Kekeringan di Lebak Tidak Pengaruhi Pasokan Pangan

0

LEBAK (Suara Karya): Kepala Bidang Distribusi dan Pemanfaatan Pangan Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Lebak, Dani Hendarman mengatakan kekeringan yang terjadi saat ini belum mempengaruhi pasokan pangan di daerah ini.

“Kita menjamin persediaan pangan relatif aman dan mencukupi kebutuhan masyarakat hingga 2020,” kata Dani saat dihubungi di Lebak, Selasa.

Meski areal persawahan di Kabupaten Lebak mengalami kekeringan akibat kemarau yang menyebabkan debit air irigasi menyusut, namun, ujar dia, produksi pangan masih tetap surplus.

Produksi pangan surplus sehingga pasokan beras ke sejumlah pasar tradisional berjalan lancar, tambahnya.

Kekeringan areal persawahan yang terjadi di Kecamatan Malingping, Wanasalam, Maja dan Cihara, ia memastikan tidak menjadikan gagal panen.

Berdasarkan data dari Distanbun Lebak Juni 2019 tercatat 25.000 hektare tanaman padi akan dipanen hingga awal September mendatang.

“Kita menjamin produksi beras mencukupi kebutuhan pangan hingga 2020,” katanya.

Ia mengapresiasi produksi beras sepanjang 2018 menembus 320.841 ton sehingga persediaan pangan melimpah dan mencukupi untuk warga Kabupaten Lebak yang berpenduduk 1,2 juta jiwa itu.

Konsumsi beras warga Lebak sekitar 11.977 ton per bulan atau 143.724 ton per tahun dengan rata-rata konsumsi per kapita sebanyak 134 kilogram.

Karena itu, produksi beras di Lebak surplus di atas 100 ribu ton dan aman hingga 17 bulan ke depan.

“Kami menjamin harga beras stabil dan tidak mengalami kenaikan kendatipun dilanda kekeringan,” katanya menjelaskan.

Kepala Seksi Perlindungan Tanaman Distanbun Kabupaten Lebak Itan Octarianto menyatakan jumlah areal persawahan yang mengalami kekeringan tercatat 1.243 hektare tersebar dengan usia tanam antara mulai 30 sampai 50 hari setelah tanam (HST).

Penyebab kekeringan itu, di antaranya debit jaringan irigasi menurun akibat cuaca kemarau juga adanya perbaikan irigasi di Kecamatan Wanasalam.

Selain itu juga persawahan yang tidak memiliki infrastuktur irigasi, sehingga masuk kategori sawah tadah hujan.

“Kami memfokuskan penyelamatan tanaman padi agar tidak mengalami gagal panen melalui penyaluran pompanisasi,” katanya. (Wisnu)