Kebutuhan Es Batangan untuk Nelayan di Lhokseumawe Meningkat

0
Ilustrasi - Nelayan memuat es batu ke kapal untuk kebutuhan melaut di Pelabuhan Pendaratan Ikan Ulee Lheu, Banda Aceh, Aceh, Rabu (20/2/2019). Nelayan di sebagian pesisir di provinsi Aceh mengeluhkan minimnya ketersediaan es balok, yang merupakan bahan baku utama untuk menjaga kesegaran ikan hasil tangkapan. ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/foc. (Antara Foto)

LHOKSEUMAWE, ACEH (Suara Karya): Kebutuhan es batangan untuk aktivitas melaut nelayan di Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh, meningkat selama Februari 2019 dibandingkan dengan Januari karena tingginya aktivitas melaut yang dilakukan nelayan setempat.

Kepala UPT PPI Pusong Lhokseumawe, Asmadi di Lhokseumawe, Senin, mengatakan data yang dikumpulkan oleh Unit Pelayanan Teknis (UPT) Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Pusong, Lhokseumawe, menunjukkan bahwa kebutuhan es pada Februari meningkat dibandingkan Januari, yakni sebanyak 825.900 kilogram, sedangkan pada Januari hanya 730.710 Kilogram.

“Kebutuhan es batangan tinggi apabila sedang musim ikan tertentu. Karena banyaknya tangkapan maka perlu es untuk mengawetkan ikan agar bertahan lama selama melaut,” ujarnya.

Ia mengatakan, harga es batangan di Lhokseumawe bervariasi, mulai dari Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per batang. Kebutuhan es batangan dipasok dari beberapa pabrik es di Kota Lhokseumawe.

Sementara itu, data UPT PPI Pusong juga menyebutkan, tangkapan berbagai jenis ikan setiap hari pada Februari juga meningkat dibandingkan pada Januari.

“Setiap hari jumlah tangkapan ikan dalam kurun waktu sebulan terakhir meningkat dari sebelumnya. Sekarang hasil tangkapan ikan nelayan setiap hari 19.418 kilogram, sedangkan sebelumnya hanya 14.168 kilogram,” katanya. (Bobby MZ)