Kedaireka Bisa jadi Solusi bagi Industri Lepas dari Lisensi Asing

0

JAKARTA (Suara Karya): Kedaireka, ruang digital yang mempertemukan peneliti dengan pemilik modal digarap serius oleh pemerintah. Karena, upaya itu diyakini dapat mengurangi ketergantungan industri dalam negeri atas lisensi asing.

“Saat ini masih banyak industri yang tergantung dari lisensi asing. Padahal, kita punya banyak hasil penelitian yang bernilai ekonomi,” kata Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemdikbud, Nizam dalam diskusi bertajuk “Ekosistem Reka Cipta Kolaborasi Perguruan Tinggi dan Industri” yang digelar di Bandung, pekan lalu.

Dengan adanya Kedaireka, lanjut Nizam, hasil penelitian di perguruan tinggi akan dimanfaatkan pihak industri. Dengan demikian, industri dalam negeri dapat berkembang tanpa perlu membeli lisensi asing yang biasanya berharga mahal.

“Perguruan Tinggi akan menjadi tulang punggung dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penelitian itu kemudian dimanfaatkan industri, yang dampaknya pada kemajuan ekonomi. Selain membangun kedaulatan teknologi di Indonesia,” ujarnya.

Nizam mengingatkan para pihak yang terlibat dalam pengembangan ekosistem reka cipta. Ekosistem tersebut tak akan berkembang jika hanya mencakup dua pihak saja, yakni perguruan tinggi dan industri. Sinergi itu baru optimal jika melibatkan pihak lain seperti pemerintah, masyarakat dan media.

“Kedaireka nantinya akan menjadi etalase bagi perguruan tinggi untuk menawarkan berbagai reka cipta ke industri sebagai pilihan solusi untuk setiap masalah yang ada di Industri,” ucapnya.

Karena, menurut Nizam, era revolusi digital 4.0 saat ini membawa berbagai tantangan, seperti revolusi industri yang memaksa masyarakat untuk mengubah kreatifitas dan produksi yang berubah secara drastis.

“Di era revolusi 4.0 banyak pekerjaan yang di ambil alih mesin, robot, komputer dan produk digital lainnya. Ada sejumlah pekerjaan yang hilang, namun pekerjaan berbasis digital pun bermunculan,” katanya.

Dampak dari revolusi digital adalah banyak pekerjaan tergantikan oleh automasi. McKinsey menganalisa, ada 23 juta pekerjaan hilang tergantikan oleh aoutomasi, digital analitics, robotika dan lain sebagainya.

“Potensi lahirnya pekerjaan baru jauh lebih banyak dari pekerjaan yang hilang, yaitu 27 juta hingga 46 juta pekerjaan baru tercipta dari revolusi digital 4.0,” ujar Nizam.

Karena itu, Nizam mengingatkan pentingnya membawa lulusan perguruan tinggi untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru dengan memanfaatkan revolusi industri. Lompatan besar itu akan membangun negara dengan kemajuan ekonomi, teknologi dan industri di masa depan. (Tri Wahyuni)