol, tetapi lewat aksi nyata. Misalkan, latihan evakuasi mandiri pasca bencana alam, uji sirene peringatan dini, uji shelter serta lainnya sesuai kebutuhan dan potensi bencana di wilayah masing-masing.

“Untuk wilayah Aceh yang rentan gempa dan tsunami, kampus disana bisa kembangkan pelatihan untuk dua bencana tersebut. Untuk kampus di Jawa Barat, fokus penelitian dan pelatijan pada bencana gempa dan tanah longsor. Kampus lainnya, pada bencana banjir bandang,” katanya.

Dengan demikian, lanjut Ismunandar, kampus memiliki spesialisasi keahlian yang bisa diterapkan pada daerah yang memiliki potensi untuk terjadi bencana alam tersebut. Keahlian tersebut dibutuhkan sebagai langkah pencegahan agar tidak memakan banyak korban.

Pemerintah akan mencanangkan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) pada 26 April mendatang. Penetapan itu merujuk pada Undang-Undang (UU) Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

“Lewat penetapan HKB ini, kalangan kampus dan masyarakat setempat diminta untuk melakukan simulasi bencana dan latihan evakuasi mandiri. Kegiatan itu dilakukan secara serentak pada 26 April pada pukul 10 waktu setempat,” tuturnya.

Upaya itu, lanjut Ismunandar, bertujuan untuk mengubah perspektif masyarakat terhadap penanggulangan bencana dari responsif menjadi preventif secara terpadu, terencana dan berkesinambungan. Diharapkan, tumbuh masyarakat Indonesia yang memiliki kesiapsiagaan terhadap bencana.

Sebagai informasi, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat selama kurun 2018 terdapat 2.572 kejadian bencana alam di Indonesia. Bencana tersebut mengakibatkan 4.814 jiwa meninggal dunia dan hilang, serta lebih dari 10 juta jiwa terdampak dan mengungsi.

Beberapa bencana alam besar yang terjadi pada 2018, antara lain gempa bumi Lombok, gempa bumi dan tsunami di Donggala, Palu dan tsunami di Selat Sunda. (Tri Wahyuni)