Keluarga Ahli Waris Segera Restrukturisasi Kepengurusan BANI

0

JAKARTA (Suara Karya) Keluarga ahli waris Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) segera melakukan restrukturisasi kepengurusan. Hal ini dipastikan, setelah Mahkamah Agung (MA) menolak permohonan banding kelompok BANI Mampang, yang dipimpin oleh Husseyn Umar dan Krisnawenda.

Arman Sidharta Tjitrosoebono, yang juga merupakan salah satu keluarga ahli waris BANI mengatakan, pihaknya akan segera melakukan restrukturisasi kepengurusan.

“Ini harus segera dilakukan, agar kita bisa terus membantu permasalahan arbiter-arbiter yang telah mempercayakan penyelesaian permasalahannya kepada BANI,” kata Arman kepada wartawan di Jakarta, Kamis (28/11/2019).

Dikatakan Arman, bersama dengan pengurus BANI Sovereign dirinya akan menggelar pertemuan besar dengan seluruh pengurus BANI, baik dari Mampang maupun Sovereign.

“Mungkin bentuknya seperti musyawarah nasional (Munas) untuk membentuk kepengurusan baru, yang di dalamnya ada dewan pengawas, pengurus dan anggota,” kata Arman.

Sekedar diketahui, k eluarga ahli waris BANI resmi memenangkan persengketaan dari kelompok BANI Mampang. Hal ini dipastikan setelah Mahkamah Agung (MA) menolak permohonan banding kelompok BANI Mampang, yang dipimpin oleh Husseyn Umar dan Krisnawenda.

Kuasa hukum para ahli waris BANI Sovereign, Anita D. A Kolopaking, mengatakan, persengketaan antara para ahli waris pendiri BANI dari Keluarga Harjono Tjitrosoebono dan Priyatna Abdurrasyid dengan pengurus BANI Mampang yang dipimpin Husseyn Umar dan Krisnawenda telah berakhir pada kemenangan kubu ahli waris pendiri BANI.

“Putusan Kasasi pada tanggal 29 Oktober 2019 menolak permohonan banding Kubu Husseyn Umar dkk. Dalam putusan Kasasi MA juga memutuskan menguatkan putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta yang sebelumnya telah menguatkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dalam perkara nomor 674/Pdt.G/2016/PN Jkt.Sel,” katanya.

Dalam putusan Kasasi tersebut, Hakim MA memutuskan mengabulkan gugatan para penggugat yakni para ahli waris pendiri BANI, menyatakan para tergugat yakni Husseyn Umar dkk telah melakukan perbuatan melawan hukum terhadap para penggugat.

Selain itu, menyatakan kepengurusan para tergugat di BANI tidak sah dan tidak memiliki kedudukan hukum, menyatakan sebanyak enam nama selaku pendiri BANI.

Berkaitan para pendiri telah meninggal dunia, maka peranannya akan diteruskan oleh ahli waris. Ahli waris yang dimaksud ialah Arman Sidharta Tjitrosoebono, Arno Gautama Harjono, Arya Paramite, Nurul Mayafaiza Permita Leila, Sariswati Permata Vitri, Mounti Rigveda Putra dan Dewi Saraswati Permata Suri.

Selanjutnya, Hakim MA juga memutuskan menghukum para tergugat untuk menyerahkan BANI kepada para penggugat selaku ahli waris beserta menyerahkan unit perkantoran milik BANI yang terletak di Menara 165 Unit D Lantai 8 di Jalan TB Simatupang Kav 1, Cilandak Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan beserta isinya.

“Kubu Husseyn Umar, wajib menaati dan menghormati putusan nomor 674 yang telah inkracht. Apabila Husseyn Umar dkk tetap menjalankan fungsi kepengurusan di BANI, maka tindakan tersebut dapat diancam delik pidana,” jelas Anita.

Dengan demikian, pihak ahli waris pendiri BANI meminta kubu Husseyn Umar dkk untuk bersikap kooperatif dalam proses penyerahan asset BANI kepada para ahli waris tanpa adanya upaya paksa atau eksekusi. (Indra DH)