KBRI Tokyo Kenalkan Kampus Merdeka dan Promosi Budaya di Keio University

0

JAKARTA (Suara Karya): Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tokyo, Jepang melakukan safari diplomasi pendidikan dan kebudayaan ke berbagai perguruan tinggi di Jepang melalui program ‘Ambassador Goes To Campus’ (AGTC).

Lawatan pertama ke Keio University, perguruan tinggi dengan peringkat 300 dunia menurut QS 2022 Ranking. Perguruan tinggi itu akan dipinang sebagai mitra Program Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA), yang digulirkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek).

Delegasi pertama Program AGTC di Keio University adalah Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Tokyo, Yusli Wardiatno bersama Sekretaris II Fungsi Penerangan, Sosial, dan Budaya (Pensosbud), Jurman Saputra Nazar memperkenalkan konsep Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dan Program IISMA.

Pertemuan itu dihadiri Wakil Rektor Bidang Kerja Sama Internasional dan Informasi Teknologi, Motohiro Tsuchiya dan Kepala Kantor Kerja Sama Internasional, Tomo Sato.

“Kami harap lewat kunjungan ini akan lebih banyak perguruan tinggi di negeri Sakura yang mau menjadi mitra Kemdikbudristek. Kita ketahui, Jepang sangat maju dalam pengembangan keilmuan di perguruan tinggi,” ujar Yusli.

Dengan demikian, makin banyak mahasiswa S1 Indonesia yang belajar di Jepang untuk meningkatkan kompetensi baik ‘soft skills’ maupun ‘hard skills’. Mereka akan menjadi lulusan yang siap memimpin masa depan Indonesia.

Motohiro Tsuchiya menyatakan kekagumannya atas konsep MBKM. Untuk itu, Keio University berminat menjadi mitra Kemdikbudristek, dengan menjadi perguruan tinggi tujuan Program IISMA 2023.

“Program MBKM ini sangat menarik. Jepang seharusnya belajar konsep ini dari Indonesia. Kami juga ingin mengirim mahasiswa Keio University untuk belajar di perguruan tinggi di Indonesia. Semoga ada beasiswa khusus dari Pemerintah Indonesia,” ucap Tsuchiya.

Sebagai delegasi kedua pada program AGTC di kampus Shonan Fujisawa, Keio University, Duta Besar Republik Indonesia untuk Jepang, Heri Akhmadi melakukan diskusi dengan Dekan Fakultas Lingkungan dan Kajian Informasi, Fumitishi Kato.

Heri memberi kuliah umum dalam Bahasa Indonesia dengan tema ‘Indonesia-Japan: A Shared Future and History’ di hadapan 60 mahasiswa Jepang yang mengambil mata pelajaran Bahasa Indonesia. Keio University merupakan universitas tertua di Jepang dan memiliki mata kuliah Bahasa Indonesia, dengan pengampunya Petrus Ari Santoso.

“Program AGTC dengan format kuliah umum dan promosi serta workshop budaya ini akan menjadi template dalam program KBRI Tokyo di berbagai universitas yang masuk QS Ranking 300 besar,” ucap Heri Akhmadi.

Ditambahkan, lewat kombinasi diplomasi pendidikan dan budaya, diharapkan ada peningkatan dalam ‘people-to-people contact’ yang semakin menguatkan hubungan Indonesia dan Jepang saat ini dan di masa depan.

Selain kuliah umum, delegasi KBRI Tokyo juga melakukan promosi budaya Indonesia dengan suguhan berbagai tarian tradisional berupa tari Puspanjali Bali dan tari Piring Sumatera Barat. Mahasiswa Keio pun ikut serta menyuguhkan tari Ondel-ondel asal Betawi dan pencak silat oleh atlit nasional Jepang Daisuke Aso.

Kemeriahan promosi budaya membuncah ketika mahasiswa Jepang diminta maju ke depan kelas untuk belajar Tari Piring oleh diaspora Indonesia pegiat budaya, Tini Kodrat. Di akhir kunjungan, delegasi KBRI diajak berfoto bersama di depan patung Fukuzawa Yukichi, pendiri Keio University di tahun 1858. (Tri Wahyuni)