Kejar Target Pasar Bebas Plastik, GIDKP Kini Gunakan Pendekatan Agama

0

JAKARTA (Suara Karya): Guna mengejar target pasar bebas plastik di Jakarta, Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) kini menggunakan pendekatan agama. Kolaborasi dilakukan dengan Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah.

“Menggunakan pendekatan agama sebagai solusi sebenarnya bukan hal baru. Kendati demikian, kami tetap menaruh harapan di sana,” kata Engagement and Insights Manager Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP), Zakiyus Shadicky dalam diskusi media, di Jakarta, Selasa (29/11/22).

Hadir dalam kesempatan itu, Kepala Bidang Peran Serta Masyarakat Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Edy Mulyanto, Technical Advisor for The Regional Programme GIZ, Barbara Goncalves dan perwakilan dari Perumda Pasar Jaya, Lasma Pujiarti.

Zaki menambahkan, kerja sama GIDKP sebelumnya dilakukan dengan Pemerintah Provinsi DKI yang bertujuan menjadikan pasar di Jakarta bebas plastik. Uji coba dilakukan di Pasar Tebet Barat, Jakarta Selatan.

“Hasil uji coba selama 2019-2021 menunjukkan ada perubahan perilaku di kalangan pedagang, dimana penggunaan kantong plastik berukuran kecil dan besar di pasar itu sebesar 6 persen dan 11 persen. Hasilnya belum optimal, karena terbentur pandemi covid-19 yang membuat program sempat vakum,” ujarnya.

Belajar dari pengalaman itu, lanjut Zaki, GDIKP mengubah pendekatan yang tidak saja melibatkan pedagang dan konsumen, tetapi juga masyarakat sekitar melalui kegiatan agama.

“Ilmuwan asal Columbia University, Gus Speth mengatakan, masalah lingkungan terjadi karena keegoisan, keserakahan, dan sikap apatis. Untuk mengatasinya, kita butuh transformasi budaya dan spiritual,” ujarnya.

Zaki menambahkan, kolaborasi dilakukan antara GIDKP, LLHPB PP ‘Aisyiyah dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Program tersebut mendapat dukungan organisasi lingkungan asal Jerman GIZ (Gesselschaft fur International Zusammenarbeit).

Program perubahan perilaku pada program Pasar Bebas Plastik menggunakan ini pendekatan agama Islam karena menyesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat sekitar Pasar Tebet Barat.

“Karena penduduk Indonesia mayoritas Muslim, kerja sama dengan LLHPB PP ‘Aisyiyah sangat tepat karena mereka bagian dari organisasi Islam terbesar di Indonesia, yaitu Muhammadiyah,” ujarnya.

Hal senada dikemukakan Koordinator Nasional GIDKP, Rahyang Nusantara. “Jika masalah kerusakan iklim tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan sains, maka kita harus menggunakan spiritualitas atau pendekatan agama untuk mencari solusinya,” katanya.

Hal itu dibenarkan Ketua Divisi Lingkungan Hidup LLHPB PP Aisyiyah, Hening Parlan. Karena dalam Islam diajarkan bahwa kebersihan merupakan sebagian dari iman.

“Jadi, ketika penggunaan plastik sekali pakai yang berujung mengotori bumi, maka kita bisa katakan tindakan itu sebagai bagian dari kaum yang tidak beriman,” ucap Hening.

Selain itu, konsumen dan pedagang di Pasar Tebet Barat juga aktif dalam kajian di masjid dekat Pasar Tebet Barat. “Jadi, kolaborasi ini benar-benar tepat untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya plastik sekali pakai dalam sudut pandang keagamaan,” tutur Hening.

Ditambahkan, selama hampir 10 bulan berlangsung, program tersebut sudah melakukan berbagai kegiatan yang melibatkan pedagang, konsumen, dan masyarakat di sekitar Pasar Tebet Barat.

Beberapa kegiatan baru, antara lain, berupa pengadaan dropbox peminjaman kantong belanja untuk konsumen dan aktivitas bersama DKM Pasar Tebet Barat, seperti tafsir Al Qur’an, pembagian risalah Jum’at, khutbah Jum’at, dan sebagainya.

“Dampak atas pendekatan itu luar biasa. Uji coba pertama menunjukkan adanya penurunan penggunaan plastik sekali pakai di kalangan pedagang hingga 57 persen. Tahun ini ada tambahan penurunan jumlah kios sekitar hingga 17 persen yang juga berdampak pada penurunan jumlah kantong plastik,” tutur Hening.

Selain itu, pedagang juga menunjukkan sikap dan motivasi yang tergolong tinggi dalam mengurangi plastik sekali pakai. Hal ini terjadi pada seluruh aspek, mulai dari alasan perbaikan lingkungan, dan petunjuk dari ustadz atau guru agama. (Tri Wahyuni)