Kejar Kompetensi Global, 194 Dosen Vokasi Belajar ke Luar Negeri

0

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) memberangkatkan 194 dosen perguruan tinggi vokasi ke luar negeri. Mereka mengikuti program magang dan penguatan tata kelola perguruan tinggi unggul bereputasi global di luar negeri.

Direktur Kelembagaan dan Sumber Daya (KLSD) Pendidikan Tinggi Vokasi, Ditjen Pendidikan Vokasi, Kemdikbudristek, Henri Tambunan menjelaskan, keberangkatan dosen tersebut merupakan bagian dari 4 skema yang digulirkan bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), yaitu Program Pelatihan, Sertifikasi Kompetensi Internasional, dan Magang Bersertifikat.

“Mereka diharapkan dapat menjadi agen perubahan dan inovasi bagi perguruan tinggi asal, seiring makin berkembangnya industri berskala internasional,” ujar Henry saat melepas kloter pertama di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Sabtu (22/10/22).

Dosen vokasi dari PTN dan PTS itu akan mengikuti magang, pelatihan dan sertifikasi kompetensi di 13 perguruan tinggi dan industri yang ada di 4 negara asing, yaitu Inggris, Jerman, Amerika, dan Singapura.

“Mereka secara bergelombang akan mengikuti pelatihan, sertifikasi kompetensi, dan magang mulai Oktober hingga Desember 2022,” ujar Henri.

Untuk dapat mengikuti program itu, lanjut Henri, para dosen harus mengikuti seleksi yang ketat, yang melibatkan 48 orang ‘reviewer’ nasional. “Persaingan cukup ketat. Dari 646 pendaftar harus dipilih 194 orang,” katanya.

Disebutkan, 96 dosen akan dikirim ke 7 universitas dan industri berskala internasional di Inggris, yakni City of Glasgow College, Cardiff and Vale College, Coventry University, Strathclyde University, Neath Port Talbot College, Duco Digital, dan Oxford EMI Ltd.

Sementara 58 orang lainnya akan diberangkatkan ke Amerika, yaitu Rhode Island University dan Arizona State University. Dan 36 orang ke TU Dresden Institute, Jerman, dan 4 orang lagi ke SQI International Singapura.

Henri menjelaskan, program itu dibuat untuk menjawab tantangan dunia pendidikan, seiring tuntutan revolusi industri 4.0. Dosen pendidikan tinggi vokasi dituntut memiliki kompetensi, wawasan, dan pengetahuan terkait perkembangan industri berskala internasional.

Melalui perubahan dan inovasi itu, Henri berharap para dosen dapat membawa perguruan tingginya ke dalam ekosistem dan tata kelola perguruan tinggi vokasi yang baik menuju reputasi perguruan tinggi global, serta siap bersaing di kancah internasional.

Ditegaskan, program dibuat untuk membantu Pemerintah dalam menjawab tantangan dari hasil penelitian McKinsey Global Institute yang memprediksikan Indonesia pada 2030 akan menjadi negara dengan kekuatan ekonomi terbesar ke-7 di dunia.

“Ini tantangan yang cukup berat, mengingat peringkat daya saing global Indonesia saat ini masih berada di urutan ke-50 dari 141 negara dan menduduki peringkat ke-4 di ASEAN,” kata Henri menandaskan. (Tri Wahyuni)