KBPL Sempurnakan Kamus Dwibahasa Lampung-Indonesia

0

JAKARTA (Suara Karya): Kantor Bahasa Provinsi Lampung (KBPL) tengah melakukan inventarisasi data kosakata untuk pemutakhiran kamus dwibahasa Lampung-Indonesia. Kamus terbitan tahun 2009 itu memuat lebih dari 4.500 lema bahasa Lampung, kombinasi antara dialek A dan dialek O.

Kepala KBPL, Eva Krisna menjelaskan, proses inventarisasi data kosakata dilakukan tim dengan cara wawancara langsung dengan penutur asli yang tersebar di berbagai daerah di Provinsi Lampung. Hasilnya kemudian diverifikasi melalui lokakarya bertajuk ‘Hasil Inventarisasi Kosakata Bahasa Daerah’.

“Meskipun masih jauh panggang dari api, pada 2020 lalu, KBPL berhasil merampungkan proses revisi, antara lain, menyempurnakan definisi, mencantumkan kelas kata, memperbaiki contoh kalimat, menyinkronkan penulisan kata dengan lafal tertentu, seperti puakhi dan puaghi yang kami tulis puari, serta menambahkan lema dan sublema.

“Kamus tersebut telah kami buat dalam bentuk digital, agar makin banyak orang yang bisa memanfaatkan kamus tersebut. Kamus tersebut ada di laman Kantor Bahasa Provinsi Lampung serta dalam versi aplikasi yang bisa diunduh oleh pengguna android,” ujarnya.

Ditambahkan, Kamus digital tersebut telah diluncurkan pada Februari 2021 lalu. Acara tersebut menampilkan sesi Bedah Kamus Lampung-Indonesia, dengan narasumber dari Majelis Penyimbang Adat Lampung, yakni Nasrun Rakai dan Darmansyah.

“Kedua narasumber itu sangat memahami seluk-beluk kosakata bahasa Lampung. Sebagian hasil penelitian mereka masuk dalam Kamus Lampung-Indonesia,” tuturnya.

Pembuatan kamus dwibahasa Lampung-Indonesia dilakukan, menurut Eva, sebagai upaya pencegahan atas kepunahan bahasa daerah Lampung. Apalagi, bahasa daerah tersebut kini mulai kehilangan penuturnya.

Kegiatan prioritas lainnya di KBPL adalah Konservasi sastra Lampung, berupa penelitian pemetaan dan kajian vitalitas sastra di 5 kabupaten yang ada di Provinsi Lampung.

“Hasil analisis mengidentifikasikan genre sastra puisi banyak tumbuh dan berkembang di wilayah ini. Sementara karya sastra lisan yang bergenre prosa tidak ditemukan,” ujarnya.

Secara umum diketahui, jenis sastra lisan bergenre puisi yang ada dan berkembang di Tulangbawang Barat, antara lain, syair, pepatcur, pantun/berbalas pantun, marou/paradinei, ngediyou/bahasa sindiran, dan bebandung/pantun bersaut.

Menurut Eva, jumlah penutur sastra lisan bebandung saat ini jumlahnya semakin menurun. Untuk itu, upaya pelestarian dilakukan dengan membentuk sanggar seni yang para pegiatnya diinisiasi oleh para tokoh adat. Selain itu, sastra lisan tersebut diajarkan di aekolah, yang terintegrasi dalam mata ajar mulok (muatan lokal) bahasa Lampung.

Hasil analisis juga menunjukkan, Masyarakat Lampung masih kuat dalam memegang adat budaya, terutama dalam upacara penting seperti pernikahan, kelahiran anak dan pemberian gelar. Para tokoh adat pun masih berkomunikasi untuk terus memajukan adat dan budaya yang berlaku.

Namun demikian, lanjut Eva, penutur sastra lisan yang berasal dari generasi muda tergolong cukup sedikit. Hal tersebut menjadi kekhawatiran orang-orang tua yang masih menggeluti sastra lisan.

“Pernah ada upaya untuk mengajari generasi muda, hanya saja hal itu terhalang kesibukan dan mitos bahwa kemampuan itu tidak hanya diperoleh dari proses belajar, tapi ada daya magis yang membantu prosesnya,” kata Eva menandaskan. (Tri Wahyuni)