Kasus DBD Kian Merebak, Belum 3 Bulan Sudah 17.820 Kasus

0

JAKARTA (Suara Karya): Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) terus merebak di Tanah Air. Kementerian Kesehatan (Kemkes) mencatat, dalam 2,1 bulan terakhir ini ada 17.820 kasus DBD yang dilaporkan. Dari jumlah itu, korban meninggal sebanyak 104 orang.

“Penyumbang kasus DBD terbesar adalah provinsi Lampung dengan 2.663 kasus. Tetapi di tingkat Kabupaten/kota, kasus terbesar ada di Sikka, Nusa Tenggara Timur dengan 1.216 kasus,” kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik, Kemkes, Siti Nadia Tarmizi di Jakarta, Rabu (11/3/20).

Siti Nadia menjelaskan, semua daerah di Indonesia sebenarnya memiliki risiko yang sama untuk terkena kasus DBD, karena kondisi alam yang sama. Yang membedakan adalah tingkat kepedulian masyarajat atas lingkungan dan daya tahan tubuh.

“Faktor penyebab DBD sejak dulu hingga kini tak berubah, yaitu gigitan nyamuk aedes aegypti. Karena itu, jika kita tidak memutus mata rantai pertumbuhan nyamuk aedes aegypti, maka kasus DBD seperti ini akan terjadi setiap tahun,” katanya.

Faktor lain yang tak kalah penting, Siti Nadia menambahkan, bagaimana meningkatkan daya tahan tubuh masyarakatnya. Sehingga mereka tak mudah terkena penyakit yang berkembang di lingkungan sekitar.

Terkait kasus DBD yang kian merebak di NTT, Siti Nadia berpendapat, hal itu karena kebiasaan masyarakat yang suka menimbun air dalam bak-bak penampungan akibat minimnya curah hujan di NTT. “Penampungan air jika tidak dikuras akan jadi tempat perindukan nyamuk. Mengingat nyamuk aedes aegypti justru berkembang biak di air bersih,” ujarnya.

Penyebab lain adalah pengendalian penampungan sampah yang belum optimal. Banyak sampah bekas botol, kemasan atau hanya potongan sedikit yang tergeletak, kemudian jadi tempat indukan nyamuk. “Wilayah NTT juga memiliki banyak semak yang menjadi tempat kesukaan bagi nyamuk aedes aegypti,” ujarnya.

Soal tingginya angka kematian akibat DBD di NTT, Siti Nadia menjelaskan, karena keterbatasan fasilitas kesehatan di wilayah tersebut dan penderita terlambat ditangani petugas kesehatan.

“Merebaknya kasus DBD di wilayah itu, terutama di Kabupaten Sikka, membuat fasilitas kesehatan penuh. Ditambah lagi, rata-ratq penderita DBD baru dibawa berobat sudah dalam kondisi kritis, sehingga terlambat ditangani,” tuturnya.

Tahun lalu, NTT juga memiliki kasus DBD terbanyak. Namun wilayah terbanyak ada di kota Kupang dan Labuan Bajo. “Pada 2019 lalu, angka DBD di NTT hanya 580 kasus dengan angka kematian 17 orang. Sekarang, baru dua bulan lebih masuk 2020 sudah ada 1.216 kasus dengan korban meninggal sebanyak 104 orang,” ujarnya.

Siti Nadia juga menyayangkan kasus DBD yang merebak di 6 kabupaten/kota di wilayah tersebut. Perlu perhatian penuh dari pemerintah pusat dan daerah untuk menekan kasus DBD di wilayah tersebut agar tidak semakin meluas.

Disebutkan enam wilayah yang perlu mendapat perhatian dari pemerintah di provinsi Lampung, yaitu Kabupaten Lampung Tengah (664 kasus), Pringsewu (591), Lampung Tengah (490), Lampung Timur (378), Lampung Utara (270) dan Kota Bandar Lampung (270).

Provinsi lainnya, kata Siti Nadia, adalah Kota Belitung (256 kasus), Kabupaten Bandung (218) dan Malang (218). Sedangkan Jakarta berada di peringkat ke-9.

“Usia korban meninggal terbesar pada rentang usia 5-14 tahun atau 45 persen. Pada rentant usia 15-44 tahun ada sebanyak 37 persen,” katanya. (Tri Wahyuni)