Kartini, Cara Mahasiswa STP Trisakti Lestarikan Budaya Indonesia

0

JAKARTA (Suara Karya): Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Trisakti kembali menggelar acara “Kartini” atau akronim dari kreasi ragam tari Indonesia. Acara tahunan ini merupakan salah satu upaya STP Trisakti dalam melestarikan budaya Indonesia.

“Kampus mendukung Kartini, karena siapa lagi yang melestarikan budaya Indonesia, kalau bukan kita,” kata Wakil Ketua II Bidang Umum dan Keuangan, STP Trisakti, Nurbaeti disela perhelatan “Kartini” di gedung pertunjukan Usmar Ismail Jakarta Selatan, Sabtu (29/6/2019) malam.

Nurbaeti menjelaskan, Kartini dilakukan sepenuhnya oleh mahasiswa. Ada sekitar 50 mahasiswa terlibat aktif dalam perhelatan ini, baik sebagai penari, pemain musik atau mereka yang sibuk di belakang layar. “Dari urusan nari sampai cari sponsor dilakukan oleh mahasiswa. Kerja mereka patut diacungi jempol,” ujarnya.

Panitia penyelenggara Kartini adalah UKM Tari Tradisional STP Trisakti. UKM tersebut merupakan 1 dari 20 UKM yang terbilang sangat aktif. Selain tampil di acara tahunan Kartini, mereka juga kerap unjuk kebolehan baik pada acara di dalam kampus maupun luar kampus.

“Mahasiswa yang tampil, biasanya masih kuliah semester 5 kebawah. Karena masa kuliah mereka belum sibuk dengan urusan magang dan ujian akhir,” tutur Nurbaeti.

Kasubag Humas dan Sekretariat, Triana Rosalina Dewi menambahkan, pertunjukan “Kartini” sebenarnya bukan hal baru. Seni tersebut telah dirintis sejak 2014 lalu. Kegiatan dilaksanakan setiap tahun sekali, karena setiap tahun UKM Tari Tradisional memiliki anggota baru dan ingin mempertunjukan hasil latihan mereka.

“Di kampus STP Trisakti, saat penerimaan mahasiswa baru, pengurus UKM akan presentasi tentang kegiatan masing-masing. Mahasiswa harus memilih 1 atau lebih UKM sebagai bagian dari kegiatan ekstrakulikuler,” kata Dewi.

Sementara itu Ketua UKM Tari Tradisional, Dinda Julieva menuturkan, Kartini 2019 menampilkan 6 tarian tradisional Indonesia yang berasal dari Bali, Betawi, Maluku, Minangkabau, Jawa Timur dan Aceh. Proses latihan dilakukan rutin selama 3 bulan.

“Mahasiswa yang tampil malam ini adalah angkatan saya, 2018. Satu penari boleh tampil lebih dari satu tarian, yang diatur waktunya agar tidak mengganggu aliran acara. Jadi, jangan kaget jika melihat ada muka yang mirip dalam setiap tarian,” kata Dinda sambil tertawa kecil.

Ditanya soal pertunjukan musik tradisiobal hidup yang mengiringi setiap tarian dalam Kartini, Dinda mengatakan, mereka dibantu UKM musik tradisional dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Karena STP Trisakti tidak memiliki UKM musik tradisional.

“Semoga kolaborasi ini bisa berlangsung lama. Karena saya melihat chemistry sudah terbangun antara dua kampus,” katanya.

Dinda yang mengaku kagum dengan permainan musik tradisional UKM musik UNJ. Karena dapat mengisi kekosongan panggung dengan lagu-lagu tradisional bernada ceria saat para penari berganti kostum di belakang layar. “Kemampuan bermusik mereka memang mumpuni,” kata Dinda menandaskan. (Tri Wahyuni)