Keikutsertaan Indonesia di LBF 2019 Bagian dari Diplomasi Budaya

0
Foto: Suarakarya.co.id/Tri Wahyuni

JAKARTA (Suara Karya): Keikutsertaan Indonesia dalam London Book Fair (LBF) hendaknya dipandang sebagai bagian dari diplomasi budaya, tak sekadar kepentingan bisnis. Yakni, mengenalkan literatur Indonesia di mata dunia.

“London Book Fair ini sama bergengsinya dengan Frankfurt Book Fair. Karena diikuti lebih dari 25 ribu peserta dari 135 negara,” kata Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Hilmar Farid dalam jumpa pers, di Jakarta, Selasa (5/2/2019).

Hadir dalam kesempatan itu Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Triawan Munaf, Duta Besar Kerajaan Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste, Moazzam Malik, Country Director of the British Council Indonesia, Paul Smith dan Ketua Panitia Pelaksana Indonesia Market Focus untuk LBF 2019, Laura Prinsloo.

London Book Fair 2019 akan berlangsung di Olympia, Kensington, London pada 12-14 Maret mendatang. Paviliun Indonesia akan hadir di pameran buku terbesar ke-2 di dunia itu dengan tema “17,000 Islands of Imagination”.

Hilmar menambahkan, diplomasi budaya selama ini diperkenalkan hanya pada kegiatan kesenian dan budaya. Padahal, karya intelektual dalam bentuk literatur pun masuk dalam kebudayaan. “Jika literatur kita banyak dikenal, hal itu akan memperkuat posisi Indonesia di mata dunia,” ujarnya.

Hal senada dikemukakan Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Triawan Munaf. Komitmen pemerintah dalam mendorong pengembangan usaha penerbitan dan berbagai sektor industri kreatif tak main-main. Usaha penerbitan, bahkan ada di urutan kelima dalam kontribusinya ke Produk Domestik Bruto (PDB).

“Usaha penerbitan menempati urutan kelima setelah kuliner (41,69 persen), fesyen (18,15 persen), kerajinan tangan (15,70 persen), dan televisi & radio/penyiaran (7,78 persen),” kata Triawan menambahkan.

Tak hanya menampilkan subsektor penerbitan, lanjut Triawan, pemerintah juga menghadirkan subsektor industri kreatif lain seperti kuliner, fesyen, film, seni pertunjukan, komik, eksibisi, arsitektur dan desain grafis, ilustrasi, boardgames dan animasi.

“Dari seluruh subsektor itu, panitia telah merancang total 120 acara yang tak berlangsung di lokasi acara, tetapi juga di berbagai lokasi di seluruh kota London,” ucapnya.

Untuk mendukung target penjualan hak cipta konten penerbitan di London Book Fair 2019 ini, salah satu program yang disusun oleh panitia dan British Council sebagai mitra London Book Fair adalah kehadiran 12 penulis Indonesia. Mereka akan menggelar acara yang bertujuan memperkenalkan kekayaan literasi Indonesia.

“Saya berharap literasi Indonesia bisa digemari dunia. Dengan demikian, minat asing berkunjung ke Indonesia semakin tinggi,” kata Triawan menandaskan.

Ketua Panitia Market Focus Country untuk LBF 2019, Laura Prinsloo mengatakan, pihaknya akan memamerkan 450 judul buku karya penulis Indonesia dari berbagai genre. Diharapkan, sebanyak 50 judul akan terjual hak terjemahannya.

“Target ini dikatakan muluk oleh banyak kalangan, karena pada LBF 2015 Indonesia tak berhasil satupun menjual hak terjemahan. Tetapi tahun ini beda. Karena Indonesia terpilih sebagai market focus country. Sehingga peluangnya menjadi lebih besar,” ucapnya.

Sementara itu Dubes Moazzam Malik mengatakan, terpilihnya Indonesia sebagai market focus country pada LBF 2019 merupakan bagian dari perayaan 70 tahun hubungan diplomatik antara Indonesia-Inggris. Diharapkan, hubungan kedua negara semakin erat lewat di masa mendatang.

“Indonesia memberi inspirasi tentang kekayaan budaya, potensi ekonomi, pluralisme dan demokrasi. London Book Fair adalah kesempatan paling pas untuk mempromosikan Indonesia di mata dunia,” kata Malik menandaskan. (Tri Wahyuni)